Surat terbuka untuk Mang Jamril

Pita Pink

Do you know what we call opinion in the absence of evidence? We call it prejudice – Michael Crichton, state of fear.

Michael Crichton, penulis, bilang kalau opini tanpa bukti adalah sebuah prasangka. Kalau kata Kamus Bahasa Inggris versi Encarta, Prejudice (prasangka) adalah “a preformed opinion, usually an unfavorable one, based on insufficient knowledge, irrational feelings, or inaccurate sterotypes.” Lieur nya?

Kalau kata KBBI versi V, prasangka adalah, “Pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri”

Well, Blog stdsiliwangi bisa bertahan sampai 4 tahun lebih karena saya dan para pendirinya memegang satu prinsip, “bodo amat orang lain mau bilang apa, aing bakalan tetep nulis tentang Persib. Aya nu maca heug, teu kajeun.” Tapi, ketika kemudian Mang Jamril berprasangka bahwa kami tidak pernah hadir ke stadion, sehingga di satu titik bisa menjadikan tulisan kami bias –bias di sini kami teu ngarti oge sih konteksna naon– maka saya merasa perlu memberi jawaban atas tuduhannya tersebut.

Pertama biar saya jelaskan alur kerja blog stdsiliwangi. Paling lambat 3 hari sebelum hari pertandingan, Teguh Krismanto akan mengirim data statistik calon lawan sebagai dadasar samara bagi para penulis membuat teropong jodoh. Biasana deadline teropong jodoh adalah H-1 pertandingan, tapi karena satu dan lain hal yang nanti alasannya akan dijelaskan belakangan, kadang kala kami molor mem-publish tulisan teropong jodoh sampai ke beberapa jam sebelum pertandingan.

Di hari pertandingan, saya akan membagi-bagi tugas untuk semua anggota blog. Para penulis dan bagian data akan mencatat statistik pertandingan, membuat chalkboard. Winaldi, bagian IT, bersiap dengan postingan rating pemaen. Tim desainer, akan bersiap dengan tugas desain infografik. Tim editor bekerja paling akhir mengedit tulisan LPM dari para penulis, biasanya email tulisan baru masuk menjelang tengah malam, sedangkan deadline default LPM adalah jam 10 pagi. Sebuah tulisan hasil editan tim editor pun harus melalui proof reading dulu. Baru setelah selesai diperiksa tata urutan kalimat dan paragraf juga kesalahan tulis, Winaldi dapat lampu hijau untuk mem-posting ke blog.

Dengan ini saya akan menjawab saran-saran dari Mang Jamril.

Anggota blog kami ada 13 orang, dan hampir setiap pertandingan kandang ada anggota kami yang berangkat ke stadion. Dulu, saat kami hanya bertiga, kemudian jadi berlima di periode tahun 2012-2014, kami juga selalu hadir ke stadion. Di Stadion Siliwangi, kami menonton di tribun samping utara, di Stadion SJH kami menonton di tribun barat 1. Kami tidak selalu memposting ke sosmed kalau kami pergi ke stadion, ya kami rasa asa teu kudu oge sih update teterusan. Bukan style kami. Jika masih sangsi, sila tanya kepada kepada kawan-kawan di bagian pagar kiri bawah tribun samping utara/barat 1. Tanyakanlah, ‘barudak stdsiliwangi sok ka stadion tara?’

Kami juga datang saat awayday, kami pergi ke Sidoarjo saat Dejan hampir gelut dengan Bobotoh di depan bis. Kami datang ke Wibawa Mukti. Kami pergi ke Palembang saat Persib juara, kami pergi ke GBK saat juara lagi tahun 2015. Kami datang ke Pekanbaru saat menang 4-0 tahun 2013. Lebih tua lagi kami juga pergi ke Sleman saat lawan Persija. Ya, kami pergi awayday di tengah jadwal pekerjaan kami.

Mungkin Mang Jamril masih kesal dengan kejadian kami hanya membuat LPM satu babak saat lawan Persiba. Mengapa menggeneralisir hanya dari satu pertandingan?

Jika kemudian saran Mang Jamril adalah biar kami punya foto eksklusif tidak menyadur dari orang lain, pada dasarnya kami tidak membutuhkan foto ekslusif karena kami bukan situs berita. Kami memiliki gambar lain yang lebih eksklusif, yang tidak ada blog atau situs lain di indonesia miliki, Chalkboard Statistik! Sungguh, membuat chalkboard tidak bisa dikerjakan di stadion. Rariweuh atuh nyatet chalkboard di stadion mah, jaba eweuh replay. Sekarang ini kami juga selalu menonton ulang pertandingan di vidio.com untuk memastikan data kami benar.

Bahkan Opta dan Squawka juga tidak mencatat statistik di stadion. Mereka punya studio khusus menonton pertandingan dari layar monitor, dari siaran tv untuk kemudian diolah dengan software menjadi data. Bedanya mereka dan kami hanya di bagian software. Karena kami mencatat menggunakan kertas dan bulpen. Apakah kami jadi kaciri hayang jadi Opta? Mungkin iya. Apakah salah? Kenapa salah?

Perihal bagaimana jiga mati listrik? Kami memiliki penulis yang bekerja di Surabaya, desainer yang bekerja di Jakarta Selatan, pengepul data yang juga bekerja di Jakarta Timur, bahkan saya sendiri bekerja di lepas pantai selat Malaka, tinggal di sebuah base camp yang listriknya bukan dari PLN tapi dari turbin gas bumi milik sendiri. Kecuali satu Indonesia full mati lampu, dan turbin di base camp saya meledug secara bersamaan, kami akan ketinggalan tontonan. Nyatanya kami selalu punya anggota yang menonton pertandingan Persib dan itu bisa sedikitnya menjadi dasar untuk membuat LPM.

Kami mengakui, kadang kami salah menceritakan sebuah proses gul, atau momen-momen tertentu yang lupa dan tidak tertuliskan. Saya rasa tidak banyak, hanya sekitar 5% dari sekitar 100an LPM kami. Saya sebagai pemred bertanggung jawab atas momen-momen yang salah ditulis atau momen yang terlewatkan. Naha teu dicek ulang kejadian-kejadianna?

Dalam menuls LPM kami memiliki SOP. Paling utama adalah LPM memiliki batasan panjang artikel, maksimal 1300 kata dan rata-rata LPM ISC kami adalah 1200-an kata. Jika pergi ke stadion untuk mengetahui reaksi seorang pemaen, kondisi di bench, pundungnya pemaen A, kesalnya pemaen B. Itu semua bagi kami hanya gimmick, dan buat apa kebanyakan gimmick ditulis kalau analisanya justru jadi kegerus karena batasan 1300 kata tadi? Kalau dicermati juga, kami sering menulis hal itu, berapa kali Ferdinand Sinaga gogodeg saat Persib kalah lawan Semen Padang di musim 2014. Bagaimana Bang Pardi jogging saat diserang balik lawan, Vlado yang nyentak Zola, Lord Atep yang nangunjar bari bete. Kami menulis itu, kalau ada yang terlewat, sekali lagi, LPM adalah kisah pertandingan dengan bumbu utama analisis taktiknya, bukan analisis gimmick.

Kemudian soal bias. Menurut pemahaman kami, bias adalah pembelokan, seperti kalo di fisika penjelasan bias adalah pensil yang jadi tidak lurus karena cahaya dan air. Kami merasa tidak pernah membelokan kisah pertandingan Persib. Kalau alus ya kami puji, kalau goreng ya kami tulis butut. Beberapa hal yang tidak tertulis mungkin membuat LPM jadi tidak “seperti yang terjadi sebenarnya”. Sayang sekali memang, barangkali kemampuan analisis taktik kami belum secanggih itu. Eniwei, ini adalah motivasi agar kami lebih cermat mempelajari bagaimana pemaen Persib menjalankan taktik Djanur dalam 1 pertandingan.

Terakhir, ini adalah pembelaan dari saya terkait berbagai kelemahan di blog stdsiliwangi. Kami bekerja tanpa mendapat imbalan materi apapun. Jujur, Saya, Ilham, dan Irwan sebagai trio founder tidak memiliki dana untuk menggaji para penulis, pengepul data, desainer infografik, pengelola IT blog. Tidak seperti situs berita Persib yang lain, atau situs analisis sepakbola yang penulisnya digaji uang, kami disini digaji ucapan hatur nuhun.

Karena itu, tidak aneh kan kalau kami memiliki pekerjaan yang utama lainnya? Ada yang bekerja sebagai staff IT, Akuntan, Staff gambar teknik mereka yang bekerja dari jam 8 pagi sampe jam 5 sore, belum lagi kalau kudu lembur. Ada juga anggota kami yang sehari-hari menjalankan bisnisnya sendiri. Dari kantor yang mempekerjakan dan dari usaha mereka lah, mereka mendapat gaji sehingga bisa bayar cicilan motor dan kebutuhan hidup sehari hari, juga buat beli tiket Persib mun gawean libur. Bukan dari blog stdsiliwangi. Jadi mohon pengertiannya jikalau kami banyak memiliki kelemahan. Tugas utama adalah kantor, tugas blog belakangan.

Well, sekian surat dari saya untuk menjawab prasangka Mang Jamril. Hatur nuhun, katampi saran-saran dan kritiknya.

My courage always rise with every attemp to intimidate me. – Elizabeth Bennet, Pride and Prejudice.

Wassalam.

Ali buschen

Pemred stdsiliwangi

 

 

P.S. Lain kali, tolong DM saja langsung ke saya sebagai pemred jangan DM ke ex anggota kami. Hatur nuhun.