Audisi Mencari Duet yang Enakeun

bincang-bincang header

Vlado feat Jupe adalah andalan Djanur dalam menggalang lini pertahanan Persib Bandung selama mengarungi ISL 2014 hingga akhirnya menjadi juara. Total 25 laga mereka mentas bareng, ini artinya hanya 3 kali saja duet beda paspor ini tidak diturunkan secara bersamaan.

Hasilnya sangat memuaskan. Selama keduanya main bersama, Persib hanya menderita 4 kali kekalahan saja. Poin per pertandingan yang disumbangkan oleh duet ini adalah 2.04 point per pertandingan. Persentase kemenangan yang diberikannya pun cukup tinggi, 68% di setiap pertandingannya. Sementara untuk urusan clean sheet kedua bek jangkung ini berhasil menjaga gawang Persib tetep perawan sebanyak 8 kali dari total 8 clean sheet Persib sepanjang 2014!

Duet ini sesuai impenan coach Djanur. Kemampuan Jupe bermain lugas yang sering tanpa ragu menuar kaki lawan diimbangi dengan kemampuan Vlado mengkomandoin lini pertahanan membuat rapih pertahanan, memberi rasa nyaman seluruh pemain dan bobotoh.

Ketidakhadiran Vladimir Vujovic di lini belakang Persib ternyata menjadi bencana bagi Maung Bandung. Djanur sudah mencoba dua paket bek tengah di dua pertandingan Piala Jendral Sudirman. Dua pertandingan itu memperlihatkan lini pertahanan Persib yang kacau balau.

Saat ini Djanur seperti sedang melakukan audisi untuk mencari duet yang enakeun dalam melindungi bagian tengah pertahanan Persib.

Tiga Kandidat

Achmad Jufrianto tanpa Vladimir Vujovic bagai Meggi Z tanpa Z. Tidak lengkap dan bukan siapa-siapa. Kehilangan sosok sahabat sekaligus pemimpin di lini belakang merupakan suatu hal yang sangat menyakitkan memang. Bikin oyag hate dan permaenan. Kami teu nyangka ternyata Jupe begitu kanyeunyeurian ditinggalin Vlado.

Abdulrahman yang menjadi starter di pertandingan melawan Persela, masih setia dengan cara bermain yang budag-badug. Setelah berperan penting dalam dua kali kebobolannya Bli Made, Djanur langsung membangkucadangankan Abdul di pertandingan berikutnya. David Ngan Pagbe yang baru direkrut mengambil posisinya.

Pagbe yang diproyeksikan untuk menggantikan peran Vlado ternyata gagal memenuhi ekspektasi Djanur. Laga debut Pagbe berakhir anti klimaks. Koordinasi antara dirinya dan kiper sangatlah butut. Satu-satunya gol yang membuat Persib kalah adalah blunder dirinya saat berniat menyapu sepak pojok Surabaya.

Achmad Jufriyanto

Ahmad jufriyanto atau yang biasa kita panggil jupe, seorang pemain kelahiran Tangerang, Banten, 28 tahun yang lalu. Berposisi sebagai bek tengah, kadang-kadang juga bisa berposisi sebagai gelandang jangkar, tergantung suasana taktik Djanur.

Awal karir professional jupe adalah ketika bergabung bersama Persita Tangerang. Saat itu pasti banyak yang belum mengenal siapa itu Jupe, kalah tenar oleh seniornya Ilham Jayakusuma. Sesudah berkarir di Persita, Jupe pindah ke tim kota asal Malang yaitu Arema, disini sosok Jupe juga belum terkenal. Semusim di ngalam Jupe hanya bermain sebanyak 21 kali.

Tak lama berselang, pada tahun 2009, sosok Djanur yang kala itu melatih di Pelita Jaya mengajak Jupe untuk bergabung bersama. Di Sawangan itu lah Jupe bermain bersama Bang Utina, Haji Ridwan, dan Bang Pardi untuk pertama kalinya. Hanya satu musim di Pelita, Jupe bersama duet Pardi- Ridwan hijrah ke Sriwijaya FC. Firman Utina kemudian menyusul mereka ke sana dari persija.

Di Bumi Palembang Jupe meraih banyak gelar juara. Melihat catatan laporan pandangan mata, semenjak di Sriwijaya, Jupe lebih sering berposisi sebagai gelandang bertahan. Bakat Jupe semakin terasah dibawah asuhan Rahmad Darmawan, sampai-sampai mengasah sepakan bebas knuckle kick ala ala Ronaldo dan sering juga membuahkan gol. Panggilan timnas senior pun datang.

Jupe bermain untuk Laskar Wong Kito dari tahun 2010-2013, sebelum akhirnya musim 2014 menyusul Bang Utina, Bang Pardi dan Haji Ridwan ke Bandung. Persahabatan bagai kepompong. Tak heran postingan sosmednya kini banyak bersama mereka.

Sejak menangani Persib di musim 2013, akhirnya kepingan reuni ex-Pelita Djanur lengkap dengan kehadiran Jupe. Dengan tega Djanur mencoret bek favorit bobotoh, Abanda Herman, demi seorang Jufrianto. Bersama Djanur Jupe diproyeksikan kembali ke posisi bek tengah. Awalnya Jupe sering berduet dengan Abdul, Keduanya juga pernah berduet bersama ketika di Sriwijaya FC, kemudian datang duet sehatinya, Vladimir Vlado.

Ada 2 momen terbaik Jupe bersama Persib yang tak lekang dalam ingatan. Pertama saat berjumpa dengan PBR. Persib sangat kesulitan menembus kipper bule PBR, da emang jago sih kiper eta. Sampai di suatu masa terjadilah sepak pojok. Bang Utina yang mengambil. Tendangan golotok cinong Bang Utina tidak disangka-sangka oleh kawan dan lawan, semua pada heboh mencoba mengambil bola tapi ngelos kabeh. Ketika itu Jupe berada di posisi pojok tiang jauh sebelah kiri Romanovs dan bisa menendang operan jenius tersebut ke gawang PBR dan akhirnya persib berhasil memecah kebuntuan. 1-0 kemenangan bagi Persib

Terbaik lagi tentu saja, jangan lupa momen 7 November 2014 di Jakabaring. Penuh kewolesan, tendangan penalti terakhir Jupe ke gawang Deden Sulaiman berhasil membawa Persib sebagai juara.

Takdirlah yang mempertemukan Jupe dan Vlado di Bandung. Dari kolega bermain bola yang profesional menjadi cees luar dalam lapangan. Sedih memang saat Jupe kamari sempet-sempetna memposting di IG tentang perteman mereka baik diluar maupun didalam lapangan.

Jupe sebagai pasangan Vlado, soulmate di dalam dan di luar lapangan sudah sepantasnya menjadi pemimpin pertahanan Persib menggantikan Vlado. Sejauh ini Jupe masih terlihat antara ragu-ragu nitah tapi da kudu.

David Pagbe

David Pagbe bukanlah orang baru di dunia persepakbolaan Indonesia. Ia sudah menghabiskan waktu selama 5 tahun berkarir disini, selama itu juga ia sudah membela 4 klub indonesia termasuk Persib sekarang.

Pagbe mengawali karir di Indonesia bersama klub divisi utama Persikabo, bersama klub asal Kabupaten Bogor tersebut, pemain yang kini berusia 37 tahun, bermain selama 3 musim. Sepanjang membela Persikabo ia hanya membawa klub berjuluk, punten teu apal julukan Persikabo naon, berkutat di papan tengah divisi utama. Prestasi terbaiknya yaitu membawa Persikabo lolos ke babak 8 besar divisi utama musim 2008-2009. Kala itu di babak 8 besar, Persikabo menempati posisi juru kunci Grup 1 sehingga gagal lolos kebabak semifinal.

Hingga akhirnya pada musim 2010/2011 ia menerima pinangan klub asal Minang, Semen Padang yang masih berlaga di Liga Super Indonesia. Di musim pertamanya membela Semen Padang ia langsung menjadi pemain andalan Nil Maizar. Kabau Sirah berhasil finish di papan atas, peringkat 4.

Barulah di musim keduanya berseragam merah merah, masih dibawah asuhan pelatih Uda Nil Maizar, Pagbe berhasil mempersembahkan gelar Liga Primer Indonesia musim 2011/2012. Liga yang berisi klub-klub leheundaris Tangerang Wolves dan Real Mataram.

Saat itu Semen Padang juara dengan pertahanan paling kokoh se liga. Hingga akhir musim Semen Padang hanya kebobolan 21 gol dari 22 kali bermain. Pagbe memegang peranan penting dalam pencapaian itu. Sebagai bek bertipikal commanding center back, dirinya bisa mengkoordinasikan lini pertahanan yang kokoh saat diserang lawan. Ngan Pagbe juga lihai dalam build up serangan dari bawah.

Menjelang musim 2013 David Pagbe terpaksa harus naik meja operasi karena cedera lutut yang didapatnya ketika Semen Padang berujicoba dengan Persita pada bulan September 2012. Ia harus beristirahat kurang lebih enam bulan.

Usai dibekap cidera Pagbe baru menjalani comebacknya 7 bulan kemudian tepatnya pada 14 mei 2013 ketika Semen Padang menjamu wakil asal Vietnam SHB Da Nang dalam lanjutan babak 16 besar AFC Cup. Waktu itu Semen Padang, yang sedang berada dibawah caretaker Jafri Sastra/Suhatman Imam karena Nil Maizar yang menjalankan wajib bela negara membesut timnas Indonesia dia ajang AFF cup, tengah menjalani laga hidup mati. Sebagai tuan rumah dalam format single match mereka malah tertinggal lebih dulu di menit 31.

Respon cepat ditunjukan pelatih sementaun Semen Padang dengan memasukan David Pagbe pada menit ke 41. Pagbe yang bek ketika itu melakukan penetrasi di sisi kanan, dikawal oleh dua orang pemain SHB Da Nang, Ia berhasil mengecoh dua pemain tersebut. Namun ketika pagbe berlari memasuki kotak pinalti salah satu pemain Da Nang teu nyakola melakukan tekel dari belakang sehingga wasit menunjuk titik putih.

Bola yang dieksekusi oleh Edward Wilson Junior berhasil menjebol gawang tim asal Vietnam tersebut sehingga menutup babak pertama dengan skor menjadi 1-1. Hasilakhirnya Semen Padang menang 2-1.

Di musim ketiganya bersama Semen Padang lagi-lagi jurig cedera datang menghampiri. Cedera saat melawan Arema di akhir putaran pertama ISL 2014, Pagbe baru puncunghul datang deui di akhir putaran kedua. Walau begitu ia berhasil menghantarkan Semen Padang duduk di peringkat 3 klasmen akhir penyisihan wilayah barat liga super Indonesia. Persis berada satu strip dibawah Persib, dengan capaian ini tentunya Semen Padang berhak melaju ke babak 8 besar. Di babak 8 besar langkahnya terhenti setelah hanya berada di posisi 3 klasemen akhir grup 2 karena kalah oleh Novari Ikhsan Arilaha di pertandingan terakhir.

Total ia hanya memainkan laga sebanyak 14 kali pada musim 2014. Peran sentralnya di lini pertahanan Semen Padang membuatnya selalu dimaenkan tiap kali cageur. Pagbe membantu Semen Padang 5 kali clean sheet dan karena maennya saeutik tingkat kebobolan Pagbe luar biasa hanya 0.71 gol per pertandingan.

Akibat cidera kambuhan yang dideritanya pada musim 2015 Semen Padang memutuskan untuk tidak menggunakan jasa nya lagi. Sempat hupir mencari klub akhirnya Pagbe bermain untuk Persela Lazio Lamongan. Gaya permainan Pagbe yang kalem mampu mebangun serangan dari belakang membuat pelatih Persela, Didik Ludianto bersedia menampungya. Sayang harapan tinggal harapan, kompetisi ISL keburu dihentikan akibat Hinca memutuskan force majeur.

Pagbe ini bagus sih, tapi baheula basa ngora. Ayeuna setelah kolot mah hupir dengan tuurnya. Itulah akibatnya kalau banyak ocolang di waktu ngora, mereun. Jika Pa Yaya bisa membuat kondisi Pagbe joss kembali, seperti dulu membuat Bang Utina dari yang hupir jadi bisa maen 120 menit di final, ada harapan Pagbe bisa menggantikan peran Vlado.

Abdulrahman

Ketika itu usianya masih sekitar 20 tahun, dengan keteguhan hatinya, ia memberanikan diri mengikuti seleksi di sebuah tim terbaik Indonesia, Persib Bandung. Hanjakal usahanya kala itu belum mampu membuat Uwak Haji terkesan. Ia gagal memperkuat skuad Persib musim 2010/2011. Namun jalann lain sepertinya sudah ditentukan oleh Pangeran nu Maha Kuasa, Djadjang Nurjaman yang kala itu tengah membesut Pelita Jaya tertarik untuk memboyong seorang Abdulrahman ngora ke Karawang.

Bersama mang Djajang, Abdul tampil sebanyak 16 kali, ikut serta dalam misi menyelamatkan Pelita dari cengkraman jurang degradasi. Karena dianggap hade dan boga potensi, panggilan timnas U-23 datang. Dilatih Rahmad Darmawan, Abdul menjadi bek tengah inti berduet dengan Gunawan Dwi Cahyo. Kompak sebagai duo benteng pertahanan keduanya berhasil membawa Timnas lolos ke babak final. Ngan hanjakal deui wae, Indonesia eleh adu penalti lawan malaysia.

Dari ajang ini nama Abdul mulai berkibar. Banyak klub-klub ISL mulai tertarik ingin menggunakan jasa bek ngora ini sebagai petugas penjaga keamanan kiper. Semen Padang lah yang kala itu berhasil mendapatkan servis pemuda kelahiran makasar 1988 ini. Bersama Semen Padang ia tampil sebanyak 13 pertandingan. Di Padang juga Abdul ngarasaan gelar juara. Berduet dengan David Pagbe sebagey bek inti, Abdul ikut juara IPL.

Setahun saja ia berada di kota padang. Musim berganti ia memutuskan untuk menyebrang ke kota Palembang, di kota jembatan Ampera ini ia kembali menjadi andalan pelatih Kas Hartadi di ajang liga super Indonesia musim 2013. Tampil sebanyak 27 kali, pengalaman bermain Abdul semakin terasah. Sepanjang musim 2013 membela Sriwijaya, Abdul menyumbang 14 kemenangan, 4 hasil imbang dan 9 kekalahan. Tingkat kebobolan Abdul lumayan hupir di angka 1.78 gol per pertandingan. Tiap kali maen mun teu kagolan hiji nya kagolan dua. Tapi, jumlah clean sheet nya lumayan, mencapai 6 kali bebas gol. Sriwijaya finish di urutan 5 liga 2013.

Setelah sempat gagal lolos seleksi di Persib Bandung tea baheula basa ngora, musim 2014 kesempatan untuk membela persib bandung akhirnya datang. Lagi-lagi Djanur yang memanggil Abdul. Kesempatan tersebut pun langsung Abdul ambil dengan senang hati seperti diceritakannya saat wawancara dengan tribun beruikut ini

“saya sangat bangga dan senang bisa kembali berlabuh di persib. Ini keinginan saya sejak dulu”

Di Persib ternyata menit bermain Abdul menurun drastis. Djanur lebih suka memainkan duet Vlado dan Jupe. Padahal saingan Abdul cuma 2 orang, tapi yah sekelas Vlado dan Jupe. Total ia hanya turun bertanding sebanyak 12 kali saja, 4 kali sebagai starter dan 7 bermain dari bangku cadangan. Menit bermainnya pun hanya 381 menit. Sebagai pemain pengganti Abdul sering dimasukan di menit 80an. Dari 4 pertandingannya sebagai starter tak sekalipun Abdul membuat gawangnya tetap clear. Aya weh kabobolanna.

Sepeninggal Vlado, kesempatan menjadi bek inti datang. Hanjakal untuk kesekian kalinya bagi Abdul. Maennya teu alus. Tidak bisa menyusun serangan dengan baik. Habengkeun weh hantem tiap kali memegang bola. Banyak juga pelanggaran dia bikin di posisi berbahaya. Prinsip teu beunang balna, badug awakna masih setia dijalankan. Dengan penampilan yang konsisten seperti itu, Abdul tidak bisa diharapkan menjadi gaganti Vlado.

Alternatif terakhir yang belum dicoba Djanur adalah menggunakan duet Abdul-Pagbe yang pernah membawa Semen Padang juara IPL baheula. Mendorong Jupe bermain lebih tinggi sebagai gelandang bertahan seperti baheula di Sriwijaya. Ah tapi, loba teuing baheulana taktik kieu mah. Mening ulah lah.

Saat ini kita cuma bisa berharap pada Djanur dan keajaiban. Keajaiban tiba-tiba Jupe bisa jadi komandan lini belakang, atau keajaiban Pagbe fisiknya jadi sekuat domba garut, atau keajaiban Abdul jadi bisa ngoper dengan akurat. Jika tidak, mari kembali ke In Djanur We Trust.

Sampai jumpa lagi. Siapapun duet bek tengah Persib nanti malam lawan pbfc, semoga bisa menjaga Made tetap tenang dan tidak kebobolan. Persib juara!

 

@xuk @omz @bus

Follow kami di twitter @stdsiliwangi.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart