Djajang Nurjaman Penjaga Tradisi Persib Bandung

selatan stadion siliwangiBila ditaksir usianya mungkin sekitar 50 tahun. Rambut klimis ditambah kumis tipis menghiasi bibirnya. Kulit wajah sedikit berminyak, Ia lebih terlihat seperti seorang kenek bus damri daripada seorang pelatih sepakbola.

Kerutan di keningnya semakin terlihat jelas manakala anak asuhnya beberapa kali melakukan kesalahan. Tak jarang Ia harus berdiri dan meninggalkan bench hanya untuk sekedar mendinginkan telinganya dari bisikan-bisikan setengah mengancam yang bersumber dari orang yang duduk di sampingnya. Pria asal Majalengka ini pusing bukan main. Sepanjang waktu 90 menit Ia terlihat begitu gelisah memperhatikan serdadunya yang sering kurang becus mengolah si kulit bundar, berpikir keras bagaimana agar permainan berjalan sesuai dengan skenarionya.

Dengan air muka yang gelisah sesekali pria itu berteriak-teriak di pinggir lapangan meberikan insruksi kepada para pemain. Memperhatikan anak asuhnya bertanding pria itu kadang gemas dan ingin turun tangan sendiri menggiring bola. Teringat saat Ia masih aktif bermain sepakbola, ketika Ia berada di puncak kejayaannya sebagai seorang pesepakbola, Ia berhasil membuat girang puluhan ribuan bobotoh yang hadir langsung di Stadion Gelora Bung Karno, satu golnya berhasil mengantarkan klub berjuluk Maung Bandung itu memutus rantai kutukan final tahun 80an. Satu gol yang membuat Persib Bandung buka puasa setelah 20 tahun nirgelar.

****

Tubuhnya kecil, lebih kecil dari anak seusianya tapi walau kecil Ia sangat lihai mengolah si kulit bundar. Perawakan yang kecil memudahkan dirinya meliuk-liuk di antara kepungan lawan yang menghadang. Bermain dari kampung ke kampung Ia jalani demi menggapai cita-citanya sebagai pemain sepakbola. Bermodal keyakinan dan kerja keras, di usia yang baru menginjak angka 17 seorang Djajang Nurjaman memberanikan diri hijrah ke Bandung untuk kuliah dan bermain sepakbola.

Bocah ini memutuskan untuk bergabung bersama salah satu klub anggota Persib, hingga akhirnya Ia dipercaya promosi ke skuad Persib senior. Meskipun kala itu usianya masi muda, Djajang Nurjaman sudah diberi kepercayaan menit bermain bersama nama-nama besar jaman dulu semacam Encas Tonif, Max Timisela, Herry Kiswanto. Djanur seakan sudah siap untuk menjadi pemain bintang di kemudian hari.

Berposisi sebagai gelandang serang, tepatnya kanan luar, Ia sering ditugasi pelatih untuk menyisir sisi kiri pertahan lawan. Djanur memiliki kelebihan dalam hal menggiring bola, menjadikan dirinya sebagai pilihan utama sang pelatih. Jika dibandingkan dengan pemain masa kini mungkin permainanya sebanding atau bahkan melebihi Zulham Zamrun.

Namun sayang kemampuannya belum mampu membawa klub asal kota Bandung tersebut berprestasi, bahkan pada tahun 1978 Ia harus merasakan perihnya terdegradasi ke Divisi I kompetisi perserikatan setelah kalah dari Persiraja Banda Aceh dengan skor tipis 1-2 dalam lanjutan play off kompetisi perserikatan.

Entah apa yang merasuki pikirannya, ketika Persib tengah membutuhkan kekuatannya untuk bangkit, Djanur lebih memilih hijrah ke klub yang berlaga di Galatama, Sari Bumi Bandung Raya menjadi pelabuhan pertamanya. Setahun saja Ia bertahan di Bandung, di musim 1980 Ia pindah ke Yogyakarta untuk memperkuat Sari Raya Yogyakarta selama 2 musim. Belum merasa cukup dengan pengalamannya, Ia terus melanjutkan petualang, kali ini Ia menerima pinangan menjadi pemain Mercu Buana Medan. Tiga tahun lamanya Ia bermain untuk Mercu Buana hingga tahun 1985, sampai-sampai diangkat mantu pemiliki klub. Setelah 6 tahun melanglangbuana akhirnya di tahun 1985 Ia memutuskan untuk pulang kampung membela Persib Bandung yang kala itu diarsiteki oleh Nandar Iskandar.

Musim 1985/1986 menjadi musim yang tidak mungkin Djanur lupakan sepanjang hidupnya, satu-satunya gol yang tercipta di final perserikatan musim itu dicetak oleh dirinya sendiri. Usai menerima umpan Adeng Hudaya dari sisi kanan pertahanan lawan Ia berhasil mengecoh pemain bertahan Perseman, Aris Kapisa dan melakukan tusukan ke dalam kotak penalti langsung menuju gawang Perseman yang kala itu dikawal oleh Markus Woof. Dengan cerdik Ia mengarahkan bola ke sudut sempit yang gagal diantisipasi oleh Markus, skor 1-0 bertahan hingga pluit akhir dibunyikan.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk menghapus semua dosa yang telah Ia lakukan kepada Persib, perbuatan keji meninggalkan klub kebanggaannya saat degradasi dia tebus dengan gelar juara yang sudah hilang selama hampir 2 dekade.

Legenda Hidup

Baktinya untuk Persib tak sampai disitu, selain gemilang sebagai pemain Ia juga berprestasi dalam karier kepelatihan usai gantung sepatu. Jalan panjang sudah ditempuh Djajang Nurjaman sebelum menjadikan dirinya salah satu pelatih elit yang ada di Indonesia.

Perjalanan kepelatihan Djanur diawali saat Ia menerima tawaran sebagai asisten pelatih mendampingi Sir Indra Thohir. Kesempatan itu Ia ambil dengan sepenuh hati, semata-mata demi Persib. Hasilnya luar biasa, bersama Indra Thohir Ia kembali berhasil mempersembahkan gelar untuk Persib. Juara Liga Indonesia edisi perdana.

Kendati berhasil membawa skuad Maung Bandung juara Liga Indonesia, kontrak Djanur tidak diperpanjang. Namun Ia telah memantapkan dirinya untuk menggeluti dunia kepelatihan lebih serius. Kariernya sebagai pelatih kepala diawali dengan melatih Maung Ngora, dari Persib u-15 sampai dengan Persib u-23 semua pernah dia tangani.

Musim 2007/2008 bersama Robby Darwis, Anwar Sanusi, Adeng Hudaya dan Dino Sefrianto, Ia kembali bertugas menjadi asisten pelatih. Kali ini untuk mendampingi pelatih asal Moldova, Arcan lurie. Namun hasil yang didapat tidak begitu bagus, akhirnya pun Arcan lurie memilih melepaskan jabatannya sebagai pelatih usai menderita kekalahan 0-1 dari sriwijaya. Para asisten pelatih termasuk dirinya didapuk menjadi caretaker. Pandawa 5 ini berhasil membawa Persib finis diurutan ke 5 klasemen akhir liga Indonesia 2007 terpaut 12 angka dari pemuncak klasemen Sriwijaya FC, hasil dari 15 kali menang 9 hasil seri dan 10 kali kekalahan.

Tahun 2008 Ia kembali hijrah dari Bandung, kali ini Pelita Jaya menjadi pelabuhannya. Di Pelita Jaya Djanur bertugas mendampingi pelatih asal Singapura, Fandi Ahmad selama hampir 3 tahun. Selama periode ini Djanur merasa paling banyak menerima ilmu kepelatihan. Pengakuannya saat diwawancara oleh indopos, Ia berujar “dari Fandi Ahmad itu yang luar biasa. Sama asistennya Kadir, info kepelatihannya luar biasa karena dia terus terusan belajar, yah ke jepang ataupun eropa, dan mereka tidak sulit membagikan ilmu. Itu yang menguntungkan buat saya

Selain berjumpa dengan Fandi Ahmad, selama berseragam merah putih milik Pelita Jaya, Ia juga menjadi tandem untuk pelatih kawakan lainnya seperti Rahmad Darmawan dan Misha Radovic.

Ada momen yang tak akan Ia lupakan selama menjalani karir sebagai pelatih Pelita Jaya, ketika pada musim 2011 Ia harus menggantikan posisi pelatih kepala yang ditinggalkan Fandi Ahmad. Misi untuk Djanur saat itu adalah menyelamatkan Pelita jaya dari jeratan degardasi. Saat itu Pelita berada di posisi 18 klasemen dengan hanya menyisakan 9 pertandingna lagi. Djanur dituntut untuk meraih 7 kali kemenangan untuk menyelamatkan Pelita dan Djanur berhasil menyelesaikan misi tersebut. Pelita Jaya lolos dari jurang degerdasi. ”Itu yang paling mendebarkan karena saya malu begitu jadi caretacker menjerumuskan Pelita ke degradasi tapi Alhamdulillah saya bisa menyelamatkannya” cetus pria kelahiran 17 Oktober ini.

Setelah kenyang dengan ilmu yang ia dapat secara gratis dari pelatih-pelatih bonafid selama membela Pelita Jaya, di musim 2013 panggilan untuk berbakti kepada Maung Bandung datang. Wak Haji sendiri yang memintanya untuk menggantikan Robby Darwis yang sebelumnya menggatikan Drago Mamic pada pertengahan musim 2011/2012 yang gagal mengangkat prestasi Persib Bandung.

Sebelum Ia menerima tawaran manajemen Persib Ia terlebih dahulu meminta syarat kepada manajemen. Syaratnya mudah saja, Ia ingin diberikan keleluasaan 100% untuk memilih pemain sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa ada intervensi dari manajemen atau pihak manapun. Syarat tersebut diamini oleh Uwak.

Di awal tugasnya menukangi Persib, tak sedikit bobotoh yang meragukan kemampuannya. Persib hanya menghasilkan 63 poin, tertinggal 19 poin dari Persipura yang juara, dan harus puas bercokol di posisi 4 klasemen akhir Liga Super Indonesia 2013. Beruntung baginya dan bagi Persib, manajemen memilih mempertahankan Ia sebagai pelatih untuk musim 2014.

Hanya butuh setahun tambahan bagi seorang Djanur untuk memberi bukti kelayakannya membawa Persib ke arah masa depan yang lebih cerah. Setelah evaluasi pemain sana sini, skuat kali ini bisa dibilang skuat yang paling pas sesuai dengan keinginan Djanur. Hasilnya, gelar juara Liga Super Indonesia berhasil dibawa pulang ke Bandung. Djanur kembali menjadi seorang messiah yang mengakhiri puasa panjang tanpa gelar Persib.

Perjalanan hidup Djanur seakan menegaskan tradisi yang ada di Persib. Seorang pemain harus berkelana terlebih dahulu mencari pengalaman agar bisa kuat mental menerima beban tekanan ekspektasi bobotoh. Lebih luar biasa bagi Djanur karena Ia melakukan petualangan tersebut tak hanya sebagai pemain, Djanur juga membuktikannya ketika menjadi pelatih. Kudu ngarantau heula ka Pelita sebelum kembali ke Persib Bandung sebagai pelatih kepala dan sukses.

Tak hanya matang secara teknik, mental Djanur pun tak kalah baik perkembangannya. Djanur mampu menghadapi tekanan-tekanan bobotoh yang menuntut agar Persib segera berprestasi, belum lagi tuntutan manajemen yang tak kalah rewelnya. Tak sembarang pelatih mampu bertahan, pelatih yang memiliki lisensi A UEFA Pro pun tak sanggup mengatasi tuntutan bobotoh dan manajemen.

Tidak hanya menangani dapur teknik Ia pun lihai dalam menghadapi tekanan di luar lapangan. Salah satu contohnya, ketika Ia menghadapi psy war, masih hangat dalam ingatan ketika Coach Iwan Setiawan melontarkan pernyataan-pernyataan yang mebuat bobotoh berang. Djanur dengan mental baja menanggapi dingin perang tersebut, dengan santai Ia berujar “biarkan saja, saya tidak mau menanggapinya, saya tidak peduli orang mau bicara apa. Kita fokus ke pertandingan yang akan datang, supaya ana- anak lebih konsentrasi saya tak akan tanggapi psywar nya, biarkan saja dia mau ngomong apa”

Sebagai pelatih yang sudah semakin matang, Djanur terlihat sangat paham bagaimana caranya menjaga konsentrasi anak buahnya agar tidak terpengaruh dengan situasi diluar lapangan. Djanur lebih sibuk menyiapkan strategi untuk memberi hasil.

Tak hanya menyikapi soal psy war, pada saat Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap kepemimpinan wasit, usai menelan kekalahan dari Gresik United, emosi Djanur tidak meledak-ledak. Seperti dikutip dari simamaung, “ngomong apa yah, malu ngomong wasit lagi, tapi kalian lihat sendiri kan, kalau ngomong lagi jadi alasan saja, udah kalah nyalahin wasit lagi” seloroh Djajang. Mental seorang Djanur memang sudah sangat teruji.

Penampilan yang kuyu dan tidak meyakinkan kerap kali Ia tepis dengan torehan hasil positif di lapangan. Sudah 4 gelar juara di tambah 1 runner up Djanur sumbangkan untuk Persib dalam kurun waktu 3 tahun. Dari 5 final yang dijalani, hanya sekali dia kalah, itu pun karena final turnamen IIC 2014 memang sudah tidak menarik sama sekali. Sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih kepala Djanur berhasil meraih 5 dari 7 gelar juara liga milik Persib. Rasanya pencapaian tersebut sudah cukup untuk membungkam nada-nada minor mengenai kemampuannya dalam melatih. Dirinya kini sudah setingkat dengan pelatih top seperti Rahmad Darmawan dan Jacken F Tiago.

Djajang Nurjaman adalah seorang penjaga tradisi bagi Persib Bandung. Bukan sekedar seorang sunda pituin yang membawa Persib juara, meneruskan tradisi Nandar Iskandar, Ade Dana dan Indra Thohir, tapi juga menjalani proses ritus perjalanan sebelum sukses membawa Persib berjaya. Proses penempaan dengan cara melanglangbuana, mencari ilmu untuk bisa berbakti kepada Persib suatu hari nanti. Suri tauladan yang patut diteladani oleh pemain-pemain Persib saat ini. Djanur bukan hanya seorang legenda hidup, ia adalah bagian dari budaya Persib.

@xuk

follow kami di twitter @stdsiliwangi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp