Kesebelasan Ini Tidak Butuh Legenda

Pada jam tiga sore lapangan Stadion Surajaya kentara terasa sangat gersang. Terbayang panasnya cuaca di Lamongan, hingga membuat rumput-rumput yang hijau terlihat menguning. Jadwal kick off sore hari saat tur Jawa Timur selalu menjadi tantangan tersendiri bagi Persib Bandung. Suporter tuan rumah yang ganas, cuaca yang panas, dan tidak jarang keantikan keputusan wasit menjadi faktor yang bertubi-tubi menekan mental pemain.

Sebagai kapten, Atep berdiri paling depan, memimpin sebelas pemain inti masuk ke lapangan. Dari 33 pertandingan di Liga 1 2018, ini kali ke-9 Atep menjadi starter. Hanya 17 kali Atep bermain sepanjang musim, separuh dari jumlah pertandingan Persib di Liga. Jersey hitamnya rapih, nomer 7 memiliki kharismanya sendiri, ramput klimis dengan bau pomade beraroma segar, seperti baru dicukur kemarin. Siapa sangka, pertandingan itu menjadi kali terakhir Atep membela Persib Bandung di Liga Indonesia.

Sepuluh tahun masa pengabdiannya berakhir dalam 45 menit saja. Tiada yang istimewa pula dalam permainan Atep. Melakukan beberapa kesalahan, salah satunya ketika bola yang dia drible berhasil direbut lawan di area pertahanan sendiri, menjadi satu peluang untuk Persela yang berhasil ditip Deden Natsir menjadi sepak pojok. Tiada hasil akhir kemenangan yang dipersembahkan Atep di pertandingan terakhirnya. Skor akhir satu sama, gol dari dua penalti untuk masing-masing tim.

Memang jauh dari elegan bagaimana Persib mengakhiri karir salah satu ikonnya itu. Tidak ada pertandingan perpisahan. Tidak ada emosi sentimentil di pertandingan terakhir Atep. Bahkan memang saat itu tidak ada yang tahu kalau Stadion Surajaya bakal jadi venue pelepasan Atep.

Lebih mengerikan lagi ketika cerita proses pemutusan kontrak Atep muncul ke publik. Pemutusan kontraknya diinfokan melalui telepon ketika Atep sedang berkumpul bersama keluarga. Goblog!

Walaupun masa-masa terakhir Atep di Persib lebih banyak permainan jeleknya dibanding kontribusi yang maksimal, Atep tetap seorang pemain yang sudah mencapai level legenda buat Bandung. Panjangnya masa pengabdian. Menerima baton kapten dari Memen Durehmen yang menyerah. Menjadi co-captain bersama Firman Utina ketika Persib mengakhiri puasa gelar juara liga sepanjang 19 tahun. Gol-gol yang antik, yang beberapa di antaranya memberi kontribusi maksimal 3 poin untuk Persib.

Sulanjana memilih untuk putus dengan cara yang, geus weh kitu. What a shame!

Waktu berganti, Miljan Radovic cabut sebelum membawa Persib lebih terpuruk (masih teu paham sampe ayeuna kenapa Miljan sempet bisa jadi pelatih kepala Persib). Datanglah Robert Albert.

Hampir selusin pelatih berbeda memimpin Persib dan Hariono selalu bisa memenuhi permintaan para pelatih itu dalam urusan menghentikan serangan lawan di lini tengah. Ketika Robert Albert tiba, mungkin Mas Har pikir sekedar another head coach coming. Dia minta Mas Har menghentikan lawan, oke. Incar engkel playmaker lawan, no problemo. Minta lebih dari itu? Pada era kepelatihan Dejan, skuad Persib bahkan tidak punya playmaker yang meded, kondisi ini bikin Mas Har jadi pengatur serangan yang pandai memindahkan arah serangan dari kiri dan kanan. Pada periode kedua Djanur, Mas Har sudah fasih meliuk-liuk menggiring bola melewati satu dua lawan, sebelum akhirnya mengoper di posisi yang jauh dari tengah lapangan.

Komposisi gelandang Persib musim 2019 berisi Rene Mihelic yang tiada berguna kemudian dicoret setengah musim. Dado dan Aziz dengan potensi yang sudah mulai terlihat dalam hal teknis dan non teknis. Kim Jefrey dengan barberpassion-nya (dan belakangan menggantikan Lord Atep sebagai prime time player yang bermain bagus ketika banyak dihujat). Masih ada Gian Zola dalam stok gelandang Robert, sebelum  kemudian datang Omid Nazari menjadi otak besar serangan Persib. Tentu di atas kertas Mas Har masih bisa bersaing memperebutkan posisi gelandang cadangan. Saingannya dalam daftar stok gelandang “hanya” Zola dan Kim Jeffrey.

Nyatanya Robert punya pemikiran lain. Meski sepanjang musim 2019 Mas Har bermain dengan cukup oke sesuai dengan kapasitasnya, Robert merasa tidak lagi membutuhkan legenda dalam skuadnya. Robert seperti tidak butuh pemain yang walau maen butut tapi bobotoh segan untuk mengkritik. Mas Har menjadi nama berikutnya dalam list Robert setelah Syamsul Bahri Chaerudin. Hanya list mantannya Taylor Swift yang punya nama lebih mentereng dari deretan legenda klub dicoret Robert Albert.

Setahun berselang setelah Persib memutuskan memecat legenda hidup mereka, kembali Sulanjana melepas seorang pemain yang sudah menjadi ikon bagi Maung Bandung. Lagi-lagi dengan cara yang kurang elegan. Konten pelepasan Hariono sangat terasa hambar, malah teu enak sabenerna mah. Tidak ada kreatifitas yang mencapai standar kreatifitas “barudak Bandung” dalam konten perpisahan Mas Har yang diberikan Sulanjana. Gimmick-gimmick teu puguh dan butut.

Meski begitu, setidaknya Mas Har masih beruntung, dia tahu kapan pertandingan terakhir baginya akan terjadi. Bermain di stadion sendiri Persikab, bobotoh yang sudah siap melepas dengan penghormatan penuh, kawan setim yang ingin memberikan permainan berkesan bagi Mas Har di pertandingan terakhirnya, dan lawan yang levelnya sama-sama klasik. Pertandingan terakhir Mas Har menjadi penuh sentimentil. Pertandingan yang menguras air mata bagi banyak orang. Mas Har dilepas dengan layak oleh bobotoh.

Sepuluh dan sebelas tahun, masa kerja Atep dan Hariono di Persib. Keduanya sudah merasakan kejayaan dan keterpurukan yang sama banyaknya bersama Persib. Sayangnya, Sulanjana seolah menutup mata untuk atribut loyalitas mereka.

 

 

Lebih Jauh dari Taktik

Perkara kontrak Atep dan Hariono seharusnya sudah lebih jauh melampaui urusan taktik. Gap usia keduanya dengan tuntutan taktik sepakbola modern semakin tahun semakin lebar. Tapi sepakbola bukan cuma urusan taktik dan teknik bermain bola. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi hasil akhir suatu pertandingan, terlebih dalam iklim sepakbola Indonesia. Ada terlalu banyak faktor non teknis yang ikut menentukan kemenangan satu tim.

Jika hanya melihat taktik dan teknik, jelas Lord Atep dan Mas Har bakal keteteran. Usia mereka tidak lagi muda dan sangat memengaruhi kinerja di lapangan. Apalagi ketika harus bertanding dengan gelandang lawan yang usianya jauh lebih muda dengan teknik yang lebih baik. Sering terlihat dalam beberapa musim terakhir ketika Atep tidak lagi bisa meliuk-liuk menggiring bola melewati fullback lawan. Ruang pertahanan yang dulu terasa kecil bagi Mas Har, kini seakan terlalu luas. Kecepatannya untuk mengejar lawan kemudian melakukan tekel, kini telah jauh berkurang. Tekelnya bukan tidak lagi bisa melindungi barisan pertahanan, tapi Mas Har semakin sulit mengejar gelandang lawan untuk melakukan tekel.

Meski demikian, ada hal lain yang dimiliki oleh Lord Atep dan Mas Har. Ada atribut yang hanya mereka yang punya, jarang ada pemain lain yang memiliki. Lord Atep, masih memiliki sima untuk mencetak gol-gol ajaib. Seperti kata seorang pandit sepakbola lokal asal Pandeglang, Lord Atep adalah prime time player. Dia bisa tiba-tiba menjadi pemain kunci ketika bermain di jadwal tayang prime time. Bukan cuma klaim kosong, musim 2018 dengan kesempatan main hanya 800 menit, Atep mencetak satu-satunya gol dia musim itu ke gawang Arema. Partai besar, salah satu laga yang bisa membuat stadion full. Gol pertama Persib pada kemenangan 2-0. Ketika itu Atep mampu memecah kebuntuan Persib selama 40 menit babak pertama.

Mundur lagi di musim 2017, ketika Persib maen ancur-ancuran berujung dengan mundurnya Pelatih Djajang Nurjaman, digantikan oleh Herrie Setiawan yang kemudian tidak memiliki lisensi yang cukup sehingga memaksa Sulanjana kembali meminjam Emral Abus untuk menjadi pelatih dalam dokumen administrasi.

Bahkan dalam masa kelam seperti itu Lord Atep bisa mencetak 3 gol dan 1 asis dari 1.600 menit bermain. Salah satunya gol menggunakan perut yang lagi-lagi memecah kebuntuan Persib. Tentu saja salah satu moment yang patut dikenang adalah gol tunggal Atep yang membawa Persib jadi peringkat 3 Piala Preisden 2017. Menerima umpan overhead Dado dari tengah lapangan, tanpa kontrol Atep langsung menendang dari luar kotak penalti. Bola menghujam gawang Semen Padang, jelas kiper Padang tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi tendangan seperti itu. Teknik menendang Atep kala itu termasuk salah satu yang sulit dan bisa dia eksekusi dengan tepat.

Jika Lord Atep sudah memiliki banyak pemain pengganti seandainya ia pergi dari Persib, lain hal dengan Mas Har. Persib, bahkan rata-rata kesebelasan di Indonesia, jarang sekali memiliki pemain dengan karakter seperti Mas Har.

Tugas Mas Har adalah menghentikan serangan lawan. Sebagian besar gelandang bertahan di Indonesia biasanya memiliki karakter provokatif. Pressing pertama terhadap lawan dilakukan secara verbal. Permainan kasar mengincar engkel lawan, kemudian terlibat emosi yang meledak-ledak ketika terjadi perlawanan dari gelandang lawan. Mas Har bisa mengemban tugasnya untuk bermain kotor menghentikan lawan, tapi jarang sekali terlihat menunjukan emosi yang meledak-ledak, sebagaimana biasa ditunjukan oleh Gede Sukadana, Sandi Sute, Hargianto, Wahyudi Hamisi, atau Rizky Pellu.

Rata-rata gelandang tipe itu memiliki mental preman. Marah-marah setelah wasit meniup peluit tanda dia melakukan pelanggaran. Menunjuk-nunjuk wasit dan lawan. Mas Har hampir tidak pernah melakukan hal itu. Jika dia akan membalas dendam karena lawan mengasari dirinya atau pemain Persib, Mas Har akan melakukannya dengan langsung menghajar pemain tersebut tanpa banyak omong dan gestur-gestur tidak penting lainnya. Pribadi introvert Mas Har terasa jelas di dalam lapangan. Menghajar dalam senyap.

Yang Hariono tawarkan kepada Persib adalah etos kerja dan determinasi tinggi setiap kali dia bermain sambil tetap menjaga kontrol emosi, yang dia tunjukan melalui ketenangan ekspresi dan gesturnya. Kemampuannya mungkin sudah kuno di era taktik jaman sekarang, tapi bukan berarti benar-benar tidak lagi bisa dipakai.

Pun demikian dengan Lord Atep. Memang ada banyak pemain sayap dengan efektifitas yang lebih baik, sayangnya Frets dan Viscara tidak jauh lebih baik dari Atep. Frets Butuan dan Esteban Viscara sama tidak efektifnya dengan Lord Atep. Lebih buruk karena mereka berdua tidak memiliki loyalitas dan sima prime time player seperti Atep.

 

Kacamata Kuda Ganesha

Pada satu masa Persib pernah menjadi yang terdepan, terbaik, dan panutan klub-klub sepakbola di Indonesia. Tahun-tahun berlalu dan Persib disalip oleh klub lain tanpa menunjukan keinginan untuk balas menyalip kembali menjadi yang terdepan. Sulanjana menyetir Persib seperti sopir angkot. Ngetem lila, mengharapkan bati dari penumpang dengan mencoba mengakali biaya bensin dan setoran ka juragan angkot, marah-marah menyalahkan faktor-faktor lain ketika ojeg online mulai menguasai pasar.

Teu cocok dengan analogi eta? Ketika masalah tiket masih berantakan, Sulanjana malah mengkampanyekan bobotoh wani tertib. Tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya ada di internal manajemen, lebih suka melemparkan bola panasnya kepada Bobotoh. Jiga supir angkot nu ngarah ojeg online, padahal manehna loba ngetem nu nyieun penumpang hoream naek.

Dalam hal teknis sepakbola pun begitu. Masih terjebak romantisme juara 2014. Padahal Persib sekarang bermain medioker. Dalam tiga tahun terakhir, setiap tiba bulan November masalah bertubi menyerang Persib. Sulanjana tidak bisa melihat polanya. Seperti biasa mencoba cara instan untuk menyelesaikannya. Masalahnya mereka melihat simptom sebagai penyakit, jadi yang dihilangkan adalah simptom bukan penyakitnya.

Perekrutan pemain seringkali acak-acakan. Dalam dua tahun terakhir pemain datang sebelum pelatih diumumkan. Berujung dengan bongkar pasang skuad di tengah musim. Rekor 11 pelatih dan 2 caretaker dalam satu dekade terakhir menunjukan Sulanjana tidak punya rencana sepakbola jangka panjang. Saalus-alus tai ucing digulaan tetep moal bisa jadi pisang aroma. Saalus-alus ngaran Persib Bandung sebagai klub sepakbola profesional tetep hampa mun tanpa prestasi nu konsisten.

Sulit memahami sudut pandang Sulanjana dalam menilai pemain dan bobotoh. Terlihat tidak komprehensif dan seringkali membuat keputusan hasil dari pemikiran yang parsial. Bobotoh ada hanya untuk meuli jersey, merch, dan tiket. Pemain digaji ku PT. PBB teu beda jauh jeung buruh kahatex. Pelatih selalu ditarget juara, kemudian masuk lima besar menjelang akhir musim karena sepanjang musim sulit bermain konsisten untuk bisa bersaing memperebutkan juara.

Lebih jauh dari itu, masuk ke ranah yang teuing bener, teuing salah, Sulanjana seperti menutup mata bagaimana juara-juara liga 1 memainkan faktor non teknis mereka untuk mendukung hasil di atas lapangan. Sulanjana ngabobodo maneh tapi nu nyerina lain saukur menejemen. Bobotoh, pemain, dan banyak warga sunda selalu ikut menjadi korban yang tidak dipedulikan oleh PT. PBB.

Well, tong boro jauh-jauh ka tangan gaib sih. Sulanjana membuang Lord Atep dan Mas Hariono karena menilai dari sisi teknis dan taktik aja udah menunjukkan kalau mereka melihat sesuatu dari kacamata yang parsial melulu.

Tidakkah manajemen tahu bahwa sepakbola bisa dimainkan juga sebagai simbol. Menggunakan ikon untuk mengamankan hal-hal yang lebih besar dari sekedar siapa mencetak gol lebih banyak. Banyak faktor lain yang pada akhirnya bermuara sama di gelar juara.

Ah jiga nu teu kataekan wae ku Sulanjana. Padahal mah loba nu pinter di ditu teh. Maraneh loba gimmick teu lucu. (a)sulanjana.

 

[bus. / hgb.]

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart