Masalah Persib Adalah Masalah Sosial Bagi Bobotoh

Pita Pink

Langsung saja, Persib kini menjadi ‘Masalah Sosial’ bagi bobotoh sa alam dunya. Rek eta dunia nyata, komo dunya maya mah geus jadi bahan olok-olokan sapopoe. Suatu masalah dikatakan masalah adalah ketika apa yang kita inginkan (das Sollen) berbeda dengan realita yang terjadi, yang nyata (das Sein). Gareth Bale berharap supaya bisa satu tim jeung Lord Atep, tapi kenyataannya malah balad jeung Ronaldo. Eta ngaranna masalah.

Ekspektasi bobotoh mendambakan Persib tahun sekarang menjadi Persib yang jago, bisa menyamai prestasi 2014 jadi juara atau bahkan bisa melebihi. Karena purulukan pemain bintang 5 di tubuh Persib, juga karena Persib nu duitna panglobana di Liga Indonesia. Nyatanya? Tingali weh di klasemen. Boboraah aya di luhur klasemen, diluhureun klub medioker macam PS TNI jeung Bhayangkara ge henteu. Kecuali mun tabel klasemenna dibalikkeun, maka anda akan ningali Persib di 5 besar.

Mengapa harus masalah sosial? Bukan personal misalkan?

Karena eh karena, jika dilihat ‘secara personal’ di Persib sabenerna sangat tidak mungkin menimbulkan permasalahan. Sebagai personal misal, Persib mempunyai pemimpin, yakni Bapak Glen Sugita. Sebagai atuh beliau mah yang menyelamatkan Persib yang kala itu hampir jatuh miskin lalu membawa Persib jadi yang terkaya. Di bawah pimpinan Pak Glen loba pisan sponsor  nu daek join jeung Persib nepi ka  pinuh eta jersey balap walaupun eta sponsor nya sponsor manehanna sorangan. Nu terbaru nepi ka liga-liga na ge bisa diambil alih ku Pak Glen ieu.

Lalu manajer tim Uwak Haji Umuh, sebagai personal di Persib jasa Uwak jangan ditanyakan lagi perannya. Lebih baik ayeuna yang perlu ditanyakan mah mau dibawa kemana hubungan kita? Piraku aku kudu nunggu restu orang tua kamu yang sampai saat ini masih belum cair keneh. Gelontoran bonus dari kocek pribadi Uwak, nalangan gaji, minuhan bench, sampai kini menjadikan Persib ‘Golden Era’ itu teh ada banyak sumbangsih dari Uwak.

Di jajaran pelatih, tangan dingin Djanur terbukti mampu meraih beberapa trofi juara walaupun awalna sempet diragukan. Nu paling edan tentu memutus puasa gelar 19 taun dengan bawa Persib juara Liga Super Indonesia 2014. CV Pak Djadjang ge enggak bisa dianggap remeh; lisensi A AFC, pernah mencicipi kursus pelatihan di Italia. Eta mun dipake ngalamar awewe, dijamin ku kolotna ditawaran rek dahar naon? Pizza? Burger? Batagor?

Kurang naon coba Djanur? Kurang bebas ngalatihna. Hehehe.

Bicara pemain lebih mengkilat deui. Persib memiliki pemain sekelas Essien jow! Eks bintang Lyon, Chelsea, Madrid jeung Milan. Pemain nu pernah main bareng Ronaldo, Kaka, Lampard, Terry, Torres. Striker? Gelo atuh, eks Chelsea dan lejen West Ham diboyong ke kota kembang, si ‘Sex & Drug’ tea ningan alias Carlton Cole. Pemain yang digadang-gadang jadi jam gadang penyerang tajam timnas Inggris, hanyakal teu jadi. Pemain lokal pun demikian, siapa atuh yang enggak kenal dan gak mau maen bareng sama Lord Atep dan Jasuk? Can deui beberapa pemaen dengan label timnas masih aya di skuat Persib. Bener-bener ngajieun serab batur.~

Jadi, teu mungkin secara personal mah dari jajaran manajemen hingga pemain ada masalah. Maka masalah kiwari adalah masalah sosial. Yang secara definisi masalah sudah diurai di luhur dan sosial di sini adalah sosial di tubuh Persib. Artinya elemen satu dan lainnya saling bertubrukan, bermasalah hingga menyebabkan harapan di awal menjadi sukar terwujud sekarang. Tidak ada harmonisasi di tubuh Persib sendiri.

Masalah sosial juga karena kondisi Persib ini menganggu kenyamanan kita sebagai bobotoh. Kita yang ada di dalam ‘lingkaran Persib’ jadi kabawa KZL jeung GMZ ku kalakuan Persib ayeuna. Baik dari segi permainan nu geus arapal sorangan jiga kumaha hingga teknis masalah pernontonan di stadion. Entah eta calo, tiket nu mahal jeung jol naek wae, member nu teu bisa meuli tiket, nepi nu teu boga tiket ge bisa enjoy asup. Jir loba kieu masalahna. L

Solusi? Tentu ada. Tergantung mau yang kecil atau mau yang gede. Yang kecil mah 500-an, nu gede 5000-an. Mun meuli di Cibadak bisa lebih murah deui. Ngan wayahna weh mun ti Antapani mah jauh.

Di kutip dari Buku Jalaluddin Rakhmat yang berjudul ‘Rekayasa Sosial Reformasi atau Revolusi’ memberikan solusi untuk permasalahan sosial. Yakni dengan: Rekayasa Sosial.

Lebih lengkapna silahkan baca buku Beliau. Bisa beli ti toko buku, bisa minjem ka kami. Tapi nu nginjem ka kami mah kudu awewe. Titik. Bagaimana rekayasa sosial diterapkan., setidaknya ada empat unsur utama yang menjadi sumber perubahan. Nyaeta gagasan (ideas), tokoh-tokoh besar (heroes and heroes worship), gerakan-gerakan sosial dan revolusi.

Pertama gagasan; gagasan untuk menjadikan Persib kini sebagai tim ‘Golden Era’ sabenerna alus, tapi malah bagai pisau bermata dua, kini julukan itu menusuk Persib sendiri. Perlu gagasan-gagasan segar, yang sebenernya sudah dilakukan bobotoh dengan berbagai analisa. Dengan mengirim tulisan ka arena bobotoh Simamaung, atau media media lainna, eta sebenerna contoh dari memberikan gagasan. Atau misal ngajieun postingan di medsos ge termasuk. Tapi ide itu haruslah logis dan masif, agar pemikiran dari jajaran tubuh Persib khusunya, bisa berubah. Bisa? Bisa, jika didengarkan dan manajemen mau mendengar bobotoh sebagai bagian Persib dan sebagai kontrol sosial. Bukan melulu menjadikan bobotoh sebagai potensi dagang dan paling miris mengasosiasikan bobotoh sebagai bati.

Kedua; tokoh-tokoh besar. Ini teh semacam satu orang pemimpin yang membawa perubahan besar. Misalkan di dunia modern sepakbola ayeuna. Chelsea di bawah rezim Abramovich menjadi klub Inggris yang disegani. Karena apa? Karena si Abramovich loba duit. Cuma jalma loba duit nu disegani ku batur mah, atau dalam sebuah paham; Hadirnya Hitler membawa Jerman sebagai negara adikuasa kala itu, pas perang dunia kadua. Sing sumpah, kami can lahir basa eta mah. Ayeuna ge kakara kelas 2 SMA atuh.

Di Persib sekarang? Ada tokoh itu? Ada sih Pak Glen dan Uwak anu bener-bener jadi front man. Tapi apakah ada dampak? Ada kemarin-kemarin. Sekarang…. (Isilah titik-titik tersebut dan kirim jawaban melalui DM. 3 orang yang jawabannya betul akan kami ucapkan terima kasih).

Ketiga; gerakan-gerakan sosial. Maksudna gerakan sosial teh semacam demo, bergerak secara kolektif menuntut perubahan di tubuh Persib. Dan Persib punya bobotoh yang mempunyai potensi massa nu loba pisan. Jiga basa demo di hareup Siliwangi menta Risnandar turun. Eta teh bobotoh nu hadir rebuan bro.

Gerakan-gerakan sosial terbukti manjur jika dilakukan secara kolektif, sistematis, masuk akal dan satu paham. Soeharto turun kan karena gerakan sosial. Tapi bukan berarti kudu demo wae, diskusi terbuka, dialog bisa jadi opsi. Opsi ini bisa dipakai ku kalian nu sering ditolak ku gebetan karena berbagai alasan. Press terus!

Keempat adalah revolusi. Ieu lebih edan deui. Revolusi kan perubahan besar dengan cepat. Menghujam dan merubah segala elemen di dalamnya. Persib bisa lakukan revolusi? Sigana poin ieu nu rada moal mungkin. Atuh siapa yang ingin melakukan revolusi sekarang. Kesanya bar-bar dan enggak elegan. Ditambah keadaan yang sulit untuk meninggalkan Persib dengan segala potensi dagang dan bati di dalamnya. Daripada hese hese revolusi mah mending kita beli motor Revo di dealer Honda Merdeka. SPG na aya nu asup player to watch euy.

Terakhir, ini teori dari kami, nu leuwih simpel dan babari. Mari berdoa bersama, tautkan doa kita bersama kepada yang maha kuasa demi Persib yang lebih baik.

***

Ya, semoga Persib terus berbenah dan benar-benar mau menyatu dengan bobotohnya. Karena Persib tanpa bobotoh, bagai Liga 1 tanpa Sandra Olga.

Hidup Persib! Hidup Sandra Olga!

Salam, [Ins/fah]