Selamat Jalan Ricko Andrean

Cuaca Bandung hari ini tidak sepanas dua hari ke belakang. Pukul 14.00 WIB cuaca Bandung terlihat sedikit berawan. Kota Bandung memang sedang berduka hari ini. Kamis, 27 Juli 2017 pukul 10 lewat 10, seorang Bobotoh, Ricko Andrean menghembuskan nafas terakhirnya setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Santo Yusuf. Ricko merupakan salah satu korban pengeroyokan yang terjadi di stadion GBLA ketika tim kebanggaannya, dan kebanggaan kita semua, Persib Bandung menjamu Persija Jakarta. Hati kami terluka, kembali sepak bola harus menelan korban jiwa.

Ricko Andrean mungkin tidak pernah berpikir hidupnya akan berakhir di arena yang ia akrabi, di sebuah tribun stadion sepakbola. Layaknya seorang pawang ular yang tewas karena tergigit sengatan bisa ular, seperti itulah akhir hidup Ricko. Ricko datang ke Gelora Bandung Lautan Api bukan untuk meregang nyawa tapi sama seperti Bobotoh lainnya, untuk melihat dan mendukung secara langsung tim kebanggaannya Persib Bandung bermain. Jika Ricko berniat mengantar nyawa, buat apa repot-repot mencoba menyelamatkan The Jakmania dari keroyokan.

Kami memang tidak tau pasti bagaimana kronologi yang menimpa almarhum Ricko. Kabar yang beredar Ricko mencoba menyelamatkan seorang suporter Persija yang menjadi bulan-bulanan oknum Bobotoh. Saat hendak menyelamatkan suporter Persija dari amukan Bobotoh, justru Ricko dianggap sebagai teman suporter Persija tersebut. Naas, Ricko pun justru ikut dikeroyok hingga tak berdaya. Membaca kronologi yang berdar di dunia maya ini membuat kami merinding, waas dan sedih membayangkannya.

Kejadian ini mengingatkan kita akan sebuah trgaedi yang terjadi pada 27 Mei 2012, di Stadion Gelora Bung Karno yang menimpa salah seorang Bobotoh bernama Rangga Cipta Nugraha. Tragedi yang seharusnya menjadi alarm bagi kita agar jangan sampai kejadian tersebut terulang lagi di kemudian hari, namun apa yang terjadi, justru hal menyedihkan tersebut kembali terulang, pasca kematian Rangga  setidaknya ada 2 sampai 3 orang suporter tewas dalam sebuah perseteruan antar suporter, dan yang terakhir terjadi di kota kita tercinta ini, di markas baru Persib Bandung, Gelora Bandung Lautan Api. Benang merah dari rentetan kejadian tersebut adalah bukan dari berhasil menerobos masuk stadion rival atau kabawa buntut maung menyelamatkan suporter rival dari amukan suporter, tapi rivalitas Bandung-Jakarta yang kadung sudah diluar nalar. Beberapa orang bahkan lebih sibuk melakukan sweeping KTP daripada fokus mengamati tim kebanggaannya bertanding. Sejatinya yang bertarung memperjuangkan harga diri adalah para pemain yang bertarung di lapangan bukan para suporter.

Sepakbola bukanlah peperangan, di mana yang paling banyak menghabisi nyawa orang adalah pemenangnya. Sepakbola hanya perihal siapa yang mencetak gol paling banyak maka ia yang dinyatakan sebagai pemenangnya. Tanpa mengecilkan peran suporter kita tahu bahwa suporter hanya menjalani peran sebagai pendukung, bukan aktor utamanya. Yang menentukan suatu tim menang atau tidaknya adalah tim itu sendiri. Tidak ada cerita Persib jadi juara Liga Indonesia karena memecahkan rekor pendukung terbanyak se-Indonesia.

William Shakespeare, si penulis buku “Macbeth” pernah bilang: “Para pengecut akan mati berkali-kali sebelum kematian mereka yang sesungguhnya.” Mungkin, mereka yang melakukan pengeroyokan itu memang sudah mati hatinya sehingga lupa bahwa apa yang mereka lakukan adalah menghabisi nyawa seseorang tanpa alasan yang sama sekali tidak bisa dibenarkan. Haram hukumnya! Orang yang melakukan zina saja di Indonesia masih tidak boleh dibunuh, padahal itu balasan yang sesuai syariat Islam. Lah ini?

Kami memang tidak memiliki hak untuk memaksa melakukan perdamaian, banyak Bobotoh di perbatasan dengan ibu kota yang sering mengalami gesekan. Namun alangkah bijaknya dan memang dibutuhkan kebesaran hati dari kedua belah pihak untuk menyudahi rivalitas yang berujung hilangnya nyawa seseorang. Rasa empati sebagai sesama manusia memang dibutuhkan untuk menyudahi perselisihan yang tak kunjung usai.

Sejatinya semua pihak harus saling bahu membahau untuk menuntaskan perselisihan ini. Bukan sekadar saling tanda tangan surat perdamaian dari kedua belah pihak, bukan sekadar foto saling bersalaman namun memang harus ada aksi nyata agar perdamaian kedua supporter ini tercipta. Akar rumput dari kedua belah pihak pendukung ini yang perlu terus dibimbing agar tidak terjadi gesekan dan kebencian yang lebih mendalam. PSSI sebagai federasi tertinggi sepak bola Indonesia perlu ikut andil untuk menyelesaikan konflik dua kelompok suporter ini. Perlu ada langkah tegas dan konkrit dari PSSI, bukan sekadar mengizinkan Bobotoh boleh away ke Jakarta atau The Jak boleh away ke Bandung. Sebuah langkah naïf yang tidak menyelesaikan masalah.

Bila PSSI terlalu selow dan acuh tak acuh terhadap masalah rivalitas yang kelewat batas ini, mau tidak mau diri kita sendiri lah yang harus mencoba berusaha menghentikan rivalitas diluar nalar ini. Rivalitas cukup 90 menit, selepas itu ya sudah, karena hirup lain saukur mengbal hungkul. Sekali lagi memang diperlukan sebuah hati besar dan mengesampingkan ego agar kejadian yang memakan korban dari kedua belah pihak suporter tidak lagi terjadi. Memang butuh waktu, tidak ada yang instan untuk menyelesaikan rivalitas kedua belah pihak suporter yang sudah terjadi bertahun tahun. Tapi, apa yang telah dilakukan oleh Almarhum Ricko, menyelamatkan The Jakmania dari amukan saudaranya sesama Bobotoh Persib menjadi tamparan keras bagi kedua belah pihak suporter untuk bangun dan sadar bahwa rivalitas ini sudah tidak sehat. Banyak dari kedua belah pihak yang memang sudah lelah dengan permusuhan ini, sekarang memang saatnya langkah damai itu di-enyakeun agar tidak ada korban-korban lain di kemudian harinya.

***

Ada tangisan lain di luar sana yang lebih kencang dan lebih lama saat kehilangan seseorang. Mungkin kematian Ricko adalah cambuk agar perseteruan ini cepat selesai, walau teramat mahal harga nyawa jika ditukar dengan sebuah perdamaian. Sudah cukup korban berjatuhan karena sepakbola.

Mungkin ini adalah jawaban terbaik dari Tuhan untuk Ricko. Ketimbang terus-terusan terbaring menahan rasa sakit di kasur mahal yang tidak nyaman itu, Tuhan punya jalan yang sangat indah. Jalan yang mempertemukan Ricko dengan orang tuanya, di sebuah tribun yang paling damai, tenang, dan suci. Tidak bising dan tanpa perlu khawatir mati, karena mati itu sudah ia lewati. Yang terpenting, di tribun itu ia akan terus menerus menemukan kemenangan yang abadi.

Selamat Jalan, Ricko Andrean!

salam, [jay,fah/xuk]