Goodbye Milord Atep

Perpisahan emang selalu membawa perasaan sentimental. Apalagi berpisah dengan seorang Lord Atep, seturut apik rujitnya my lord, muncul perasaan sedih dan enggan berpisah dari lubuk hati dibarengi perasaan lega.

Mestinya jika melihat permainan Milord dalam tiga musim terakhir, perpisahan ini tentunya sebuah keniscayaan. Kontribusi Atep kepada Persib sudah mencapai titik nadir hingga tinggal tunggu waktu aja kita membuat hestek #HaturNuhun.

O Captain, My Captain

Lord Atep bisa didefinisikan sebagai berikut, teknik mencetak gul apik yang tertutupi oleh eksekusi dan timing gul nya. Gul-gul Lord Atep seringnya terjadi di saat-saat gul itu dibutuhkan. Tapi jangan diartikan dia sebagai pahlawan yang hadir terus ketika dibutuhkan. Begini, misal dari 10 kali kita membutuhkan gul, Atep bisa mencetak 2 gul yang dibutuhkan itu. Gul Atep itu penting, tapi seringnya dia absen saat dibutuhkan membuat kita harus melakukan pileleuyan kali ini.

Secara teknik Atep bukan pemain butut, konsistensilah yang membuatnya menjadi terlihat butut hingga akhirnya sampai tiba saat ini, dia tidak dibutuhkan lagi oleh pelatih.

Atep terlalu inkonsisten untuk terus berada di level tertinggi menunjukkan kabisanya. Padahal ketika performanya sedang oke, cara dia menyepak bola masuk ke dalam gawang, kemampuan kakinya berdansa mengolah bola; lihai, cepat, berkelas bisa membuat Lord Atep layak disejajarkan dengan tukang gocek terbaik sejagat. Tekniknya betul secara teori-teori tertulis dari pelatih-pelatih teknik. Eksekusinya tepat sehingga bisa mempesona penonton sekaligus mengelabui lawan. Sialnya, kunaon sih teu bisa tiap pertandingan maenna jiga kitu?

Ada beban berat yang kentara terlihat di pundak Lord Atep. Menerima baton estafet kapten Persib di waktu yang salah. Beurat betul atuh menerima ban kapten di tengah musim gara-gara Memen Durehmen menyerah. Jika kita melihat Lord Atep saat ini, bisa jadi apa yang dia lakukan tahun 2012 itu adalah tindakan mengorbankan dirinya untuk Persib.

Tahun itu Atep berada di usia emas (untuk level sepakbola indonesia), performanya pun sedang menanjak. Atep belum berada di puncak kariernya, tapi sedang berada di rute tanjakan yang tepat. Atep sedang ngaggeber RX King di Cadas Pangeran. Asa teu kabayang bakal langsung mudun. Tapi apa lacur, musim berikutnya dia betulan nutug.

Pengorbanan

Perjalanan Persib nanjak ke puncak pada akhirnya membutuhkan pengorbanan. Meski dengan alasan berbeda, Lord Atep menapaki jalan Doktor Faust yang bersepakat dengan iblis Mephistopeles. Atep menjual “jiwanya” demi Kejayaan Persib.

“Aing bisa mere kahayang maneh, Persib juara pas maneh sebagai Kapten. Tapi syaratna beurat.” Kata Mephistopeles di malem jumat kliwon waktu itu. Atep yang sedang gundah saat baru menerima ban kapten keramat dari Memen Durehmen pergi ke pekuburan Pandu. Soalna ieu iblis bule, mun ka ka kuburan astana anyar mah moal bisa COD-an.

“Naon oge syaratna ku aing bakal dijabanan Cees Blis.” Kata Atep akrab

“Aing menta skill maneh …”

“OKE!”

“Can beres nying!” kata si Iblis geram karena omongannya dipotong.

“Naon deui atuh?”

“Maneh bakal jadi musuh bobotoh. Maneh bakal dipikangewa. Tuntungna mah maneh bakal indit ti Persib.”

“jir beurat atuh euy.”

“Daek heug teu kajeun.”

“Okelah aing daek. Di jero lapangan aing dipikangewa, tapi di luar lapangan mah bakal beda carita cees blis!”

“Deal mun kitu mah”

“Deal”

Keduanya lalu bersalaman. Tanpa Atep ketahui, Memphistopeles terkesan dengan ketulusan Atep berkorban. Sehingga selain berjanji memberi gelar juara, dia memasukan klausul menjadi legenda di kontrak antar keduanya itu.

***

Atep menjalani musim penuh pertamanya sebagai kapten dengan menjadi pemain utama di sisi kiri sayap penyerangan Persib. Dari 34 pertandingan, Atep dimaenkeun sama Coach Djanur sebanyak 33 kali. Dari segi statistik hanya menit bermain Atep yang bertambah, kontribusinya untuk Persib menurun drastis. Paling kentara hilang dari skill Atep adalah kemampuannya untuk mengambil keputusan dengan tepat dan cepat. Sima Milord di hadapan pemain lawan juga menurun. Pemain lawan banyak yang tidak sieun kepada Atep. Membuat Atep seringkali diam tak berdaya saat terjadi gelut atau protes kepada wasit.

Sebutan penuh sindir LORD Atep mulai muncul. Orang-orang mulai push up untuk merayakan Atep mencetak gul. Tapi da pada akhirnya jarang oge push up sih.

Atep loba teuing gaya tapi kurang kontribusi. Logayna ge lain saukur di jero lapangan, ruang ganti mulai terpengaruh. Untungna sebagei pemain pituin nu senior Atep masih boga balad keneh, loba deui. Moal aya pemaen sunda wani ka Atep mah. Hal ini pisau bermata dua bagi Atep. Sanjungan dan keseganan baladnya bikin Atep merasa nyaman.

Kegagalan juara di musim 2013 membuat dia terlena. Poho kepada pengorbanan dirinya menjadi kapten di musim sebelumnya. Persib sendiri berkutat dengan kegoblogan musim-musim sebelumnya. Teu juara ge moal nanaon, toh sebagai pemaen Persib dirinya sudah memiliki banyak pemuja. Titel pemaen Persib membutakan mata. Seakan itulah pencapaian sebenarnya.

Well, musim berikutnya, ISL 2014, pengorbanan Atep bertambah. Selain skillnya menurun, menit bermainya berkurang drastis. Tapi di sisi lain, kontribusinya bertambah. Legenda seorang Lord Atep semakin terpatri. Secara de jure Atep adalah kapten Persib. Tapi da jarang maen, jadi secara de facto mah Bang Firman Utina kapten dan pemimpin Persib. Saat orang-orang semakin lupa akan Atep, dia mencetak gul spektakuler di Semifinal. Mengirimkan Persib ke final untuk kemudian membuka puasa gelar 19 tahun. Atep tidak pernah bisa dilupakan namun tidak pernah juga bisa dipuja.

Ketika Persib menanjak hingga juara, pupudunan karier Atep seakan berhenti dan siap menanjak lagi. Musim 2015 menjadi top skorer Persib di AFC Cup. Gul-gulnya ditonton jutaan umat manusia seantreo bumi. Teknik mencetak gulnya luar biasa. Moal bisa pemaen biasa mengeksekusi gul sebagaimana Atep mencetak gul. Tapi sayang, musim itu berakhir prematur bagi Atep, Persib, dan bahkan seluruh sepakbola Indonesia. Seperti sebuah kutukan, Atep kembali nutug ketika siap terbang.

Milord akhrinya banting setir jadi seorang entertaier. Menghibur kita semua dengan komedi-komedi di dalam lapangan dan di chanel yutub.

Noda Sentimentil

Salah satu harga mahal dari kejayaan class of 2014 adalah memudarnya kebintangan seorang Atep. Pemain sayap elit yang flamboyan. Pemimpin dan kapten kelahiran tanah sunda. Lulusan SSB anggota Persib. Ujung-ujungnya dicaci maki secara rutin dari minggu ke minggu oleh bobotoh.

Akhir kisah ini adalah kepergian Lord Atep dari Persib di akhir musim 2018. Satu dekade yang panjang penuh naik dan turun. Menempa gelar legenda dengan beban di pundak. Kita harus akui Atep adalah seorang Legenda Persib. Buku sejarah mencatatnya sebagai kapten yang mengangkat piala juara liga indonesia. Setara dengan 5 orang kapten Persib lainnya. Bayangkan, Cuma ada sedikit sekali kapten Persib yang bisa memberi gelar juara dan Atep adalah salah satunya.

Sayangnya, perasaan sentimentil ini tidak bisa paripurna. Karena walau bagaimanapun sedihnya kita, permainan Atep di tahun-tahun terakhirnya membela Persib memberi sedikit rasa lega Atep tidak ada lagi di skuad Persib. Setitik noda yang mencemari perpisahan dengan My Lord.

Kami sedih Atep tidak bisa pensiun di Persib, tapi mungkin ini jalan terbaik untuk semua pihak. Dirimu tetap legenda kami Milord. Tidak banyak kesebelasan di Indonesia memiliki legenda seperti Lord Atep. Sebuah privilege bagi bobotoh bisa menonton, mendukung, sekaligus mencaci maki seorang pemain.

So long. Wish you all the best My Lord.

 

[bus]

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp