Berjaya di Tanah Legenda

Partai final Cabang Olah Raga PON Jabar 2016 digelar di Stadion Jalak Harupat, Soreang. Pada partai final, Jawa Barat selaku sang tuan rumah akan berhadapan dengan tim kejutan yaitu Sulawesi Selatan yang berhasil mengalahkan Sumatera Selatan. Partai final PON ini menyuguhkan pemandangan berbeda di setiap tribun Jalak Harupat. Banyak sekali orang-orang yang datang dengan membawa lengkap anggota keluarga mereka. Mereka semua menikmati pertandingan final PON yang cukup menegangkan ini sambil bersenda gurau, murak bekel, dan gogorowokan menyoraki pemain Jabar ataupun pemain Sulsel. Bahkan ada seorang ibu-ibu yang begitu semangat gogorowokan meneriaki para pemain Jabar bila melakukan kesalahan, mungkin si Ibu adalah orang tua dari salah satu pemain Jabar.

Dalam laga final kali ini, tiga punggawa tim senior Persib Bandung yaitu M.Natsir, Febry Haryadi dan Gian Zola. Kita mulai dari pemain pang tukangna yaitu M.Natsir. Dalam pertandingan 2×45 menit plus babak perpanjangan waktu, gawang Deden Natsir sangat minim sekali serangan. Sulsel yang bermain bertahan dan serangan balik, membuat Deden Natsir lebih banyak menikmati dinginnya udara Jalak Harupat daripada ripuh menghalau tendangan lawan.

Minim aksi penyelamatan dalam 120 menit, Deden Natsir justru melakukan dua penyelamatan beruntun dalam babak adu penalty. Satu penyelamatan Deden Natsir lakukan disaat yang tepat, yaitu ketika tenandang kelima dari kubu Sulsel sebagai penentu berhasil digagalkan Deden Natsir untuk melanjutkan babak penalty hingga penendang ke enam. Setelah pemain Jabar sukses mengeksekusi tendangan penalty ke enam, Deden Natsir berhasil memblok tendangan pemain Sulsel yang mengarah ke tiang kanan gawang. Deden menjadi pahlawan kemenangan Jabar dalam babak adu penalty sekaligus memastikan Jabar merebut medali emas dari cabang olah raga sepak bola.

Lanjut ke lini tengah, jendral lapangan tengah skuad PON Jabar dilaga final diisi oleh Gian Zola. Zola memiliki kemampuan membawa bola yang bagus ditambah memiliki umpan-umpan yang cukup joss untuk rekan-rekannya. Namun, di laga final kali ini Zola lebih sibuk berhadapan dengan para pemain gelandang bertahan Sulsel yang begitu ketat menempel pergerakan Zola. Zola terlihat kesulitan untuk bisa lepas dari penjagaan para pemain Sulsel dan setiap Zola memegang bola sudah pasti Zola akan dituar dengan suku-suku nya oleh para pemain Sulsel.

Sangat terlihat tim PON Jabar mengandalkan kreatifitas dari Zola sebagai playmaker di tim ini. Ketika Zola dikawal ketat oleh para pemain Sulsel, Jabar terlihat begitu kesulitan mengalirkan alur bola dan mengembangkan permainan di daerah pertahanan Sulsel. Namun diakhir-akhir babak kedua, Zola berhasil mencuri celah untuk melepaskan diri dari kawalan para pemain Sulsel, hasilnya Zola berhasil mampu meberikan umpan terobosan kepada Febry, sayang sekali Febry gagal mengkonversi umpan tersebut menjadi sebuah gol. Setelah kejadian tersebut, Zola kembali terus ditempel oleh pemain Sulsel dan hasilnya Jawa Barat harus melakukan babak drama adu penalty. Zola sebagai salah satu eksekutor, berhasil menceploskan bola ke gawang Sulsel.

Terakhir, disektor gawir Jabar, Persib menyumbangkan sosok Febry Haryadi. Febry yang bermain di sector gawir kanan PON Jabar pada laga final ini bermain cukup bagus di babak pertama. Beberapa kali tusukan-tusukan Febry mampu mebuat lini pertahanan Sulsel kesulitan untuk meladeni keceptannya. Kolaborasinya dengan bek sayap kanan PON Jabar yaitu Henhen mampu memberikan variasi serangan di gawir yang cukup ngeunaheun. Walau dari segi umpan crossing mah yah masih sakapeung kaditu sih umpan crossing Febry, tidak jauh berbeda dengan rekan-rekannya di tim senior Persib Bandung.

Pada babak kedua, Febry dipindahkan ke sector kiri, bertukar posisi dengan Erwin Ramdhani. Babak kedua ini, penampilan Febry kurang begitu terlihat. Febry jarang sekali mendapat bola plus dituturkeun kaditu kadieu ku pemain Sulses agar Fevry tidak leluasa untuk mengeksploitasi sisi knanan pertahanan Sulses. Walau sekali Febry berhasil mendapat bola, usaha Febry selalu gagal untuk bisa melewati hadangan para pemain Sulsel yang sering main tuar suku. Satu satunya peluang yang didapat Febry di babak kedua adalah ketika dia berhasil lolos jebakan offside mencoba memanfaatkan umpan dari Zola, kemudian melakukan tendangan langsung ke gawang, sangat disayangkan bola tembakan Febri melenceng ke sisi kanan gawang Sulsel.

Memikat Hati

Selain penampilan dari Deden, Zola dan Febry ada beberapa pemain PON Jabar yang sebenarnya cukup baik bermain di laga final ini. Para pemain ngora Jabar ini siapa tau dimasa depan bisa menjadi tulang punggung untuk tim kesayangan kita, yaitu Persib Bandung. Dalam laga ini, dua pemain di lini belakang PON Jabar bermain cukup baik dan lugas. Pertama, pemain bernomor punggung 12, Henhen mampu menunjukan performa menjanjikan di posisi bek sayap kanan. Posisi yang sebenarnya sangat ripuh saat ini di Persib Bandung. Kombinasinya dengan Febry di sector gawir kanan PON Jabar mampu menghadirkan variasi serangan yang cukup bagus. Kadaek Henhen untuk maju membantu penyerangan plus disiplin dalam bertahan menjadi nilai joss dalam penampilannya di laga final malam ini. Namun, kemampuannya memberikan umpan crossing harus terus ditingkatkan, agar penampilannya lebih joss lagi dan Persib bisa punya bek sayap yang jos segala-galanya.

Kedua, pemain bernomor punggung 21 yaitu Sugi Pangkali. Ditunjang oleh postur yang bagus sebagai pemain belakang, Sugi mampu berkali-kali mematahkan serangan-serangan para pemain Sulsel dalam duel satu lawan satu. Sugi berhasil melakukan intercept yang mampu membuat gawang Deden aman tanpa serangan. Beberapa kali juga Sugi terlihat maju untuk membantu pertahanan dan sekali melakukan percobaan tembakan ke gawang walau tendangannya masih tipis diatas mistar gawang Sulsel. Penampilannya yang ngotot menjadi nilai lebih dari penampilan Sugi Pangkali pada mala mini.

Dilini tengah, sang kapten Abdul Aziz menjadi pemain yang mampu memikat hati pada laga final mala mini. Bermain sebagai jangkar dalam tim PON Jabar, Abdul Aziz mampu menjadi komando dilini tengah. Abdul Aziz memiliki akurasi umpan jauh yang cukup bagus, beberapa kali umpan jauh berhasil mendarat di kaki rekan-rekannya. Tetapi, Aziz terkadang telat untuk turun membantu pertahanan. Akibatnya, beberapa kali para pemain Sulsel mampu memanfaatkan celah yang ditinggalkan oleh Aziz. Aziz masih membutuhkan jam terbang lebih banyak lagi agar penampilannya semakin membaik.

Dan terakhir, pemain yang mampu memikat hati adalah Erwin Ramdhani. Dalam laga final ini Erwin menjadi pemain gawir yang mampu merepotkan lini belakang Sulsel. Kecepatannya mampu membuat para pemain belakang Sulses raripuh untuk menghentikannya. Bahkan, memasuki babak kedua Erwin ditempatkan sebagai striker tengah atau istilah kerennya mah Jabar tadi pake False Nine. Kadaek Erwin untuk berduel dan menusuk ketengah pertahanan Sulsel seolah memberikan gambaran bahwa pemain gawir tidak perlu menyusur gawir terus menerus hingga garis finis seperti para gawirers di Persib Bandung. Walau gagal mengeksekusi tendangan penalty di babak adu penalty, tapi performa Erwin sebagai salah satu pemain PS TNI patut ditandaan sebagai calon pemain Persib di masa depan.

 

Follow kami di @stdsiliwangi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart