Petualangan Asia

Pita Pink

Indra Tohir - stadionsiliwangi.com
Indra Tohir – stadionsiliwangi.com

Sebagai juara liga indonesia 1994/1995 Persib harus mewaliki Indonesia di kejuaraan antar klub asia, bahasa Cipariukna mah Asian Club Championship —Liga Champion Asia— yang dimulai bulan September 1995. Persib sebenerna udah pernah menghadapi tim tim dari luar Nagreg mah, bahkan tim yang jauh lebih kuat jiga PSV Eindhoven atau AC Milan. Tapi, kesempatan maen di level Asia ini tetep berharga buat Persib guna mengukur sejauh mana kemampuan Persib dengan lawan yang lebih sepadan di tingkat yang lebih tinggi.

Sistem kompetisi Liga Champion Asia waktu itu masih sering berubah-ubah dari musim ke musim, di tahun 1995 babak paling awal adalah kualifikasi ronde 1 (Round 1 Qualification) yang terbagi menjadi 2 zona, Timur dan Barat. Ada 16 juara liga negara-negara di asia timur, selatan, dan tenggara. Maen dalam sistem home and away.

Delapan tim yang lolos kemudian diundi lagi buat kualifikasi ronde 2. Maen home and away deui untuk menentukan 4 terbaik di tiap zona buat maen di perempat final. Perempat final ieu antik karena sistemna home turnamen, dengan salah satu kesebelasan menjadi tuan rumah. Dua tim terbaik lolos ke semifinal. Di semifinal karek diadukeun antara juara grup perempat final timur lawan runner up grup perempat final barat, dan sabalikna.

Miracle in Bangkok

Di babak pertama penyisihan Liga Cempyens ini Persib akan menghadapi wakil dari Thailand, Bangkok Bank. Dalam sistem kandang-tandang ieu, Persib akan duluan maen ka Thailand baru setelah itu giliran Bangkok Bank yang maen ka Bandung. Para manajemen, jajaran pelatih, dan pemaen terlihat yakin langkah Persib di Liga Cempiyens ini akan berjalan jauh, terutama yakin akan mampu mengalahkan Bangkok Bank.

“Tanpa bermaksud meremehkan lawan, dari segi teknik Persib tidak kalah dari klub-klub Thailand,” — Yusuf Bachtiar (Hariyono, Try, 16 September, 1995)

Wajar sih Bah Yusuf terlihat yakin, Bah Yusuf udah pernah maen di Thailand di Piala Raja pas taun 1993 jadi udah apal setidaknya atmosfer dan iklim disana seperti apa. Juga dengan komposisi pemaen yang teu loba gonta ganti menjadi keyakinan lain Bah Yusuf. Dan yang seperti  Bah Yusuf bilang, beliau yakin kekuatan Persib tidak terlampau jauh dari klub-klub Thailand.

Persib di Liga Cempiyens ieu tidak diitung sebagey salah satu paporit buat merebut juara. Banyak klub yang meragukan kualitas serta meremehkan Persib. Selain karena masih berbentuk kesebelasan amatir, banyak juga yang bilang lamun Persib juara Liga Indonesia eta karena kongkalikong sama wasit jeung panpel. Ternyata ti baheula udah ada label anak bapak buat Persib, teu kagok ku klub ti Asia ieu mah.

Persib sendiri embung disebut klub yang meunang hadiah gratis ti PSSI. Persib terlihat serius menyambut Liga Cempiyens ini, beberapa TC untuk menambah fisik dan stamina serta pemantapan teknik dilakukan Bah Thohir kepada anak asuhannya. Untuk mengasah kemampuan tim  Persib melakukan beberapa ujicoba sebelum indit ka Bangkok. Persib juga mendapat suntikan kekuatan segar dengan kembali bergabungnya Asep Dayat yang udah beres tugas dari Timnas praolimpiade. Dengan asupna Asep Dayat, Bah Thohir punya tambahan pilihan di lini depan karena sebelumnya udah punya Sutiono Lamso, Kekey Zakaria, dan Tatang Suryana.

Sebenernya Bah Thohir sempat ditawari memakai pemaen asing oleh walikota Wahyu Hamidjaya untuk liga cempyen asia ini. Mun teu daek nu ti luar negri, ya minimal dari luar nagreg lah. Orang Jawa atau Sumatera atau orang mana weh nu masih KTP Indonesia. Tapi Bah Thohir menolak. Kata Abah, “kan udah terbukti kita bisa juara nasional dengan pemain yang ada.” (Rinaldi, Syaban Mohammad, 2015)

***

Walaupun maen di luar Indonesia, aya we bobotoh yang sengaja pergi ke Bangkok untuk mendukung Persib. Tagar #Bangkokkeun basa eta loba bermunculan di radio-radio interkom seantreo jabar, beberapa hari sebelum pertandingan untuk melancarkan perjalanan para Bobotoh ke Thailand. Pas hari H na, sekitar 800 orang Bobotoh berbondong-bondong ngumpul di tribun barat, da bobotoh lama mah biasana emang di tribun barat. Spanduk “Terima Kasih ANTV” basa eta poho teu kabawa, tukang sablon di Jalan Suci kaburu tutup. Sebuah perjuangan yang luar biasa untuk menonton Persib di Asia karena untuk pergi ka Thailand ieu perlu melakukan 4 kali penerbangan.

Persiapan Bah Thohir di Bangkok pun penuh perjuangan. Tuan rumah cong-li euy, maenya Bah Thohir menta lapang jang latihan wae dipersulit. Dibere lapangan nu rusak dan jeblog. Akal-akalan licong tuan rumah belum berhenti di lapangan latihan. Kick off jam 4, Bah Thohir dibejaan harus berangkat dari hotel jam 12. Maracet senah jalanan Bangkok. Boa edan. “Mau makan siang jam berapa coba kalau jam 12 udah disuruh berangkat?” keluh Bah Thohir (Rinaldi, Syaban Mohammad, 2015).

Masalah non teknis nu resmi oge sempat menghambat Bah Thohir. Menurut regulasi AFC, kabeh tim kudu boga sponsor apparel resmi. Jaman eta jersey Persib mah meunang nyablon sorangan, teuing nyablon di Suci, teuing nyablon ti Cigondewah, nu pasti mah teu make merk apparel. Untunga aya apparel Thailand nu ngarana BFT bageur daek mantuan Persib, ridho nyadiakeun apparel komplit dari jersey sampai training pack. Can deui kajadian kiper Persib poho teu mawa sarung tangan. Asli ieu antik pisan. Aya kiper poho teu mawa sarung tangan, padahal dek maen di level asia. Aya-aya wae lah pokokna mah. (Rinaldi, Syaban Mohammad, 2015).

***

Hari yang dinanti-nanti seluruh warga Jawa Barat yang mencintai Persib akhirnya tiba, 16 September 1995 di Chulalongkorn Stadium Bangkok, di bawah langit sore yang endeus Persib memulai debutnya di Asia. Bah Thohir menurunkan skuat yang hampir sama dengan ketika mengalahkan Petrokimia di final, hanya posisi Yudi Guntara yang diganti oleh Asep Somantri, selebihnya sama. Sementara pelatih Bangkok menurunkan 3 mantan pemaen Timnasnya dari awal nyaeta Wacharapong Somcit, Apichad Thaveechalermdit, dan Cherchai Suwanang.

Tidak ingin membuat Bobotoh nu geus jauh jauh datang dengan segala pengorbanannya itu kecewa, Persib langsung menekan barisan pertahanan Bangkok, teu peduli maen tandang ge Bah Thohir memerintahkan anak asuhnya untuk tetep maen menyerang. Permaenan khas oper operan pendek dari kaki ke kaki yang biasa dilakukan pemaen Persib kembali dilakukan pada pertandingan ini walapun lapangan basa eta becek tergenang banjir  –beneran banjir air hujan lain banjir air mata seorang pria yang kekasihnya baru direbut lelaki lain– titik titik lapangan yang banjir basa eta kotka ditutup make remeh kayu atuh biar bola tidak terhenti di genangan eta.

Gempuran para pemaen Persib akhirnya mendapatkan hasil saat pertandingan karek asup menit ka-8. Berawal dari Sutiono Lamso yang bisa meloloskan diri kawalan bek Bangkok kemudian memberikan umpan pada Yusuf Bachtiar yang berdiri bebas. Bah Yusuf kemudian melakukan umpan kepada Kekey Zakaria, Kekey sebenerna basa eta mendapatkan pengawalan yang ketat dari Apichad Thaveechalermdit tapi Kekey dengan awak jangkungnya berhasil melepaskan diri dan menyundul bola umpan Bah Yusuf itu ke pojok kiri gawang.

Gul itu seperti hadiah bagi Kekey yang 2 bulan sebelumnya baru saja dikaruniai seorang anak lalaki bernama Fauzan Adimah. Kekey juga bilang bahwa gul itu adalah oleh-oleh buat anaknya  di Bandung. “Ini gol pertama saya dalam pertandingan di luar negeri. Karena itu punya kesan tersendiri,” Kata Kekey (Hariyono, Tri. 17 September 1995).

Ketinggalan satu gul, para pemaen Bangkok mencoba mengejar ketinggalan dengan menaikkan intensitas serangan. Dari kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah pokona kabeh arah dicoba demi menjebol gawang Anwar Sanusi, tapi solidnya lini pertahanan yang dipimpin oleh Sir Robby Darwis tetap terjaga sampai babak pertama beak.

Di babak kedua ketika fokus dan konsentrasi pemaen Bangkok masih tinggaleun di ruang ganti, Yusuf Bachtiar sukses menambah gul bagi Persib setelah sebelumnya terlebih merebut bola dari salah satu bek Bangkok kemudian melakukan umpan one-two ala winning eleven dengan Bah Sutiono dan diakhiri dengan sontekan satu sentuhan oleh Bah Yusuf.

Ketinggalan defisit 2 gul, Bangkok makin edan eling menaikkan RPM buat ngejar gul. Eleh di kandang dengan selisih 2 gul mah beurat atuh bagi Bangkok buat pertandingan kedua di Bandung nanti. Tapi, pertahanan Persib masih tetep kokoh dan disiplin sampai menit akhir babak kedua. Priiiiiittt!!! Persib mencuri 3 poin yang jadi modal alus buat leg kedua di Siliwangi sekaligus menjadi kadedeuh bagi bobotoh yang hadir langsung ke stadion.

“Kami harus mengakui, Persib tim yang bagus dan kerja sama di antara mereka sangat baik,” puji Tim Manajer Bangkok Bank, Subin Sinchai (Hariyono, Tri. 17 September 1995).

Asisten Pelatih Bangkok Bank, Wisutwichaya menambahkan, anak- anak asuhannya sudah berupaya keras melakukan serangan dan tekanan ke kubu Persib. “Tetapi barisan pertahanan Persib terlalu tangguh, sehingga penyerang kami sulit menembusnya,” kata Wisutwichaya (Hariyono, Tri. 17 September 1995).

Sebelum melakoni pertandingan kedua lawan Bangkok di Siliwangi, Persib mendapat tambahan motivasi. Bah Thohir yang mengantarkan Persib jadi juara Liga Indonesia pertama diganjar penghargaan pelatih terbaik versi AFC untuk edisi bulan September. Tentunya ini jadi semangat tambahan buat Bah Thohir sekaligus pelecut untuk bisa membawa Persib lolos ke babak kedua Liga Cempiyens Asia.

Dengan modal 2-0 di Bangkok, Persib menatap pertandingan kedua dengan percaya diri yang tinggi. Ibarat sudah yakin akan menikahi si dia, sehingga tidak melihat dunia sekitar bahwa masih banyak bahaya laten dari penikung yang mengintai hubungan ini, para pemaen Persib seperti terlena dengan kemenangan pertama itu sehingga pada pertandingan kedua ini permaenan Persib tidak sebagus jiga basa di Bangkok.

Bangkok maen beuki edan eling di leg kadua ini, semenjak kick off para pemaen Bangkok langsung melancarkan serangan dan mengurung lini pertahanan Persib. Bobotoh yang memadati Stadion Siliwangi jantungnya sempet jiga nu berhenti sesaat ketika penyerang Bangkok Cherdchai Suwanang sukses ngajebol gawang Anwar Sanusi padahal eta baru 4 menit doang. Untungna hakim garis lebih dulu ngangkat bendera pertanda pemaen Bangkok eta udah offside sebelum nyetak gul.

Selepas gul yang dianulir para pemaen Bangkok semakin menekan pedal gas jero-jero —full step broooo— serangan semakin gencar dibangun, tekanan luar biasa yang diberikan pemaen Bangkok eta melebihi tekanan pertanyaan “Mau kapan nikah? Mamah udah pengen banget gendong cucu.” Cherdchai Suwanang dan Prakasit Pimvong berkali-kali jadi ancaman bahaya untuk para bek Persib, untung Away maen alus pada pertandingan ini. Sagala macem rupa peluang dari para pemaen Bangkok bisa diamankan oleh Away.

Persib pada leg kadua ini maen bertahan, numpuk pemaen loba di sektor belakang kemudian hanya sesekali melancarkan serangan balik. Para pemaen Persib seperti maen aman, embung melakukan kesalahan dan lebih memilih menunggu meskipun tau bahwa menunggu itu menyakitkan.

Pertahanan kokoh Sir Robby Darwis dan ceesnya akhirnya tak kuasa membendung lagi serangan bertubi-tubi Bangkok. Berawal dari tendangan bebas Sumet Akarapong di sisi kiri pertahanan Persib, bola kemudian diteruskan oleh Amarit ke gawang Away lewat sundulan kepala, tanpa bisa diantisipasi Away. Untung gul ini terjadi di penghujung laga alias 1 menit sebelum waktu abis dan Persib tetep mampu menjaga gawangnya agar tidak jebol lagi. Kekalahan 1-0 ini sebenernya cukup mengantarkan Persib lolos ke babak selanjutnya karena unggul agregat, meski begitu kekalahan ini diratapi oleh kesedihan oleh beberapa punggawa Persib.

“Saya sakit,…sakit sekali. Nyeri pisan (sakit sekali). Apalagi kekalahan ini terjadi di kandang sendiri,” kata Kekey Zakaria sambil terduduk lesu di ruang ganti pakaian (THY. 1 Oktober, 1995).

“Kekalahan ini bisa menjadi pelajaran berharga buat teman-teman semua, Kami semakin menyadari, kalaupun Persib menang di Bangkok, bukan berarti Bangkok Bank lebih rendah kemampuannya dibanding Persib,” kata Robby Darwis (THY. 1 Oktober, 1995).

Kekecewaan juga dirasakan oleh kubu Bangkok Bank meskipun secara hasil mereka bisa meraih kemenangan.

Saya kecewa, seharusnya pemain bisa mencetak gol lebih banyak lagi,” kata pelatih Withaya Laohakul yang semula merasa yakin bisa menaklukan Persib dengan angka minimal 3-1. (THY. 1 Oktober, 1995).

Setelah menghempaskan perlawanan Bangkok, Persib kemudian bertemu wakil Asia Tenggara lainnya di babak selanjutnya yaitu Pasay City wakil dari Filipina. Pasay City di babak sebelumnya menghentikan laju Guam’s Tumon Typhoon. Edan atuh Pasay mah, di round kahiji berhasil lolos dengan agregat 17-0.

 

*bersambung…

 

Sambunganna di buku indra thohir..

[red]