REVIEW SEASON PERSIB DI ISC 2016

Pita Pink

Mari kita lupakan musim yang tidak puguh dan tidak jelas ini. Sebuah musim yang di dalamnya terdapat Turnamen yang membuat beberapa orang lupa, bahwa ini hanya Turnamen tidak resmi, Turnamen yang dibikin sekelompok manusia Profesional dengan dihias-hiasi kemegahan yang membuatnya seakan begitu penting.

Meski setiap Turnamen tetap bergengsi, tapi tetap saja wong namanya Turnamen, ya, Turnamen, bukan Liga. Tidak ada cerita Juventus membangga-banggakan gelar Trofeo Cup yang didapat atau Inter Milan yang kecewa begitu dalam karena gagal meraihnya. Meski begitu, merayakan gelar juara apapun itu sah-sah saja hukumnya dan Persib yang gagal menjadi juara juga tidak perlu untuk berlarut-larut menangisi gelar ini, layaknya ditinggal kabogoh kawin.

Setiap perjalanan, baik pait jiga parasetamol atau manis jiga omongan kabogoh pas awal bobogohan pasti punya ceritanya masing-masing. Pun dengan Persib di Turnamen Kopi ini. Mari pertama kita bahas dari penunjukan Dejan Antonic berlisensi UEFA PRO yang menggantikan Djanur karena disakolakeun deui ka Italia.

Dejan, datang ke Bandung dengan CV mentereng, bawa Arewa FC ke perempat final AFC Cup dan mengantar Pelita Madura Raya United ke semifinal ISL 2014. Atas hasil kerja itulah manajemen memutuskan menunjuk Dejan sebagey pengisi lini bench untuk menemani Agung Bacun dan Prince Yandi.

Namun, ada yang mengganjal dalam penunjukan Dejan ini. Dibayang-bayangi tidak ada pelatih asing yang sukses di Persib. Dejan diantara pilihan, jadi orang luar Indonesia pertama yang bisa mematahkan mitos tersebut atau menjadi pria kesekian yang menambah rentetan kegagalan. Takdir membawa Dejan pada pilihan kedua, Dejan gagal!

Dejan tidak hanya gagal, tapi membuat Persib tim medioker nu jiga karek miluan sebuah Turnamen. Dimulai dari membawa gerbong pemaen jiga Angry Her, Kim belum kuncir, David suka lupa, dan Rachmad Hidayat, bahkan pemaen termahal Se-Nagreg dan sekitarnya, Juan Belencosso juga ikut diangkut. Bayangkan, yang asalnya punya pemaen jiga Jupe, Bang Utina, Makan Konate, Haji Ridwan, Bang Pardi kemudian menjadi pemaen kelas 2. Nu asalna sok jajan kebab nu 15rebuan jadi beli tahu bulat nu 500an digoreng dina katel dadakan gurih gurih enyoy.

Bener we, kumaha rek mup on ti doi nomor 16 yang di Palembang lamun Angry Her yang menggantikannya maen srudak sruduk. Kumaha rek mup on ti Bang Utina yang bisa jadi penguhubung lini tengah dan lini depan kalau Kim yang meneruskan peran itu lebih suka jadi pengubung operan Vlado ke Dias. Yang karasa pisan sih kumaha mau mup on dari tahun juara 2014 racikan Djanur kalau maen a la Dejan ini membawa Bobotoh lebih sering cek tensi darah daripada cek whatsapp apakah aya balasan dari si doi atau angger ngan saukur di read hungkul.

Dejan out karena emang tekanan edan eling 7 hari 7 malam dari bobotoh, yang puncaknya adalah melampiaskan amarahnya dengan menantang Bobotoh pasca pertandingan lawan Madura Yunaitid. Dejan boleh pergi, tapi masih meninggalkan sisa pemaen-pemaennya dan pondasi yang masih menancap di dalam tim, gawir teras. Djanur sang maestro pun kembali, kali ini ia kudu meracik strategi dengan pemaen-pemaen yang bukan pilihannya.

Kemudian cerita itu berlanjut  oleh Djanur. Secara keseluruhan masuknya Djanur tidak terlalu terasa apa-apa. Djanur masih menjadikan opsi gawir sebagey tumpuan, bahkan dalam formasi 4-1-4-1 sekalipun. Yang dirasa berbeda dari kembalinya Djanur adalah kondisi tim yang kembali kondusif, serta Djanur mau untuk mencoba hal yang baru. Merubah formasi dan merotasi pemaen termasuk adalah salah dua hal yang sering dilakukan Djanur. Bisa dibilang kepelatihan Djanur udah mulai meningkat ke level selanjutnya.

Pemaen yang merasakan menit bermain oleh Djanur diantaranya adalah Deden Natshir, Febri Bow, Jasuk, dan Prince Yandi. Agung Bacun tidak! Hahaha.

Deden terus menunjukkan performa impresif, bisa beberapa kali menjaga gawangnya klinsyit, bahkan sempet menggeser posisi Bli Made yang padahal udah cageur. Pede Deden meningkat sih sebenernya saat ia membawa Tim Pon Jabar meraih emas dan di partai final bisa nahan penalti pemaen Sulawesi Selatan. Dari situ Deden konsisten maen hade.

Kemudian ada Kim yang semenjak dikuncir meningkatkan kemampuan bermaennya. Kim tidak lagi sekedar maen aman, aya lah progressna mah. Menjadi bukti bahwa kritik itu perlu dan kudunya sih menjadi cambuk buat kita agar lebih baik. Dalam hal ini Kim sukser menafsirkan cambukan itu menjadi pelecut semangat dengan mengubah cara ulinna, lain justru mundur secara perlahan karena merasa tidak kuasa menahan kerasnya cambukan itu. Bayangkan, pemaen mana yang tidak terganggu mentalnya ketika edan eling dicaci sana sini, di lapangan atau di dunia maya, komo si Ayah Antonic udah ga ada di Bandung. Disini mental Kim bisa kuat dan Kim membuat cacian itu hilang sedikit demi sedikit.

Pemaen yang paling bersinar di musim ini udah pasti Febri Bow RX-King. Dari yang zaman Dejan tidak pernah maen sama sekali, kemudian di era Djanur menjadi pemaen kunci yang hampir pasti selalu ulin. Salah satu kehapeukan Persib di taun 2016 ini tertolong berkat penampilan luar biasa Febri Bow. Maen di sayap kanan, hampir semua bek luar kiri lawan beunang kartu koneng karena terpaksa kudu melanggar Gedebage Bois ini. Bow bisa menyingkirkan para seniornya jiga David Lelay, Aa Tantan dan Cak Sul. Syukurlah di tengah riuhnya badai di tengah hutan kita masih menemukan setitik cahaya kehidupan dalam diri Bow.

Selain pemaen yang bersinar, kemenangan yang bersejarah atas Persipura di 2 tempat juga pantas untuk diabadikan, terutama saat kemenangan eta terjadi di Stadion Mandala. Kabayang atuh hesena mengalahkan Persipura di rumahnya. Kakak Boci dan kawan-kawan udah tau segala jenis liang yang ada di rumput Stadion Mandala, rumput yang bergejolak juga manehna geus khatam. Maen bari pereum oge umpan ti Bio Paulin bisa neupi ka Kakak Boci di hareup. Bola sekelas di Piala AFF oge nurut disihir ku Kakak Boci, komo Stadion Mandala jeung isi-isina. Jika kemenangan ini bisa dikonversikan menjadi sebuah bentuk, maka bentuk kemenangan ini sudah tentu bakal masuk di dalam museum Asia Afrika. Maka, ayeuna mah cukup we kita ingat-ingat dalam tulisan.

Dari semua momen Persib di Turnamen Kopi 2016 ini, gul Mas Har ke gawang Perseru adalah yang paling pantas untuk dikenang, diceritakan kepada anak cucu kelak bahwa dulu ada seorang pemaen yang baru mencetak gul perdana setelah menanti 8 musim. Gul Mas Har ini mungkin akan lebih heroik dan lebih mudah untuk diingat dibanding dengan skor akhir pertandingan melawan Perseru yang berkesudahan 6-2 itu, atau kejadian Mas Har gelut dengan Tibo, atau gul indah tendangan gunting Sergio Botak ke gawang TNI. Gul Mas Har akan lebih terasa romantismenya dari seluruh kejadian apapun. Bahkan jika boleh berlebihan, gul Mas Har sama mengharukannya dengan gul penentu Jupe ke gawang Persipura di final ISL 2014.

Well, mungkin hanya sakitu momen-momen yang bisa kami bahas dan kami kenang. Selebihnya hanya sebuah kejadian-kejadian biasa yang dengan seiringnya waktu akan berlalu jadi abu. Mari lupakan musim kopi ini, songsong musim depan yang akan menampilkan Liga sesungguhnya (mun eweuh nu aneh-aneh deui)  dengan persiapan yang matang dan pemaen-pemaen kelas wahid. Rebut Piala ISL dari Gresik Yunaitid Pertahankan gelar juara ISL 2014 itu agar tetap di Kota Kembang.

 

Salam, @fah