retarded referee

retarded referee

Minggu kelam, sekelam pandit-pandit kami yang pada jomblo, skuat maung bandung harus terjungkal untuk pertama kalinya musim ini juga kekalahan perdana di kandang. Padahal lawannya cuma semen padang yang baru saja hijrah dari IPL. Djanur menurunkan skuat yg menurutnya winning team, Djibril starter untuk pertama kalinya, sekaligus pertandingan pertama di kandang baginya. Di kubu semen padang ada mantan-mantan yang cukup mencolok yaitu eka dan airlangga.

babak pertama PERSIB seperti biasa cenderung dominan, banyak menguasai pertandingan. Peluang pertama dari Djibril hampir dapat memecah kebuntuan PERSIB yang selama ini sulit mencetak gol di babak pertama. Sayangnya, setelah itu terlihat beberapa pemain seperti kebingungan karena sulit menembus lini pertahanan semen padang yang solid. Seperti kami katakan sebelumnya, strategi Djanur yang begitu-begitu saja, bahkan monoton dan kentara gak punya plan b. well, kami tidak salah, itu terjadi pada pertandingan ini, PERSIB selalu bertumpu pada kedua flanknya yang bermain underperform kemarin.

Momentum Semen Padang.

Keasikan menyerang, PERSIB malah dua kali kecolongan gol oleh semen padang. Pertama dicetak oleh viscara. Berawal dari tendangan bebas yang dilakukan oleh *teuing saha ngarana* mengarah ke*teuing saha oge ngarana* yang kemudian dioper lagi melalui sundulan *oleh lagi-lagi teuing saha atuh ngarana* kepada viscara. Viscara ini diposisikan sebagai flank kiri oleh pelatih semen padang, role nya mirip seperti inverted winger gitu lah. Harusnya Supardi sebagai full back kanan yang bertanggung jawab menjaga pemain nomer 23 ini, entah kamana eta bek PERSIB. tanpa kawalan yang berarti viscara dapat dengan mudah menceploskan bola kegawang yang dijagaan oleh Made Wirawan. Sekitar menit 60,  pergerankan hendra bayaw mengecoh Vujo, kemudian terjadilah gol bunuh diri Pardi. Dua musim sudah Pardi selalu konsisten membuat gol bunuh diri. One shoot one goal bagi tim tamu cukup efektif.

Tersulut dengan dengan gol yang dicetak semen padang PERSIB berusaha membalas dengan menyerang sporadis melalui sektor kanan yang dimotori oleh duet soulmate sehidup semati, Pardi dan Ridwan. Sore itu  keduanya maennya capruk *gak hanya sore itu ketang yang capruk yang udah udah juga suka capruk*

Berurusan dengan Mantan Selalu Sulit

Ketika sisi kanan sebagai poros utama sekarat, sisi kiri tiada dapat memberi tindakan penyelamatan. Ferdi dan Toncip tampak masih sering salah pengertian dalam tukar guling operan dan pergerakan. Kami di tribun sering melihat gesture Ferdi yang sering kali tungkul sambil gogodeg saat Toni memberinya operan atau setelah pergerakan bagusnya tidak dioperan. Ferdi juga sering kali melupakan tugasnya untuk membantu Toni bertahan. Sisi kiri PERSIB justru lebih sering dilindungi oleh Hariono! Mungkin sulit bagi Ferdi untuk bermain optimal melawan mantan satu-satunya yang memberinya gelar top skor dan juara liga. Memang segala hal menjadi sulit jika sudah berurusan dengan mantan.

krosing-krosing yang diberikan dari duet Ferdi-Toncip maupun Ridwan-Pardi hanya lewat kepala-kepala pemain tanpa bisa disundul karena luhur teuing krosingna, kalo ga bolana melintir ke belakang gawang.  Huft! Wasalam babak pertama ditutup dengan skor 0-1 untuk keunggulan semen padang.

Retarded Referee

Babak kedua dimulai belum ada pergantian pemain di kubu PERSIB, dan parahnya PERSIB masih gitu-gitu aja. Serangannya eweuh nu lain kitu, euy!!! PERSIB langsung mencoba menekan melalui Ridwan feat. Pardi dan tau sendiri hasilnya, kedua pemain itu mainnya terlalu capruk pada sore itu.

Selain duet kanan-kiri yang cavruk, wasit juga tak kalah cavruk nya. Di babak pertama terlihat beberapa kali wasit menerapkan standar ganda untuk setiap body charges dan tekel oleh pemain PERSIB. Dengan mudah periwit ditiup jika semen padang jadi korban tapi periwit tidak pernah ditiup jika PERSIB yang jadi korban. Hal inilah yang membuat fokus pemain PERSIB hilang, pun juga memanaskan mesin Ferdi sehingga mendupak ronggo dengan telak. Sayang permainan eksplosif Ferdi yang kami tunggu telat muncul.

Goalibaly

Djibril yang notabene nya seorang striker murni tidak dapat berbuat banyak karena ketidakmampuan  rekan-rekanya yang berada di lini tengah untuk memberikan servis. Kelebihan yang dimiliki Djibril menjadi tidak terihat dan tidak berguna. Sebenernya Djibril memiliki beberapa peluang di babak kedua, yang pertama melalui sundulan namun sayang bolanya masih terlalu mudah bagi kiper semen. Kedua, Djibril sudah berhadapan dengan sang kiper namun bola hasil sepakannya melambung jauh ka luhur.

Hasil Ini jelas penurunan dari musim kemaren.Selama putaran pertama musim lalu, di Bandung, PERSIB hanya bisa ditahan imbang oleh persipura dan kukar, sebelum akhirnya kalah lawan persiram di putaran dua. Taun ini lawan semen padang sudah kalah padahal masih putaran pertama, goal dari Djibril dimenit akhir hanya sebatas kakaren bagi bobotoh yang datang ke stadion.

Mungkin banyak orang diluar sana banyak yang mulai tidak percaya kepada Djanur. PERSIB jelas minim kreasi. Apalagi jika membaca komentar Djanur yang menyebutkan kekalahan akibat faktor kebugaran, WTF!!! Anda kalah otak bung Djanur, kecewa sekali dengan permainan PERSIB yang seperti itu! Permainan buntu dan anda hanya bisa ngahuleng huhujanan! tapi Djanur terlihat tidak mau eleh dengan bilang, MANEH WEH ATUH NU NGALATIH! goblog saya bilang!

Setelah dibantu match analisis dari pandit apakah Djanur bener-bener membutuhkannya atau sekedar gagayaan? Atau mungkinkah ini bukti inkapabilitas Djanur dalam memanfaatkan data untuk kemudian mentransformasikan nya menjadi taktik nyata di lapangan? Kita lihat di malam minggu tanggal 22 februari, melawan tetangga sebelah apakah Djanur bisa mengatasinya. Seharusnya bukan masalah, karena kita maen di kandang maung.

#persib #tcn10 #djanurout

@omz @xuk @bus

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.