Juara Lagi!

laporan pandangan mata header

Persib Bersabar, Sriwijaya Kebingungan

Daripada memaksimalkan strategi penyerangan Persib untuk meraih kemenangan, Djanur memilih jalan gelap taktik pragmatis dengan mencoba menetralisir keunggulan Sriwijaya. Akhir-akhir ini taktik model begini sering digunakan oleh Djanur.

Persib memposisikan 9 pemain di area sendiri, bertahan setengah lapangan. Membiarkan Sriwijaya yang terlihat tidak nyaman dalam menyusun serangan merambat memegang penguasaan bola di lini tengah. Sriwijaya kekurangan pemain berkarakter no 10. Dua dari tiga gelandang tengahnya bertipikal petarung, karena itu serangan Sriwijaya monoton terus disalurkan lewat Tibo di kiri. Sial untuk Sriwijaya karena sisi kanan pertahanan Persib sangat solid. Kombinasi Vlado – Pardi sudah sangat enjoy untuk saling mengcover.

Vlado memang sangat kokoh dan sulit untuk ditembus, lagi pula Persib menggunakan garis pertahanan yang dalam, tidak memberi Tibo area yang cukup untuk berlari geber ciri khas pemain Papua dan melakukan tusukan diagonal. Hasilnya Tibo cuma bisa melakukan umpan silang ke arah kotak penalti Persib, usahanya kalau tidak berhasil dihalau Vlado pasti ditangkap Made, tidak ada penyerang Sriwijaya yang cukup joss untuk berduel bola atas dengan Vlado, Jupe dan Made. Dari 5 umpan silang Tibo, dua diintersep Vlado, satu ditangkap Made, satu tidak menemui siapapun. Hanya percobaan pertama Tibo yang menemui sasaran, tapi tendangan voli Musafry masih nyamping.

Tanpa Mas Har, banyak pandit memprediksi Persib bakal hupir membendung serangan Sriwijaya. Kami sih tidak percaya prediksi mereka. Sima Mas Har memang membuat barisan penyerang lawan mengkerut duluan saat mulai memasuki area Persib. Well, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Mas Har, jika dicermati sebenernya inti pertahanan Persib bukanlah seorang Hariono.

Poros ganda, siapapun yang bermain, plus kuartet bek inti Persib itulah kunci pertahanan Persib. Tidak ada figur indvidual yang menonjol dengan berlebihan dalam pertahanan Persib. Vlado yang paling joss bertahan kalau maen tanpa cs-ce kuartet bek inti lainnya, sering kecolongan juga. Kekompakan adalah inti pertahanan Persib, bukan individu perseorangan.

Di final Piala Presiden, duet Dado dan Bang Utina sangat disiplin. Keliatan beberapa kali Bang Utina gogorowokan mengatur lini tengah. Mengingatkan pemaen lain untuk disiplin menjaga area nya, yang dirasa kurang usaha dalam berduel langsung dicarekan. Komando permainan Persib sudah berada di tangan yang tepat.

Duet poros ganda dan kuartet bek bergerak dengan disiplin. Bang Utina dan Dado rapet bikin blocking depan Vlado-Jupe, jarang pergi kemana-mana. Asri Akbar yang hobi ngebobol gawang Persib sudah dicirian sejak jauh-jauh hari. Biarkan mereka membawa bola, tapi jangan diberi ruang tembak. Semua pemaen, termasuk Spaso memenuhi poros tengah. Membuat ruang tembak gelandang sriwijaya nyaris tidak ada. Hanya satu usaha tembakan di area tengah yang lolos dari blok pemaen Persib. Untung tendangan Hyun Koo itu belok sakumaha arah kanyut.

Di garis tengah lapangan, Persib menekan hanya dengan Spaso. Diberi kebebasan untuk membawa bola sampai ke sepertiga area Persib justru bikin Sriwijaya kebingungan. Syakir Sulaiman, Hyun Koo dan Asri bukan pemaen bertipikal penggiring bola yang super. Kombinasi operan diantara ketiganya pun terlalu lambat. Kalo maksakeun pake operan satu sentuhan cepat suka gagal kontrol dan bisa diintersep lini tengah Persib.

Kedua bek luar Sriwijaya juga terlalu hariwang untuk membantu menyerang dengan memberi opsi lebar lapangan. Kecepatan Zulham dan Atep bikin mereka sering berposisi nanggung. Membantu serangan tapi tidak membahayakan.

Di titik ini, dengan hanya mengandalkan Tibo di area terkuat pertahanan Persib, Sriwijaya sudah setengah jalan kalah. Mereka tidak bisa menciptakan peluang yang cukup bagus.

Ketika Keberuntungan Tersenyum Kepada Serangan Persib

Urusan keberuntungan, Djanur jigana boga stok lumayan loba. Teringat tulisan di gantigol soal klenik Djanur. Teuing serius teuing bodor eta tulisan, yang jelas setelah puluhan kali mencoba di berbagai pertandingan dan gagal, tendangan bebas Jupe akhirnya membuahkan hasil. Di final!

Kalau kita mengingat kembali taktik Djanur saat mengalahkan Dejan di awal musim QNBL, Mang Djanur memang sengaja bermain woles di babak pertama. Bertahan di kedalaman samudra sampe lawan bosen untuk kemudian disereud dengan tempo permaenan yang berbeda di babak kedua. Beruntung di final piala presiden, usaha pertama Persib langsung berhasil memberi satu gol. Semua sudah sesuai dengan rencana Djanur. Smoootthhhh.

Gol kedua datang di akhir babak pertama dengan proses tak kalah hoki, seperti baso tahu Hokie. Lord Atep yang teuing kapan bertukar posisi dengan King Zamrun tiba-tiba mucunghul di sisi kanan, berhasil melewati hadangan pemaen Sriwijaya, menusuk ke kotak penalti kemudian memberi umpan silang. Keberuntungan Persib adalah kesialan Sriwijaya. Maiga gagal clearance, tapi tembakan konate menghantam mistar, sial belum berakhir untuk Sriwijaya karena bola muntahnya kablok ku Dian asup ka gawang olangan. Gol handeul jiga di PES.

Padahal sepanjang babak pertama Persib gagal menerapkan taktik serangan lewat sayap. Zulham dijagaan ketat teuing, kesulitan untuk melakukan gerakan memotong ke tengah. Atep sama saja, malah berulang terjebak offside. Usaha lewat poros tengah dengan mengoptimalkan kemampuan Spaso menahan bola yang akhirnya sering dilakukan. Ditambah memanfaatkan kesalahan operan pemaen sriwijaya, yang emang loba operan bututnya.

Pertandingan Monoton

Dengan dua gol di tangan saat memulai babak kedua, tempo permainan Persib jadi lambat ngeteyep dan fokus bertahan. Perubahan taktik Bendol cuma mindahin Tibo dari kiri ke kanan, jelas-jelas mencoba peruntungan untuk memanfaatkan sejarah kelemahan sektor kiri pertahanan Persib. Sial keneh wae bagi Sriwijaya karena Toncip maen jago edan!

Sinyal perbaikan pertahanan Toncip sebenernya udah keliatan di 20 menit babak pertama. Tiga kali toncip menghentikan serangan Sriwijaya dengan hanya bikin satu pelanggaran. Satu kali bahkan berhasil merebut bola dari Syakir atau Musafry dengan cara ngadu suku, tulang ke tulang sampe pemaen Sriwijaya ngajongkeng, tidak pelanggaran!

Bendol seperti kehabisan ide, tidak tahu bagaimana cara nya untuk membongkar pertahanan Persib menggunakan stok pemaen yang dia punya. Pergantian pemaen Bendol tidak membawa pengaruh signifikan. Haben weh ngandelkeun Tibo.

Tibo sendiri kurang kreatif, usaha dia cuma dua: pertama, coba potong kompas ke tengah untuk cari ruang tembak atau ngasih ruang tembak buat gelandang Sriwijaya. Cara ini gagal karena pas dia potong ke tengah, tengah geus pinuh sesek ku Dado, Jupe, Atep, Konate, Firman. Asri dan Hyun dan Syakir juga hupir mau bergerak menembus gerombolan itu. Mereka bertiga tidak ada yang punya kemampuan olah bola Messi (yang Lionel bukan Mbida), tendangan mereka keblok terus.

Cara kedua yang dicoba Tibo adalah bawa bola ka ujung terus umpan silangkan. Sama seperti di kanan waktu babak pertama, teu guna. Beberapa kali bola dalam penguasaan dia bisa direbut Toncip sebelum sempet dioper. Lebih sering lagi umpan silang dia tiada kawan yang menyambut atau bisa diamankan oleh pertahanan Persib. Ada satu doang operan dia disundul Syakir tipis melenceng ke luar lapangan. Peluang terbaik Sriwijaya selain tendangan Wildan di kotak penalti yang bisa diselamatkan Bli Made.

Tanpa ada perubahan taktik radikal dari Bendol, Djanur tidak reaksioner. Lah ya pertandingan sudah sesuai rencana Djanur, akhirnya pertandingan berjalan suram. Kekurangan aksi di dalam kotak penalti.

Bang Utina dan Papi Bendol

Semalam Bang Utina yang pertama keliatan bisa menyalurkan rasa tegangnya menjadi usaha nyata di lapangan. Ketika dia muncul dari belakang menahan Musafry yang mau ngajak gelut Jupe dan Vlado. Setelah barubar keributan keliatan ekspresi Bang Utina lebih enjoy, seakan sudah bucat (bisul). Lega bisa menyalurkan adrenalinnya untuk gelut dengan siapapun yang nantang. Di sisi lain, ekspresi Jupe senyum kecut. Persis budak smp rek dipalak ku gengster tapi disalametkeun lanceukna nu budak gengster oge ternyata. Hayang berusaha tenang tapi kapikiran wae kitu.

Hasil akhir kembali menegaskan beda nasib Bang Utina dan Papi Bendol. Bang Utina sekali lagi bermain joss di final, mengomandoi lini tengah Persib agar selalu disiplin, dan meraih gelar juara lagi. Sedang Bendol kembali ngegel curuks.

Sekali lagi mental pemain memiliki peranan penting dalam menentukan hasil akhir. Keliatan udah lama 22 pemaen starter tidak maen di atmosfer seperti GBK kayak gitu. Maen ditonton 70 rebu penonton, dengan ekspektasi yang sangat kuat untuk bisa juara. Pemaen seperti Vlado aja sempet disorot mukanya keliatan tegang banget, pas kajadian di babak pertama clearance dia disakalikeun terus bolana nyintir ka sisi. Hampir semua pemaen bermain tegang dan takut melakukan kesalahan.

Tekanan mental ujung-ujungnya bikin kedua tim grogi dalam menyusun serangan di awal pertandingan. Gol Jupe sedikitnya membuat pemaen Persib lebih tenang, dan membuat pemaen Sriwijaya makin hupir perasaanna. Operan-operan sederhana Sriwijaya dibuat ribet tanpa ada yang mengomandoi untuk berkomunikasi. Sering operan gagal dikontrol dan jadi out meninggalkan lapangan permainan. Operan satu dua juga sering gagal karena kurang komunikasi, tapi gelandang Persib emang keur jago defend sih.

Hanya Dado, Spaso, dan Zulham, starter Persib yang tidak bermain di Palembang 7 November. Dari ketiganya Dado yang ekspresinya paling sering hariwang. Spaso mah emang asli balkan sana, yang pemaennya daek gelut demi merebut bola, sedang Zulham terlihat sedikit frustasi teu bisa ngagocek dari sayap ke tengah seperti biasanya.

Dari semua pemaen starter, Konate lah yang paling menonjol dengan usaha menggiring bolanya melewati pemaen Sriwijaya dari tengah lapangan. Konate enjoy aja maen di final dengan dilalajoanan puluhan rebu penonton. Sriwijaya memiliki Tibo yang mirip seperti itu, sayangnya dia di sayap. Lebih mudah bagi Persib ngajagaan pemaen jagoan nu maen di sayap.

JUARA di GBK!

Akhirnya bisa nyaksian juara di GBK. Hormat untuk bobotoh yang sudah susah payah berjuang dan ngagadekeun kawani untuk bisa mendukung Persib ka Jakarta. Sekarang hidup kita sudah lengkap, geus boga bahan caritaeun ka anak incu, kumaha pas Persib juara di GBK. Persis seperti dulu abah-abah kita cerita bagaimana mereka awayday ka jakarta nonton Djanur ngagolkeun di Final.

Twit langka dari admin @persib. GBK adalah tempat Rangga dibantai. Kini kita sudah bisa juara di GBK ngga! Satu twit yang menggambarkan bagaimana perasaan untuk pertandingan semalam, Persib dan bobotoh tidak akan melupakan kalian, Rangga dan Mang Ayi.

Sampai jumpa lagi kapan-kapan, kalau Persib ada maen.

@bus

follow kami di twitter @stdsiliwangi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Yang Lainnya