Nineung Si Naga ti Cicalengka

Permaenan Persib Bandung yang kacrut dan tidak bermutu nampaknya sudah menjadi pemandangan nu biasa di tahun 2016 ini. Maen di kandang meunangna tida meyakinkan, tandang ka batur maen ramijud teu pararuguh. Sebagian besar bobotoh bahkan geus masup ke fase pasrah lalajo si kesayangan. Menang syukur Alhamdulillah wa syukurilah. Mun eleh, yowes ben wong arep ngomong opo.

Keadaan yang sulit memang membikin orang jadi sering nostalgila akan masa-masa indah. Beberapa bobotoh juga sudah mulai merindukan kenangan indah satu atau dua tahun katukang. Nu sejen bahkan secara eksplisit merindukan beberapa mantan terindah yang kini maen di kleub batur. Apalagi komposisi skuat saat ini medioker dan penuh kejeprutan.

Don Makan Konate, perancang permaenan terbaik Persib PT PBB; Bang Utina en the geng, dan Dado Kusnandar adalah nama yang paling sering disebut ketika membicarakan persoalan mantan-mantan terindah ini. Well, ada satu pemaen yang selalu bikin kasuat-suat dan perih hate beta kalau mengingatnya. Tidak lain dan tidak bukan, Ferdinand Alfred Sinaga.

Tahun 2014 silam, kehadiran Sinaga Boy dan Tantan, menyiratkan Djanur ingin pemaen sayap kiri yang lebih tajam untuk mengimbangi duet Haji Ridwan dan Bang Pardi di sayap kanan yang lebih sebagai kreator. Kata Djanur beres ujicoba di ciamis:

“Lini sebelah kiri semakin hidup. Kan sudah sering dibicarakan masalah dengan sektor kiri. Sekarang kekurangan itu sudah mulai teratasi,” [simamaung.com]

Awalna sempet bingung kenapa harus mengambil putra Bapak Samson Sinaga ini sebagai solusi sisi kiri. Emang dia didikan Persib, tapi permaenannya euy, sradag-srudug, kaditu-kadieu teu puguh. sikapna sok emosioan dan reaksional. Apalagi troma karena doi gagal eksekusi penalti penentuan di Sea Games 2011, yang bikin medali emas melayangs juga ikut memengaruhi.

Tapi begitulah cinta, selain deritanya tiada akhir, seringkali dimulai dari rasa benci. Lama kelamaan saya merasa kalau Ferdinand adalah sosok pemaen nu luar biasa. Doi jadi pemain lokal Persib yang paling banyak cetak gul. Beberapa lesakan bahkan terjadi di saat yang krusial di mana bobotoh biasana sudah hare-hare untuk lalajo karena sepertinya hasil pertandingan akan berakhir tidak memuaskan.

Emang bener oge sih ceuk Panglima Tianfeng, derita cinta tiada akhir. Pas keur resep-resepna, mengidolakan Sinaga Boy, manehna indit. Sakitnya tuh disini!

Positioning Endeus

Dari semua hal yang paling membikin kangen. Anjis ulah kangen atuhnya, naon nyak, sangat rindu lah. Hal teknikal paling diingat dari Ferdi adalah kemampuannya untuk berlari tanpa bola masuk ke area berbahaya lawan. Beuki nyieun kangen karena pergerakan off the ball skuat persib ayeuna tai ucing digulaan kabeh.

naga1

Gambar di atas merupakan momen-momen saacan terjadinya gol perdana Ferdi untuk Persib di musim juara 2014 melawan Persita Tangerang. Proses gol tersebut menggambarkan kecerdasan bermain Ferdi. Kombinasi edanian, umpan terobosan yang amboi dengan tenaga yang pas dari Bang Utina, menemui pergerakan tanpa bola dari Bang Ferdi yang lari diantara dua bek. Syedaaappp.

Pergerakan Ferdi dari belakang juga patut diacungi jempol. Terlebih doi bergerak lari memecah pertahanan lawan. Start larinya pun bukan tepat di garis pertahanan baru lumpat, tapi di depan garis pertahanan lawan. Apalagi dengan sprint yang hampir menyamai Usain Bolt, Ferdi bisa lewat dan berada di posisi enak untuk najong bola.

Bandingkan dengan gul  Sergio Botak yang memiliki proses hampir serupa ketika Persib dihempaskan di Tenggarong. Gol ini emang karasa untung-untungan. Untung lawan can siap terlihat dari Sergio yang belum ditempel lawan, untung hakim garis rada ecreug teu angkat bendera, padahal biasana sih setipis eta mah bakal offside. Dan untung-untung lainnya. Sergio pun dalam prosesnya doi tidak dalam upaya mengecoh lini pertahanan lawan. Doi berdiri tepat satu garis dengan para pemaen Mitra.

naga3

Gol Ferdi lain yang juga memperlihatkan bahwa sang pemain memiliki kemampuan melihat ruang dan insting pergerakan tanpa bola yang joss adalah ketika Persib main imbang di kandang Arema pada 25 Mei 2014. Ketika melakukan serangan balik seakan hanya ada 2 pemain Persib Aa Tantan & Don Konate melawan lini pertahanan pemaen Arema. Tetapi Ferdi kemudian tiba-tiba muncul di kotak penalti untuk menyambar umpan silang konate dan mengkonversi peluang menjadi gol.

Kalau diinget-inget deui banyak gol Ferdi terjadi di area kotak penalti lawan. Doi menjalankan filosofi yang sangat sederhana dalam urusan penyerangan dan penyelesaian akhir, yaitu eksekusi sedekat mungkin dengan gawang lawan, maka posibilitas terjadinya gol juga semakin besar. Lain gutak-gitek di gawir, lalu tekak-tekuk, jauh keneh ti gawang lawan, langsung najong sakumaha arah kanyut mangkreng.

Make Manah Jeung Getihna

Sekarang-sekarang ini sering kita melihat kalau para pemaen Persib rasanya maen jiga nu can dahar atau teu digaji berbulan-bulan jiga kleb batur. Lalesu eweuh tanagaan. Memori pribadi terus mengingat bagaimana Ferdi terus berlari dan terus berlari sepanjang pertandingan ketika tim berada dalam kondisi sulit atau tertinggal. Ini adalah poin lain yang membuat Ferdi menjadi sulit dilupakan. Ferdi tumbuh kembang dibesarkan budaya sepakbola Bandung, dia selalu bisa bermain menggunakan segenap hatinya ditambah determinasi tinggi menjaga kehormatan Persib. Ferdi mungkin baru akan berhenti ketika memang wasit meniupkan peluit akhir tanda pertandingan usai.

Catatan gol Ferdi lebih banyak terjadi menjelang pertandingan berakhir, di menit 75 ke atas. Bahkan banyak diantarnya bisa menyelamatkan Persib. Tentu yang paling teringat adalah sundulan penyelamat yang menaklukan Natasha Romanovs ketika imbang melawan PBR dan menang lawan Mitra di babak 8 besar ISL musim 2014.

Kalau berkesempatan bisa liat video di yutup dengan keyword: Ferdinand Sinaga. Daftar yang muncul adalah begimana pemain ini selalu punya cara yang luar biasa untuk mengekspresikan passion-nya. Mulai dari selebrasi golnya yang selalu emosional, salah satunya persembahan gul untuk Almarhum Mang Ayi Beutik, ngabanjur anduk jimat isim kiper PBR, hingga bagaimana ia terlihat kesal apabila ada kawan timnya yang bermain tidak maksimal.

Tentu selalu akan diingat adalah Ferdinand yang membuat Bhio Paulin dikeluarkan wasit di partai penentuan melawan Persipura. Pergerakan Ferdi yang membuat lini pertahanan Persipura kalang kabut teu puguh sorangan hingga Manu Wanggai nyetak gul budi ke gawang sendiri. Pada momen gol kedua, Ferdi pun berperan besar dengan menarik para pemain pertahanan Persipura sehingga muncul ruang kosong yang bisa dimanfaatkan Haji Ridwan dan Persib berbaik unggul. Teu sangka, ternyata partai final itu menjadi pertandingan resmi terakhir Bang Sinaga untuk Persib.

Gol indah ke gawang Barito menggambarkan jelas betapa ekspresifnya Ferdinand Sinaga. Doi teu ngalepaskeun peluang begitu saja karena posisinya sulit. Juggling dua kali, dilanjutkan dengan tendangan balik bandung yang harus diakui jarak dan posisinya sulit. Tapi Ferdi bisa melakukannya dan berhasil menjadi gol. Selebrasi buka baju dan emosional hingga kudu dipepende ku Bang Utina menjadi pelengkap yang sempurna.

Meskipun berdarah pulau seberang tapi domisili dan menikmati masa kecil di Jawa Barat lah yang mungkin menjadi penyebab mengapa Ferdi bisa begitu menggebu-gebu kebat kebut ketika maen untuk Persib. Ingat bagaimana kalimat pertama yang terucap dari bibir Ferdi ketika diwawancarai oleh Simamaung beres partai final ISL 2014 “Semuanya ini untuk warga Jawa Barat, khususnya bobotoh.” So sweet pisan.

Djanur menyebutkan bahwa doi butuh pemimpin tim saat ini. Meskipun yaah galak kayak cewek lagi PMS, Ferdi dengan segudang pengalamannya maen di berbagai klub dan banyak level usia Timnas bisa jadi opsi yang sangat okeh sebagai pemimpin tim Persib. Doi bisa nyarek para pemaen nu teu baleg seperti ketika doi nyarekan Haji Ridwan yang nggak muka ruang di final ISL 2014.

Ferdi adalah Solusi?

Salah satu problem Persib saat ini adalah soal nyetak gul ke gawang lawan. Baik secara kuantitatif, maenya weh penyerang jumlah golna sarua jeung defender. Meskipun aya rada maklum karena Sergio baru datang di pertengahan musim. Atau secara kualitatif ningali serangan Persib nu apeu teu puguh tungtungna.

Untuk pengganti Ferdinand saya harus bekerja keras untuk mengganti sosok itu dan itu tidak gampang. Harus bersabar.” – Djanur

Ungkapan tersebut sudah keluar dari mulut sang pelatih menandakan kebutuhannya akan Ferdi. Beliau juga sebenarnya mencoba mereplikasi lini serang 2014 dengan komposisi tim saat ini. Dengan harapan permasalahan nyetak gul bisa terpecahkan. Dengan para pemain cepat sebagey ujung tombak. Coach Djanur berharap akan bisa ada banyak pergerakan dan sentuhan di kotak penalti sehingga semakin banyak tercipta peluang gol.

Ngan hanjakalna. Ino Pugliara nu disiapkan sebagai Free Role Playmaker seperti Konate nyatanya lebih sering ngetem di parapatan Pasirkoja dan jarang turun atau membuka ruang.

Kombinasi flank kanan pengganti Haji Ridwan-Bang Pardi juga kronis karena eweuh pemaen nu maena baleg didinya. Peran Ferdi ini coba Djanur replikasi kepada King Zulham, da ngarep Lord Botep maen jiga Bang Ferdina mah atuh asa teu mungkin. Tapi pada dasarna King Zulham emang seorang winger natural bukan seorang penyerang. Kesadaran untuk masuk ke kotak penaltinya emang ada, tapi tidak sebaik Bang Sinaga. King Zamrun kebanyakan nekak-nekuk bola buat melebar dan yah hanya dalam satu-dua kali kesempatan doi mau nekuk buat masuk ke dalam kotak penalti dan menciptakan peluang nu ngabahayakeun gawang lawan.

Kedatangan Ferdi bisa saja mengurangi permasalahan lini depan, terutama bagian sayap Persib. Tapi jigana mah bukan solusi untuk skema Djanur.

Yang Djanur butuhkan adalah seorang playmaker yang boga kadaek, kreatif, dan jago drible untuk membongkar pertahanan lawan. Tanpa seorang dengan kemampuan setara Don Makan Konate, serangan Persib bakal terus ngagawir tanpa ada pergerakan tanpa bola yang bahaya di kotak penalti lawan. Bang Ferdi bisa mengurangi masalah  pergerakan mencari peluang di kotak penalti, tapi mun nu crossingna Dias Angga Kusumah Putra mah, mending Bang Ferdi jajan cuangki serayu bari nagog na trotoar.

Bang Ferdi, Hami Rindu, Pahatop Mulak tu Juma

@arn