Milangkala Persib 84 Tahun

Setiap 14 Maret, waktu bertambah bagi Persib. Satu siklus Persib selesai digantikan oleh satu siklus yang baru. Sepanjang 84 tahun Persib, sudah banyak siklus kejayaan dan kebututan datang silih berganti. Naek turun prestasi mah emang hal yang niscaya atuh, tidak selamanya kita berjaya jiga taun-taun Abah kita masih bujang, era 1980-an – pertengahan 1990-an. Tidak selamanya juga kita butut. Satu hal yang pasti, dengan semua naek turunnya prestasi, Persib masih merupakan kesebelasan terbaik di Indonesia.

Tahun ini, 14 Maret 2017, Persib dapet kado ulang taun seorang pemaen yang pernah juara liga cempyen Eropa, Essien Pallah Benson. Hahaha, Karawacian jir Essien Pallah Benson mah. Michael Essien yang pernah juara cempyen dengan Celsi, juga juara liga Enggris pastinya, pernah maen di Serie A dengan AC Milan dan Liga Spanyol di Real Madrid. Teuing kumaha pipikiranana eta si Michael Essien daek maen di Liga Endonesia, bener-bener Michael Essien eweuh kassieun.

Well, Michael Essien menjadi nama paling tenar yang pernah direkrut Persib sepanjang sejarah panjang kesebelasan kita ini. Saacan Essien palingan Sergio van Botak dari Gua Belanda nama paling joss yang kita rekrut. Top skor liga Australia. Sempet aya oge sih top skor ti Hong Kong! Nu jadi pemaen paling mahal ISC, tapi angger da teu saheboh kedatangan Sergio. Teu nyangka, gelandang bertahan juara cempyen Eropa ternyata nu ngelehkeun rekor si Botak.

Representasi

Walaupun Essien ieu senah mah legenda Celsi, sampai saat ini dia masih selevel dengan Kim Kuncir. Pemaen yang belum memberi apa-apa bagi Persib, bukan pula pemaen pituin yang dilahirkan sebagey Bobotoh, memiliki kedekatan dengan Persib karena pernah menjadi bagian dari Bobotoh basa masih budak olol leho. Essien adalah pemaen asing Persib yang pernah juara liga cempyen Eropa.

Setiap masa memiliki legenda masing-masing. Pemaen yang merepresentasikan Persib. Dulu ada Sir Robby Darwis, mengangkat piala juara sepakbola Indonesia 4 kali. Lebih kolot lagi, saur pun rama mah aya Bah Adeng Hudaya. Sir Adjat Sudrajat yang patungnya ada di parapatan jalan Veteran – Sumatera – Lembong dan Tamblong. Sir Adjat adalah the original superstar mengbal di endonesia. He scored when he wanted. Jersey nomer 10, bobogohan dengan artis, bad boy. Pokokna mah, saur pun rama, idola pisanlah. Mun jaman bareto geus aya yutub, dijamin eta Adjat dijieunkeun channel yutub AdjatTV geura.

Bah Adeng Hudaya, Sir Adjat, Sir Robby adalah legenda-legenda yang merepresentasikan kejayaan Persib. Yaah, pada dasarnya orang memang tidak akan mengenang pecundang sih, jadi eweuh caritana legenda lahir dari generasi yang bapuk. Terkecuali dengan Lord Atep, legenda kita masa kini.

Lord Atep adalah representasi Persib di era ini, di usia Persib yang memasuki 80-an. Perjalanan karier Atep di Persib naek turun, entah bagaimana justru tidak segendang seirama dengan prestasi Persib. Sebagai seorang pemaen muda berbakat didikan Uits Spaning Na In Spaning, karier profesionalnya justru dimulai di perjisa. Sebabnya klasik atuh, tidak ada tempat bagi coba-coba pemaen muda biar berkembang di Persib mah.

Atep kemudian berhasil diambil kembali ke Persib oleh Wak Haji dan Jaya Hartono. Sedikit demi sedikit berhasil menyingkirkan Salim Alaydrus dan Siswanto untuk menjadi tuan di sayap permainan Persib. Rekor permaenannya terus menanjak, meski tidak terlalu wah oge sih, berbanding terbalik dengan prestasi Persib yang terus menurun dari langganan 4 besar hingga titik nadir menjadi peringkat 8 di ISL 2011-2012.

Kinerja permaenan menanjak Atep langsung terjun bebas setelah dirinya dengan ikhlas ridho menerima estafet ban kapten dari Memen Durehmen. Permaenan egois nan teu asup akal diperagakan di sisi kiri selama semusim penuh taun 2013. Gelar Lord sebagai sindiran menempel padanya dengan segera. Sedangkan Persib justru bisa memperbaiki prestasi dengan meraih posisi 4 klasemen akhir.

Kebangkitan Lord Atep bisa dibilang ada di musim juara 2014. Banyak bermain sebagai cadangan, Lord Atep justru mengulang rekor mencetak gul terbaiknya dalam semusim dengan torehan 6 gul di musim 2014. Persib berhasil menjadi juara. Walau secara de facto Bang Utina yang memimpin barudak meraih juara, secara de jure Lord Atep lah kapten kita waktu itu. Di musim 2014 itu, tentu saja gul Lord Atep ke gawang Arewa di semifinal adalah gul yang akan selalu dikenang, diceritakan, hingga nanti anak cucu kita menceritakannya jiga nu lalajo langsung wae, seperti kita menceritakan gul nya Sutiono Lamso ke gawang Petrokimia, padahal mah sing sumpah saya mah dicaritakeun ku pun rama perihal proses gul Sir Sutiono eta.

Kenyataan berlanjut, Lord Atep melanjutkan performa baiknya di ISL 2014 dengan menjadi top skor Persib di ajang AFC Cup 2015, 3 gul Lord Atep lebih baik dari 2 gul Don Konate dan Haji Ridwan. Itu levelnya Asia loh, AFC Cup joow! Di tahun 2015 itu juga Lord Atep memberi kita juara Piala Presiden. Enya sih maenna kurang maksimal da banyak cedera.

Lord Atep, walau secara statistik sudah berhasil membuktikan bahwa dia sudah berubah dan menjadi lebih baik, dan juga secara prestasi sudah memberi gelar juara untuk Persib, masih saja menjadi bahan olokan dan nyinyiran Bobotoh sosmed sealam dunya. Suwer, berdasarkan survey singkat mah, Bobotoh-Bobotoh kolot dan pelosok jiga di Cipariuk, Batu Jambrong, Pasir Ucing, Cibuntu, Sekemirung, mereka yang tidak muka twitter memuja Atep dengan tulus loh. Bobotoh-Bobotoh buta sosmed itu beneran mengidolakan Atep hasil dari lalajo di tipi dan macaan Tribun Jabar atau Galamedia, jarang maca PR mah senah, laham.

Lord Atep, entah emang boga isim buuk sirip hiu atau kumaha, selalu bisa membungkam para pengkritiknya dengan gul yang spektakuler. Bukti demi bukti yang Lord Atep beri pada kita mungkin pada akhirnya harus membuat kita sadar, bahwa Lord Atep memang sudah masuk kategori legenda Persib. Hanya saja, kelas legenda Lord Atep tidak selevel dengan Sir Robby Darwis atau pun Sir Djajang Nurjaman. Dua nama terakhir diberkahi menjadi bagian dari generasi emas Persib. Sedangkan Lord Atep ketiban sial, generasi emas berjudul class of 2014 pimpinan KH. Djajang Nurjaman umurnya teu manjang karena PSSI chaos dengan Kemenpora. Meski begitu, Lord Atep tetaplah seorang idola untuk Persib jaman ini.

Lord Atep adalah representasi dari Persib, penampilan yang tidak konsisten, prestasi yang seret, tapi selalu saja bisa meraih kembali kepercayaan Bobotoh dengan satu dua permaenan hebat di saat yang tepat. Lord Atep juga merupakan representasi dari Bobotoh. Urusan loyalitas bolehlah Lord mendapat saingan berat dari idola kita, legenda satunya lagi, Mas Har. Tapi ada hal lain yang membuat Lord Atep terasa dekat dengan Bobotoh, ada hal-hal yang magis –teuing naon atuh nya istilah tepatnya– yang membuat Bobotoh merasa Atep adalah bagian dari mereka. Coba lalajo geura Atep TV, channel khusus yang dibikinin kantor yutub di Ciparay spesial untuk Lord Atep, tayangan-tayangannya sungguh asik ditonton, komedi yang hanya bisa dimengerti oleh Bobotoh. Suporter klub lain mun lalajo Atep TV moal ngarti lah, teu jiga Bobotoh mun lalajo eta Atep TV. Dan channel eta cuma diboga oleh seorang Lord Atep! Eweuh da urang mah coba searching MASHAR TV di yutub. Sebuah hal yang awalnya kita olok-olok, kita nyinyiri, tapi tidak bisa tidak pada akhirnya kita justru jatuh cinta padanya. Itulah Lord Atep. Itulah Bobotoh. Itulah Persib.

Warisan Budaya

Sudah sering atuh yah diomongin oleh banyak orang, kalau Persib itu bukan sekadar sepakbola. Persib Bandung adalah warisan budaya Sunda. Dan itu bukan sekedar ucapan manis manja di bibir saja loh. Persib –terutama Bobotoh itu selevel kuduna mah dengan angklung. Hasil karya orang Sunda untuk dunia. Pun seperti angklung, yang walaupun bisa dimaenin sendirian, tapi da lebih seru maen babarengan. Komo Persib atuh, tidak bisa dibilanng Persib ditanggung oleh seorang Pemaen, teu paduli pemaen tersebut pernah maen di Celsi, AC Milan, dan Real Madrid. Sakeren-kerenna Essien pernah juara liga cempyen dan liga engris, Persib tetep lebih besar namanya.

Warisan budaya Persib ini juga yang perlu dipahami terutama oleh orang-orang yang berhasil mendatangkan Essien. Secara bisnis memang sangat joss deal ini. Essien berhasil membawa nama Liga 1 Indonesia –yang masih belum jelas iraha der na itu ke mata dunia. Pun Persib memang menjadi satu-satunya kesebelasan yang cocok untuk mendapatan servis dari seorang pemaen yang pernah juara di Eropa. Hanya saja bagi Bobotoh, Persib itu bukan sekadar bisnis. Nama besar dan level Persib bukan didapat dari beberapa tahun ke belakang. Loyalitas Bobotoh, yang kemudian bertransformasi menjadi pangsa pasar yang sangat besar tidak hadir dalam semalam. Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa memberi Persib status saat ini. Sejarah pahit getir keterpurukan dan manisnya kejayaan udah berkali-kali dilalui Persib.

Budaya dukungan a la bobotoh juga perlu diketahui oleh Essien. Eweuh carita sateh maen butut terus bisa lepas begitu saja tanpa caci maki Bobotoh, Michael. Mungkin kami tidak seterkenal Celsi, Milan, Madrid, tapi kami punya budaya khas yang mungkin tidak dimiliki oleh suporter kesebelasan top dunia itu. Ultras Milan hungkul mah lewat atuh. Komo fans glory hunter Celsi jeung Madrid. Kami Bobotoh cuma punya sedikit permintaan, maen edan tiap kali bertanding. Menang tiap pertandingan. Juara tiap kali ikutan kompetisi.

Akhirul kata, selamat ulang tahun Maung Bandungku! Selamat datang di Lodaya Essien Pello Benson! Jayalah Selalu Persib Bandung!

 

Salam, [bus]