Become a Legend

ngadu bako header

Selepas Robi Darwis pensiun, hanya ada sedikit nama yang bisa dinilai cukup mendekati pencapaian Robi sebagai kapten. Salah satunya adalah Dadang Hidayat. Well, daripada pencapaian prestasi membawa persib juara, Dahi mendapatkan penghormatan yang besar dari bobotoh karena curriculum vitae beliau yang hanya mencantumkan 1 kesebelasan dalam karier profesionalnya. Dadang Hidayat, one man, one club legend!

Penghormatan yang diperoleh Dahi, menjadikannya sebagai salah satu legenda, cult hero, tidak dicapai dengan mudah. Tidak seperti Robi Darwis yang membantu Persib meraih 4 gelar juara se endonesia sebagai pemaen andalan di dalam lapangan, Dahi lebih banyak duduk di bangku cadangan. Dari 12 tahun pengabdian Dahi untuk Persib, hanya di tahun-tahun terakhirnya, ketika Dahi sudah berusia kepala 3, posisi bek kanan dia mainkan secara reguler.

The Next Legend

Fast forward ke jaman ayeuna, bobotoh sempat mempertanyakan mengenai motivasi para pemaen lulusan diklat yang maennya kitu-kitu wae, boro-boro bisa jadi pemaen inti andelan, asup daftar susunan pemaen wae geus sukur. Terutama mereka yang tidak pernah keluar Persib untuk nyiar elmu dan pengalaman ka luar tanah sunda. Muncul nama-nama Rudiyana, Jajang Sukmara, M Agung dan Prince Yandi yang loba disorot karena tidak pernah berhasil menembus skuad inti dengan usaha sorangan. Maen jadi starter pasti kusabab pemaen inti di posisina teu bisa maen.

Ada apa sebenernya dengan mereka? Padahal beberapa nama seangkatan mereka sudah bisa menembus skuad inti, lulusan ssb di Bandung jiga Dado Kusnandar, Dias Angga, Jajang Mulyana. Bahkan nu leuwih ngora ge geus bisa siap menyalip, Gian Zola, Febry Bow, Hanif Syahbandi, Deden Natshir, bocah-bocah ini menunjukan potensinya bukan cuma di level tim ngora tapi di pertandingan lawan kolot.

Merujuk pada pengalaman Bang Ferdinand yang mengambil jalan panjang berliku sebelum akhirnya bisa membawa Persib juara, mungkin sudah saatnya pemaen-pemaen “ngora” pituin sunda itu untuk keluar Persib mencari ilmu dan pengalaman biar suatu saat nanti boleh kembali jika sudah jagoan. Kecuali untuk satu nama, M Agung Pribadi!

Begini, menjadi seorang legenda karena bermain hanya untuk satu kesebelasan sepanjang karier bermain profesional di abad ini sudah sangat langka. Kita beruntung memiliki Dadang Hidayat, dan akan lebih mengasikan jika kita memiliki satu lagi yang semodel begitu.

Dari beberapa nama yang ada di skuat kali ini, nominasinya jatuh kepada Jasuk, Rudiyana, dan Agung.

Jasuk yang Semakin Ngagurusuk

Jajang Sukmara sempat diandalkan oleh Drago Mamic untuk mengisi posisi bek kiri tapi hasilnya wakwaw. Menit bermain yang Jasuk dapatkan semakin menurun, tidak lain karena hampir di semua kesempatan yang pelatih berikan Jasuk sendiri mengacaukannya, siapapun pelatihnya. Menjadi bek kiri memang tidak mudah, apalagi kalau partner kamu adalah Lord Atep, tapi itu bukan sebuah pembenaran untuk dispensasi maen butut. Penempatan posisi Jasuk sering ngagantung, marking pemaen sayap lawan yang potong kompas ke kotak penalti sok malaweung, dan salah satu yang sering fatal adalah kebiasaan Jasuk ngasih tendangan bebas di sisi kiri pertahanan Persib, sleding tekel Jasuk picilakaeun wae untuk pertahanan Persib. Makin kesini Jasuk ge tidak semakin hade permaenannanya.

Djanur sempat kepikiran memaenkan Jasuk di kanan dan Dias di kiri buat masa depan Persib, kusabab Jasuk apeu pisan di kiri, tapi di kanan ge ternyata Jasuk kurang mengigit. Bahkan kini di bawah Dejan Jasuk tidak pernah dimaenkan di pertandingan beneran.

Run, Rudiyana Run!

Rudiyana, tahun 2014 masuk ke skuad utama persib di saat yang tepat, langsung kabawa juara walau ngan maen 3 kali dengan total menit bermain setengah jam. Permainan Rudiyana di dalam lapangan lah yang sering nyieun kesel. Lain sakali dua kali, penguasaan bola Persib hilang ketika bola dioper ke Rudiyana. Sebenernya potensi Rudiyana kadang kala kaciri. Bagaimana pergerakan tanpa bolanya di area lawan sering kali emang bagus, bisa membuat peluang untuk dirinya sendiri atau pemaen laen. Contohnya di gol Konate pas penyisihan grup piala presidend di bandung basa mangkukna. Tapi, determinasi untuk bergerak tanpa bola ini yang juga sering nyilakakeun. Saat melawan Mitra Kukar di Kutai yang paling diinget mah, kumaha carana eta striker bisa nyieun pelanggaran di luar kotak penalti sisi kiri Persib? Uteuk? Dan yah, lain sakali dua kali Rudiyana tanpa bola bergerak motah teuing kaditu kadieu.

Kelakuan itu sudah saatnya kudu bisa diubah oleh Rudi menjadi pemicu biar dia bisa meraih potensinya. Dejan sih bakalan resep ka pemaen nu daek ngudag bola kaditu kadieu jiga Rudi ieu. Ayeuna tinggal manehna daek teu leuwih serius, daek munculkeun kahayang biar manehna bisa maen lebih alus teu saukur puas geus juara sa endonesia jeung Persib. Jalan Rudiyana masih panjang. Mungkin jika nasib alus manehna bisa jadi the next Bang Ferdinand, tapi syaratna kudu ngilu jalan panjang Bang Fer kaluar Bandung.

Mamic kepada Djanur kepada Dejan

Tibalah gilirannya M Agung. Ikut membantu Maung Ngora dan Maung Bandung juara liga endonesia. Jovo Cuckovic lah yang mencoba merealisasikan potensi yang dimiliki Agung. Kemampuannya bermain di berbagai posisi menjadi keunggulan, apalagi dia masih ngora basa eta, jadi masih mencari bentuk permaenan terbaiknya dan dibimbing Jovo, Daniel Roekito dan Mamic adalah sebuah kemewahan tersendiri.

Sampai kemudian tiba momen Agung mengacaukan segalanya di pertandingan lawan Persija Jatihandap. Daniel Roekito langsung mengganti Agung di pertengahan babak pertama, setelah itu perkembangan Agung tertahan. Bayangkeun, sebelum pertandingan lawan Perjisa itu, Agung maen 8 kali dengan 6 diantaranya maen full 90 menit. Setelah chaos lawan perjisa, Agung cuma maen sakali. Sepanjang 2012-2013 menit bermain Agung nyaris 0.

Bayang-bayang kambing hitam eleh lawan perjisa di kandang sepertinya masih membekas di Agung sampai dua musim berikutnya. Dengan menit bermain yang sedikit sekali Agung masih aja sempet bikin error. Maen 5 menit, error sakali, boa edan. Di musim 2013, ketika Djanur penuh tekanan, Agung ngan maen sakali, eta ge injury time.

Tahun 2014 Agung mulai kembali bounce back, jumlah pertandingan Agung kembali naik dan untuk pertama kalinya jumlah pertandingan Agung lebih banyak dari Jasuk. Juga untuk pertama kalinya sejak Juli 2012 Agung bermain 90 menit lagi, pas lawan Persebaya di babak 8 besar.

Setelah pertandingan itu Agung mulai meniti kembali performanya. Masih kurang meyakinkan sih, kurang cukup buat bisa membuat pelatih memberi pertimbangan dijadikeun starter, tapi menunjukkan progress. Ketika dipasang sebagai gelandang bertahan atau bek kanan Agung bisa meminimalisir kesalahan.

Hawar-hawar, Dejan katanya sudah memutuskan untuk memfokuskan posisi Agung, sebagai bek kanan. Sebuah keputusan yang penting. Tahun ini Agung bakal berumur 27 tahun, geus teu ngora deui ternyata. Memiliki posisi yang pasti sudah menjadi sebuah kebutuhan. Dulu di jaman Maung Ngora Agung dan Dias berduet mengisi posisi gelandang tengah, kini keduanya bakal berkompetisi memperebutkan posisi Bek kanan. Mungkin Dejan terkesan dengan penampilan Agung saat berhasil mematikan Vizcara di pertandingan terakhir BIC. Kalau Dejan dan Mamic sama-sama berpikir masa depan Agung di bek kanan, kini tinggal Agung yang memutuskan apa dia daek membuat motivasi lebih untuk menjadi legenda Persib, lain ngan saukur motivasi menjadi pemaen Persib.

Your Call, Agung

Model Agung, Jasuk, Rudiyana ini keliatan sudah puas berhasil mencapai cita-cita masa kecil bermain untuk Persib. Butuh keinginan lebih dari cita-cita menjadi pemaen Persib bagi para pituin ini biar bisa berguna lebih, tercatat lebih, dan menjadi cult hero.

Kenapa Agung layak menjadi The Next Dadang Hidayat? Posisi udah sama, masa membela Persib sudah setengah jalannya Dahi ditempuh Agung, Dahi 12 tahun, Agung 6 tahun dan terus berlanjut. Masuk skuad juara sebagai cadangan juga sudah dilakukan Agung seperti Dahi.

Yang perlu Agung lakukan sekarang adalah memaksimalkan setiap menit peluang bermaen dengan bermain tanpa membuat kesalahan, bikin Dias, yang pernah ‘kabur’ ke Samarinda dan PBR (hehehe hampura Yas), lalajo di bench.

Ngasah kawani dan mental oge wajib, karena untuk menjadi Kapten dibutuhkan kemampuan ngajaga pemaen-pemaen lain plus mental baja menghadapi tekanan bobotoh.

Well, kumaha Gung? Dek kieu-kieu wae atau dek mewujudkan impian bobotoh jaman ayeuna memiliki legenda one man club dari generasinya sendiri. Dadang Hidayat butuh waktu 6 musim jadi cadangan, ayeua geus tahun ka 6 Agung, jatah maen butut geus beak. Now or never. Your call.

Sampai jumpa lagi.

@bus

Follow kami di twitter @stdsiliwangi

p.s. revisi ba’da jumatan. perihal pelatih-pelatih. Aya harewosan Jasuk cenah pernah maen di klub lain, konfirm?

p.s.s time iiiisssss… Poolllliing!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart