Penyerang Djanur

Pita Pink

Ngomongin penyerang Djanur, paling tidak perlu merujuk pada 3 periode penting dalam kepelatihan Djanur. Pertama, saat Djanur pertama kali jadi asisten pelatih, duet penyerang Kekey Zakaria dan Sutiono Lamso dari class of Indra thohir. Kedua, duet Safee Sali dan Greg Nwokolo di Pelita Jaya 2010. Terakhir Sergio van Botak dari Gua Belanda pada tahun 2013.

Sebagai seorang pemaen sayap, Seumur-umur Djanur tahu sayap yang bagus teknik dasarnya kudu bisa goyang dribble bola sampai garis ujung terus crossing ke tengah kotak pinalti. Teknik 80-an banget atuh. Ketika pola 3 penyerang lagi jadi pola sejuta umat. Sedikit banyak hal itu menjadi dasar taktik Djanur di kemudian hari. Menurut seorang pandit dari banten, sampe sekarang juga Djanur masih sering minta pemaen sayapnya dribble dulu sampe ujung baru crossing.

Saat Djanur masih maen, Persib maen pake formasi 4-3-3 dengan seorang penyerang tengah diapit 2 penyerang luar. Menurut beberapa sumber literasi yang bisa ditelusuri di internet, penyerang tengahnya Djanur basa itu adalah Wawan Karnawan, Dadang Kurnia, dan saat final Perserikatan 1989/90 penyerang tengahna Sutiono diapit Djanur di kiri dan Nyangnyang di kanan. Djanur terbiasa bergerak ke ujung lapangan untuk kemudian crossing, atau dribble sorangan diagonal masuk ke kotak penalti. Pergerakan tanpa bola Djanur banyak masuk ke kotak penalti lewat depan kotak penalti, lain ti samping. Seperti pas gul Djanur di Final Perserikatan 1986.

Adalah Sir Indra Thohir dan taktik 3-5-2 nya yang kemudian memberi dimensi lain bagi pemilihan striker Djanur. Sir Indra Thohir menggunakan 2 penyerang. Kombinasi Kekey Zakaria yang jangkung dan Sutiono yang lingas adalah salah satu duet terbaik dalam sejarah Persib. 54 gul total disumbangkan keduanya di periode generasi emas 1989 -1995. Kekey yang jangkung justru sering maen lebih dalam ke lini tengah, menyambung dengan Yudi Guntara dan Yusuf Bachtiar. Sedangkan Suti banyak berusaha menghancurkan perangkap offside lawan, lari ke belakang bek ngejar bola terobosan atau bola liar.

Pola maen Persib yang legendaris itu, kaki ke kaki, bukan cuma legenda loh. Emang pada jaman itu mineng oge sih bek-bek bungbeng ka hareup, dan bek Persib juga sering begitu, kecuali Sir Robby Darwis, tapi overall Persib memang memainkan pola menyusun serangan lewat operan pendek di jalur tengah. Melalui Yusuf Bachtiar, Yudi Guntara, dan Kekey Zakaria.

Pola trio engine room Asep Munir Kustiana – Yusuf Bachtiar – Yudi Guntara itu direplikasi Djanur menjadi keping penting class of 2014. Bedanya adalah Djanur tidak menggunakan 2 penyerang. Sebenerna taktik striker Djanur tetep make 2 penyerang tapi dalam kombinasi lebih modern. Satu striker target man, sebagai wall dan finisher umpan silang, satu lagi sayap yang keluar masuk kotak penalti.

Pola 2 striker dengan sistem out and out Djanur dapatkan elmunya dari Fandi Ahmad kemudian Misha Radovic selama menjadi asisten pelatih di Pelita Jaya –meureun, teu apal teuing sejarah dan carita Pelita Jaya kecuali garis besarna. Duet Greg dan Safee mencetak 40 gul untuk Pelita Jaya musim 2011/2012. Safee Sali berduet dengan Greg Nwokolo sedikit banyak memberi Djanur kriteria penyerang idamannya. Mirip Suti dan Kekey, tapi Greg banyak bergerak dari sayap, bukan sekedar membelakangi gawang jiga Kekey.

Tapinya ketika melatih Persib, Djanur tidak memakai dua penyerang duet seperti mereka berdua, tapi dua kemampuan penyerang itu dalam satu orang penyerang. Garis tangan yang antik yang membuat Djanur dapet durian runtuh seorang Sergio van Botak di musim 2013. Bisa nahan bola dan bikin peluang jiga Greg, jaba seseg awakna. Bisa juga lincah di kotak penalti, menyelesaikan peluang jiga Safee.

Drago Mamic dan Djanur sama-sama menggunakan 4-2-3-1. Bedanya, Mamic ingin gelandang serang yang masuk ke kotak penalti, coming from behind, maturan Moses Sakyi dari area no 10 ke kotak penalti. Peran yang gagal dijalankan oleh Miljan Radovic yang ripuh kudu naek turun di poros tengah mah. Apalagi tipikal Miljan mah lebih nyaman pegang bola, bukan nyaman bergerak tanpa bola, apalagi nyaman menjomblo, TEEEUUUU.

Setahun berselang, Djanur pake juga 4-2-3-1. Sergio van Botak mah atuh edan pisan basa itu untuk kelas Indonesia. Taktik Djanur tidak meminta Mbida Messi lari masuk ke kotak penalti, tugas itu diserahkan kepada Lord Botep dan Haji Ridwan. Lord Sirip Hiu gagal total. Pergerakan tanpa bolana rivuh pisan. Justru Haji Ridwan yang joss banget. Teu kagok atuh, 12 gul samusim! Haji Ridwan ieu istilah na mah out and out forward. Mun Lord Atep mah inverted winger, cut in di luar kotak penalti terus najong kamana wae, Haji Ridwan pergerakannya keluar masuk kotak penalti. Taktik Djanur ieu sebenerna bakalan joss pisan kalau Sergio van Botak bertahan di musim 2014, hanjakal doi memilih harta dunia, pergi ke luar nagreg.

Djanur masih tetep ingin pake pola penyerangan dengan striker badag di tengah, penyerang sayap yang menusuk di kedua sisi, matakan di 2014 gercep pisan Bang Ferdinand dan Aa Tantan di-mari-bung-rebut-kembali ke Persib. Bang Ferdi diplot menggantikan Lord Atep yang apeu menjalankan peran penyerang sayap dari Djanur –tapi kemudian Lord Atep jadi joss oge, 6 gul Lord Atep salah satunya karena tidak lagi banyak nekuk bola jauh di luar kotak penalti dan kemauan masuk ke kotak penalti. Kegagalan Djibril mempertahankan kebugaran awak dan tuur lekloknya bisa diakalan oleh Djanur dengan Bang Ferdi dan Tantan. Keduanya jarang ada yang betah di kotak penalti, tapi ajaibnya Bang Ferdi bisa punya timing yang joss dan pergerakan tanpa bola yang bagai siluman maghrib tiap masuk ke kotak penalti. Dua gul ke Arewa di Malang bukti Bang Ferdi punya timing dan pegerakan siluman yang meded, pun 11 gul Bang Ferdi adalah bukti dia punya finishing yang oke. Tentu saja, keberhasilan musim 2014 memang lebih banyak ditunjang oleh trio engine room yang asoy geboy ketimbang sekedar bergantung kepada penyerang seperti di musim 2013.

 

Masa Kini

Sekarang Djanur punya Carlton Cole dan Sergio van Botak. Keduanya punya postur diatas 180 senti. Jangkung ideal untuk umpan silang Persib. Tapiii, Persib tidak punya banyak stok pemaen sayap yang meded, yang bisa bikin crossing endeuswey jiga Haji Ridwan.

Satu hal, baik Cole dan Sergio pada masanya pernah memiliki kriteria penyerang yang Djanur inginkan. Kombinasi Kekey dan Suti, Greg dan Safee. Sekarang? Tidak tahu.

Susah susah gampang memprediksi taktik Djanur mah. Hoream sih sebenerna memprediksi, karena selama ieu saya loba salah prediksina. Hahaha. Tapi, besar probabilitasnya Sergio dan Cole maen gantian. Moal dibarengkeun. Sabab kalau dibarengkeun berarti kudu mengorbankan struktur lini tengah. Pola trio engine room yang Djanur andalkan bisa terusik.

Adanya Essien bisa oge sih bikin Djanur mengorbankan satu dari trio poros tengah buat duet penyerang. Essien diharapkan Djanur bisa membantu menyerang dan bertahan di lini tengah. Duet Essien – Mas Har bakal bikin Essien lebih motah ke depan. Essien – Dado bikin Essien yang lebih stay di belakang. Tapi da, sepanjang catatan Djanur eweuh carita cuma pake dua gelandang di lini tengah. Mungkin musim ini bakal jadi kali pertama. Mungkin juga tidak. Apalagi ada regulasi pemaen can baokan kudu maen 45 menit. Zola dan Basith punya slot untuk dipaenkeun. Ekstrimna sih Agung dan Bow maen di kedua sayap, jadi trio poros tengah pake pemaen jadi kabeh. Tidak bisa menebak pemikiran Djanur sekarang. Biar waktu yang membuktikan, kalau Djanur masih salah satu pelatih meded di Endonesia saat ini.

Well, kata Murakami takdir adalah kenangan yang terjadi di masa lalu, bukan masa depan yang kita tahu lebih dulu. Jadi ya, nu engke mah kumaha engke. Yang udah terjadi mah Djanur pernah ngalatih Sutiono Lamso, Kekey Zakaria, Safee Sali, Greg Nwokolo, Sergio van Dijk dan Ferdinand Sinaga. Dua nama terakhir yang kayaknya masih susah bikin Djanur move on. Hahaha.

 

Wassalam. Saya amit mundur. Sampai jumpa lagi kapan-kapan di masa depan yah. See you when I see you.

[bus / guh]