Keadilan Untuk Belencoso

Polemik Belen ini makin rame yes.

Ada yang bilang belen teu butut, lini tengah nu teu bisa kasih supply bola. Tanpa ada data berapa peluang yang dibuat oleh lini tengah Persib saya tidak mau mengambil kesimpulan itu. Karena sederhananya, toh Persib bukan tim dengan produktivitas terburuk di ISC, hal ini membuktikan kalau Persib masih bisa mengkonversi peluang menjadi gul, tidak pedulia siapa yang membuat peluang tersebut.

Saya sendiri cenderung berdiri di barisan yang menilai Belen mah emang butut, terlepas dari lini tengah yang tidak optimal dan taktik yang tidak cocok membuat Belen makin butut. Striker jago sih tidak butuh banyak peluang buat dikonversi jadi gul. Satu peluang lumayan dan dia bakal bikin gul.

Persib bukan tanpa peluang bagus di setiap pertandingannya, data ISC bilang tendangan ke gawang yang dilakukan Persib hingga pekan ke 13 adalah 59 kali, terbanyak dari semua kontestan ISC! Itu tendangan ke gawang loh, usaha paling nyata dalam mencetak gul. Usaha itu pasti ada prosesnya, dan sebagian besar proses itu dibuat oleh siapa coba? Oleh lini tengah Persib!

Seingat saya menonton semua pertandingan Persib di ISC ini, masalah Belen adalah mentalnya yang keburu hancur, karena tak kunjung memberi hasil, karena ekspektasi bobotoh terlalu besar, dan karena merasa pelatih dia yang baru memang tidak percaya pada kemampuannya. Masalah mental ini membuat kemampuan Belen membobol gawang lawan tidak pernah muncul. Tidak pernah sekalipun Belen mencetak gul secara beruntun di turnamen mayor, sejak pertama kali datang ke Persib. Ada masalah kualitas disini, yang semakin kronis karena mentalnya porak poranda karena Wak Haji.

Sebelum mentalnya hancur pun masalah belen adalah tidak bisa bermain seirama dengan pemain lain di lapangan, kawan-kawannya, penyokong utama dia untuk mencetak gul. Di banyak kesempatan, waktu masuk Belen ke kotak penalti lawan tidak pernah cocok dengan umpan silang pemaen Persib. Kalau ada yang bilang umpan silang pemaen Persib goblok, ya memang goblok, tapi tidak 100% goblok dalam satu pertandingan. Selalu ada umpan silang-umpan silang yang sampai kepada kawannya, berbuah menjadi usaha nyata mencetak gul. Nah, kenapa Belen jarang sekali, kalau bukan tidak sama sekali, menjadi pemaen yang mendapat umpan silang yang langka tersebut?

Gul Tantan di pertandingan perdana lawan SFC adalah hasil umpan silang. Gul Samsul ketika dibantai bhayangkara adalah hasil umpan silang. Gul ino dari jarak satu senti ketika melawan PSM adalah hasil umpan silang, yang memang butut sih karena kena tiang bukan kena kawan, tapi tetap saja itu umpan silang. Gul Samsul ke gawang Persipura juga umpan silang. Terakhir, gul tantan ke gawang Persela adalah hasil umpan silang. Kenapa Samsul, Ino, dan Tantan? Kenapa tidak Belen?

Kemudian bobotoh mulai membandingkan dengan SVD, karena si botak juga tak kunjung mencetak gul. Hemat saya, akan tiba waktunya bagi SVD mendapat tekanan seperti kepada Belen ketika waktu pengabdian Sergio kepada Persib di tahun ini sudah menyamai Belen. Sekitar 4 bulan lagi dari saat ini lah, cetak gul atau selamat menghadapi bobotoh dan manajemen.

Perihal taktik, Djanur memang masih meraba bagaimana dia mau bermain dengan komposisi skuad yang ada. Hak prerogatif seorang pelatih untuk suka dan tidak suka kepada pemaen, toh kalau karena ketidaksukaannya kepada seorang membuat tim celaka, pelatih juga yang akan ditendang paling dulu.

Djanur butuh waktu lama – relatif sih lama dan sebentar mah – untuk membangun tim. Well, pada saatnya nanti ketika sudah memiliki pemaen yang dia butuhkan dan skuadnya sudah khatam bagaimana menjalankan taktiknya di dalam permaenan, striker Persib akan mencetak gul.

SVD dan Belen, dengan sisa-sisa kemampuan mereka, sedang berada di masa yang sulit. Mereka pernah jago, tapi tidak untuk saat ini. Ada striker yang lebih jago dari mereka, yang dengan kemampuan umpan silang lini tengah Persib tetap bisa rajin mencetak gul. Sayang Belen bukan bagian dari daftar striker jago tersebut.

Semena-mena

Bagi saya persoalan utama terkait Belen adalah sedikitnya respek manajemen terhadap dia. Kinerja seseorang tidak seharusnya membuat dia dikucilkan begitu saja. Kalau mau bawa-bawa pemaen laen –saya tidak suka melakukannnya sebenarnya- bisa bawa itu Prince Yandi. GBLG sesungguhnya.

Libatkan belen dalam latihan, beri pengarahan taktik, pokoknya perlakukan Belen sebagaimana lazimnya pemaen bola diperlakukan. Tidak dengan mengucilkannya. Setidaknya menunggu sampai akhir putaran pertama yang hanya sisa 5 pertandingan lagi. Ketika jendela transfer dibuka, maka saat itu silakan dengan arogan manajemen mencoret Belen.

Bagaimana bila kemudian semua striker persib cedera dalam 2 minggu ke depan? Menyisakan si pesakitan yang diasingkan yang masih fit? Apa tidak malu menjilat ludah sendiri meminta dia bermain, sedangkan dalam latihan saja tidak dianggap?

Belen itu butut –dan bukan berarti Sergio Botak lebih baik- kemampuannya sudah habis untuk bisa membantu Persib yang sekarang. Tapi Belen harus memperoleh hak-hak nya sebagai pemaen dengan dilibatkan dalam latihana.

Jadi, akan lebih tepat kalau kampanye terkait Belen ini memakai tagar #JusticeForBelencoso bukan #SaveBelencoso, selama Djanur membangun tim, dan kemungkinan besar belen tidak masuk ke dalam rencana Djanur, posisi Belen di tim tidak perlu diselamatkan oleh bobotoh. Bobotoh lebih baik menuntut keadilan dari perlakuan semena-mena, pengucilan saat latihan, dan pencoretan sebelum jendela transfer dibuka.

@bus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp