Chaos di Sidoarjo

 

laporan pandangan mata header

Persib memulai dengan biasa aja. Zola memainkan peran Konate, Bow di sayap. Tidak ada masalah dengan permainan dua bocah ini. Zola bermain lebih baik dibanding saat debut, tapi teu kaop nyekel bola pasti diselengkat, gelandang Surabaya haram jadah.

Dengan Zola yang awaknya masih unyu-unyu, peran gelandang serang untuk menjadi pengganggu pertama serangan lawan tidak jalan. Normalnya, Konate, kadang dibantu oleh Spaso, adalah pemain pertama yang menganggu build up serangan lawan.

Lagi-lagi Zola dan Atep sering ketemuan di tempat yang sama, di pangkal area sepertiga serangan Persib. COD-an diantara keduanya masih berlanjut. Well, Kali ini Zola lebih cerdas dengan beberapa kali bergerak ke arah Bow. Karena Dado dan Mas Har posisinya naek ke tengah lapangan, sehingga Zola tidak bisa ikut ngariung ke situ. Bergeser agak ke kanan ke area nya Dutra dan Asep Berlian, awak unyu-unyu Zola dengan mudah menjadi samsak bagi Dutra dan Asep Berlian. Seorang bocah 17 tahun melawan penguasa Cicadas mah ripuh atuh euy.

Evan Dimas kali ini bermain lebih dalam dibanding saat maen di jalak beberapa bulan lalu. Posisi ini sempat beberapa kali bikin bingung Mas Har dan Dado. Naek teuing ngudag Evan palaur. Diantepkeun long pass na oge bahaya, karena sayap-sayap gancang Surabaya langsung head to head dengan bek luar Persib. Posisi begini sama persis dengan gol nya Kabes ke gawang Made saat final. Ketika perancang serangan lawan maen setengah lapang dan gelandang serang kita tidak memberi tekanan yang cukup, duet poros ganda jadi ngegantung menunggu jawaban yang tak kunjung datang.

Setidaknya ada 2 kali peluang dimana Evan membawa bola, Dado – Mas Har posisi nanggung, long pass Evan bikin situasi 4 lawan 4 antara 2 sayap + 2 striker Surabaya lawan kuartet bek Persib. Pagbe lumpat geboy, jigana bari ngadengekeun radio dahlia. Gegegegegege Geboy! Marking gogogogo goyang!

Taktik Ibnu untuk sementara diatas Djanur. *spoiler* sampai akhir maen taktik Djanur gagal mempencundangi Ibnu Grahan.

Djanur kembali naif dengan taktik yang dia jalankan. Problem utama Djanur adalah badai cedera di sisi kanan penyerangan Persib. Bow bermain kembali bermain bagus, tanpa penjagaan dari bek jangkung badag, pergerakan Bow semakin eksplosif, Faturhoman mah naon atuh. Ada perkembangan signifikan dari pergerakan Bow yang sudah semakin banyak memberi ruang untuk Bang Pardi melakukan overlap. Sayangnya, Bow sering dijatuhkan, sering pelanggaran bikin waktu berhenti. Jadinya, Surabaya punya waktu untuk koordinasi bikin pertahanan.

Sedikit aneh adalah posisi dan pergerakan dari duet poros ganda kita. Di 15 menit pertama, Dado bermain di sisi kanan dan Mas Har di kiri, normalnya justru kebalikan dari itu, Dado di kiri dan Mas Har di kanan. Karena posisi abnormal ini, sedikit banyak mempengaruhi aliran bola dan posisi pertahanan Persib. Mungkin Djanur menugaskan Dado di Kanan untuk membendung pergerakan Evan Dimas yang memang cederung kekiri-kirian.

Tanpa data heat map dari squawka susah sih menunjukan ini, tapi kami rasa heat map defend surabaya banyak di sisi kiri mereka. Dutra – Asep Berlian – Evan Dimas – Faturohman suka ngarumpuyuk di area nya Mas Har – Bow/Konate – Pardi.

Kotak Pandora Persib

Permainan babak kedua Persib lebih kacau daripada babak pertama. Seperti yang udah-udah, pola persib kadang menjadi jangkar bagi pergerakan pemain. Jangkar ini maksudnya bisa sebagai patokan bergerak biar tidak chaos, tapi disisi lain jangkar ini adalah penghambat pergerakan.

Ketika pemain yang dimaikan memang sesuai dengan posisi kebiasaannya pola 4-2-3-1 Djanur bisa berjalan walaupun dengan pemaen ngora. Bow memang pemaen sayap, Zola memang gelandang serang. Tapi ketika keduanya diganti oleh Bang Utina dan Konate, kotak pandora masalah dibuka Djanur. Konate bukan pemaen sayap, walau dia mah hade dimamana ge. Bang Utina sebagai gelandang serang tanpa striker yang bisa lumpat gancang, lari di belakang bek, juga suka kesusahan dalam mengoper.

Merasa masih kurang masalah buat nambah kebingungan, pergerakan Spaso jadi makin ke kanan. Sampai sempat-sempatnya menjadi back up Supardi saat diserbu Ilham. Kala ini terjadi, Bang Utina jadi pemain paling depan Persib. Konate menggantung teu puguh seperti bingung. Lord Atep mah woles aja di kiri jauh. Spaso jelas sedang maen butut. Duel elehan wae. Operan tidak nepi. Pergerakan tidak sinkron dengan pemaen-pemaen yang laen.

Ada tiga kreator utama Persib saat melakukan penyerangan. Konate sebagai Jendral lapangan tengah. Bang Utina sebagai penguasa lapangan tengah dengan visi umpan terobosannya. Dan yang paling gress, Dado sebagia Deep Lying Playmaker. Ketiga nya maen hupir tadi malam. Dado teu karasa. Bang Utina hupir sering sendirian melawan 2-3 pemaen Surabaya. Konate loba teuing di sayap, terlalu jauh dari kotak penalti untuk bisa memberi perubahan nyata.

Kalau mau disederhanakan menjadi formasi, Persib maen tanpa striker, tanpa false nine. Polanya jiga 4-2-4-0. Tambah chaos kalo Atep dan Tantan janjian kongkow di posisi kiri yang sama. Konate di kanan jauh deket garis tengah. Utina di poros tengah lawan 3 pemaen lawan. Dado teuing kamana, matakna teu aneh Dado diganti Mas Opik.

Karena ada Atep dan Tantan di lebar lapangan, Dias jadi gak bisa overlap. Nanggung di garis tengah. Beberapa kali hupir ngudag striker Surabaya. Ada satu kejadian Ilham serangan balik, Konate nutup di ujung area kotak penalti, Spaso pressing dari belakang Ilham, dan bang Pardi bingung kudu kamana di deket lingkaran garis tengah. Chaos deui wae.

Pagbe Butut

Biasanya kalau penyerangan bapuks, maka tinggal tunggu waktu untuk pertahanan bikin blunder yang menjadi sumber kekalahan Persib.

Pertahanan Persib kembali maen tanpa ada koordinasi sama sekali. Jiga nu eweuh ngobrol-ngobrol heula. Maen kumaha prakna dan hasilnya adalah disaster. Semasa ada Vlado, trio Jupe-Pardi-Toncip ditambah Made bergerak dengan harmonisasi yang oke. Masih suka ketembus emang dari sayap, tapi pemain lain siap meng-cover. Bli Made juga maen dengan penuh kepercayaan diri saat harus menyongsong bola-bola tinggi yang masuk ke kotak penalti Persib. No Vlado, Nonggeng!

Pagbe memang pantas memakai nomer 5. Warisan Maman Abdurahman. Mun tepikeun make nomer 3 terus maen jiga ontohod moyan, kajeun kita demo minta dia ganti nomer!

Fisik yang belom 100% bikin beberapa keputusan diambil terlalu lambat. Ketika membawa bola, memang tidak seperti Abdul yang langsung diabengkeun, Pagbe masih mau membawa maju dulu jika tidak ada tekanan lawan, tapi posisi majuna nanggung. Tidak sampe ke posisi bahaya seperti Vlado. Dengan semua serba ketanggungan ini defend Persib menjadi butut pisan dalam melakukan build up serangan.

Apresiasi tetap harus diberikan kepada Pagbe yang menjadi orang terakhir yang nyundul bola Evan saat Made blunder. Satu lagi waktu tekel terakhir sebelum Ilham nembak di dalam kotak penalti. Overall, Pagbe kamu butut.

Respon Djanur

Satu hal yang menjadi secercah harapan adalah Djanur itu tipikal orang yang belajar dari kesalahan. Dari dua pertandingan yang sudah dilakukan, setidaknya ada beberapa kesamaan yang bisa jadi catatan.

Pertama Duet Bang Utina dan Don Konate butuh waktu yang terlalu lama untuk nyetel dengan tim saat masuk dari bangku cadangan. Pas lawan persela butuh 50 menit. Kemaren pas lawan Surabaya, masuk dari menit 38 sampe ke piriwit akhir Konate masih maen dengan bingung, kejauhan dari area pertahanan Surabaya, dribblenya sering kerebut. Tidak pernah secara konstan membahayakan pertahanan Surabaya.

Kedua, striker persib nu aya ayeuna butut kabeh. Ketiga, Vlado tidak tergantikan :’(

Kalau Zola dan Bow harus jadi starter, pasti ada cara juga gimana Konate masuk ke dalam starter juga.

Wasit Gobs.

Wasit Kusni memimpin dengan atah adol. Kartu kuning buat tekel pertama Mas Har merusak susunan pertahanan poros tengah Persib. Mas Har jadi maen hati-hati, sedang Dado kurang dalam urusan gelut bergelut.

Kartu kuning ini diterapkan dengan standar ganda. Pedro 3 kali melakukan tekel, salah satunya cukup bahaya saat menekel Zola. Boro-boro dibere kartu koneng. Kusni punya andil dalam kekalahan Persib.

Piriwit akhir ditiup di menit 93’45” kurang 15 detik. Hapeuks kamu Kusni.

“Untuk wasit saya kecewa karena terlalu banyak memberikan pelanggaran ke kita. Bahkan kita terlalu mudah kena kartu. Lihat tadi Hariono, baru 2 menit, pelanggaran pertama langsung kena kartu.  Jujur saya saya kecewa dengan kepempinan wasit. Bukannya tendensius tapi memang begitu kenyataannya,”

Semoga pertandingan berikutnya Mang Djanur sudah bisa memberi solusi atas masalah-masalah Persib kemaren. Sampai jumpa lagi.

@bus

Follow kami di twitter @stdsiliwangi

p.s. oh iya, Lord Atep maen teu sih tadi peuting? Asa aya asa eweuh.

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart