Ketika Persib Sedang Dalam Kesulitan

stadion siliwangikekalahan dari surabaya yunaitid kemaren membuka mata kita, ada banyak hal telah hilang dari Persib dalam kurun waktu satu tahun saja.

Paling karaos tentu saja hilangnya Kamerad Vlado sebagai komandan lini pertahanan Persib. Vlado adalah otak dari kokohnya pertahanan Persib. Tanpa Vlado lini pertahanan Persib kocar-kacir. Tidak ada koordinasi untuk bergerak secara harmonis. Tidak ada yang wani gelut dengan striker lawan. Padahal salah satu kunci kesuksesan bek dalam bertahan menahan gempuran lawan adalah kudu bisa leuwih sangar dibanding streker lawan. Eleh adu gertak berarti eleh mental, eleh mental berarti tinggal tunggu waktu melakukan error dan kabobolan. Ketiadaan Vlado juga membuat Made kehilangan kepercayaan terhadap kuartet pelindungnya, hasilnya salah koordinasi sering terjadi.

Determinasi dan Kawani Gelut

Kehilangan mental pantang menyerah Vlado juga membuat kemunduran Persib terasa. Ketika sedang dalam posisi tertinggal Vlado selalu bisa menghidupkan api harapan bobotoh, menjadi bahan bakar pemaen lain agar tetap fight! Seperti legenda Robby Darwis “Halik Ku Aing” Vlado bisa tanpa rasa ragu merangsek naek membantu penyerangan. Masa-masa ketika striker Persib bapuks, Vlado sering muncul sebagai penyelamat. Gol nya ke gawang Arema di Semifinal dan ke gawang PBFC hanya dua contoh dari semangat bertarung Vlado yang tidak pernah padam berujung dengan gol karena penyelesaian akhirnya tak kalah ciamik dibanding streker persib saat ini.

Jauh dari posisi Vlado, juru gedor Persib memang butut sejak ditinggal oleh Sergio. Djibril sempat memberi harapan, tapi kemudian cedera menjadi penghambat. Kepercayaan Goalibaly semakin menurun, gol semakin langka.

Masalah ini diatasi oleh Ferdinand yang baong tapi efektif. Mungkin pas orok Ferdinand ini tara dibedong, sehingga kelakuannya jail amit-amit. Penuh determinasi untuk mencetak gol. Selalu siap membela harga diri Persib. Dari 11 gol yang disumbangkan Ferdi berapa banyak yang bisa kita ingat selalu? Gol ke gawang persita. Dwigol ke gawang Arema. Gol sundulan ke gawang Romanovs. Dengan Romanovs ini kejadian gelut karena handuk juga perlu kita kenang selalu. Jiga olegun eta anduk batur dibanjur cai aqua! kuduna kiihan langsung sih.

Selain itu Bang Fer selalu siap gelut jika ada kawannya yang dikasaran batur. Siapa itu pemaen PBR diajak gelut gara-gara nengkas Bang Pardi!? Atau The Jak jurig ateul yang diajak gelut gara-gara moyokan wae pas manehna maen di timnas.

Kelakuan menyebalkan itu hanya sebatas di dalam lapangan dan sebatas kepada lawan. Tidak ada ceritanya Bang Fer ngeluh di twitter. Tanpa ada komentar-komentar yang membuat panas suasana sebelumnya, Bang Fer pindah ke Sriwijaya. Mungkin ada satu, dua kalimat yang membuat panas ceuli manajemen, tapi itu dikutip media. Teu ngetwit penuh kode, terus twitna dihapus.

Kini kita masih punya Bang Utina. Seorang diri. Djamul nu omonganna teu nyakola langsung cicing dipapatahan Bang Utina di semifinal Piala Presiden kamari. Tapi, suasana hati Bang Utina sudah tidak 100% lagi untuk Persib. Gosip-gosip berseliweran, entah mana yang benar, tapi semua gosip punya satu kesamaan, manajemen adalah sumber kegelisahan Bang Utina.

Selain Bang Utina memang masih ada Mas Har, tapi Mas Har kini sudah sangat kalem. Keras secara teknik tapi lembut dalam hatinya.

Untuk urusan non teknis, determinasi dan fighting spirit menjaga harga diri Persib biar tidak eleh dari lawan, kita sudah kehilangan banyak sekali.

Sayap-Sayap yang Patah.

Urusan teknik dan strategi, kita sedang dalam masa-masa kegelapan. Sejak awal menangani Persib, Djanur menggunakan 4-2-3-1 klasik dengan dobel pivot dan seorang gelandang serang dengan role no 10. Skema serangan dibebankan kepada sayap, terutama sayap kanan.

Butuh 2 tahun bagi Djanur agar anak asuhannya bisa paham, khatam diluar kepala bagaimana menjalankan strategi itu. Sayap kanan selalu bisa memberi jawaban atas ekspektasi Djanur.

Di Jendral Sudirman Cup ini kita menemui kenyataan kalau sayap kanan kita sudah hampir punah. Lebih umum lagi, sayap-sayap Persib sudah terancam punah.

Haji Ridwan mungkin sudah tidak fokus lagi bermain bola. Fokus Haji Ridwan sekarang bisa jadi adalah ibadah kepada Alloh dengan tekun. Umur 35 dengan kondisi tuur yang sering cedera tiap dibadug lawan, memang masuk akal jika Haji Ridwan memilih untuk fokus bertobat.

King Zamrun? Baru maen 7 kali buat Persib, kemudian maen Tarkam buat tim lain, kemudian cedera parah. Dulu juga Zulham ini jadi PHP buat kita, gara-gara pesawat dicancel, tiba-tiba teken kontrak untuk Persipura. King Zamrun mungkin bukan masa depan sayap kanan Persib. Nomer 54 ngora ini juga membuat sayap kanan kita saat ini jadi tanpa pilihan sama sekali.

Sayap kanan kita sebenernya memiliki pemain muda paling potensial yang ada di Maung Ngora. Febri Bow. Tapi, Bow ini masih budak SMA. Di liga yang beradab bocah umur 17 tahun bisa dengan aman dimainkan sebanyak 36 pertandingan dalam semusim. Seperti Wilshere yang maen 36 games buat Arsenal di umur 16 tahun (tong mamawa Arsenal euy) atau Sterling yang maen 30+ pertandingan di umur 17 tahun (tong mamawa liverpool oge, geus lila teu juara).

Memainkan Bow yang berumur 17 tahun di tarkam endonesia secara tidak langsung, perlahan-lahan bisa membunuh kariernya. Bisa karena cedera parah karena dikasaran pemaen kolot (dan wasit tidak pernah melindungi) atau karena attitudenya tiba-tiba jadi ngartis. Ngarasa geus jago. Lebih mineng nyieun video periscope dibanding serius latihan.

Bow akan menjadi pemaen inti Persib, tapi bukan sekarang. Jangan sekarang. Di Indonesia yang perkembangan pemainnya lambat, umur 27 ge masih disebut pemaen ngora. Masih ada 10 tahun bagi Bow untuk mencari ilmu dan mengokohkan fisik dan mental sebelum menjadi andalan Persib, bermain 34 pertandingan semusim.

Sebagai pelatih yang mengandalkan sayap sebagai skema serangan utama, dan dengan susah payah membuat pemaen-pemaennya paham gimana skema yang dia inginkan, Djanur kini tinggal punya satu pemaen sayap murni. Lord Atep.

Bukan tanpa alasan jika sepanjang 2014 Lord Atep lebih sering duduk di bangku cadangan. Kemampuan Lord Atep di sayap kiri tidak bagus. Saat itu ada Ferdi dan Tantan yang bergantian bisa memainkan peran sayap kiri. Ferdi sudah pergi, Tantan hupir dengan tuur yang tidak pernah sembuh secara sempurna.

Satu-satunya alasan kenapa Lord Atep terus bermain walaupun maennya butut terus adalah karena tidak ada pilihan lain.

Perancang Serangan.

Masalah berikutnya adalah pemain role no 10. Playmaker. Perancang serangan. Kembali kepada taktik utama Djanur dengan pola kojo 4-2-3-1. Gelandang serang adalah kunci utama. Serangan memang sering lewat sayap, tapi yang lebih penting dari pemaen sayap (yang pergerakannya lebih mudah diantisipasi karena cuma 2 dimensi, maju atau mundur, tidak bisa ke samping kecuali niat dek out ball) adalah gelandang serang yang posisinya di depan poros ganda dan di belakang striker tunggal.

Konate adalah raja di posisi ini. Kami sudah pernah membahas kenapa Konate sangat penting. Di PJS ini Konate dua kali memulai pertandingan dari bangku cadangan. Gian Zola menjadi starter karena regulasi menyuruh bocah dibawah umur 21 kudu jadi starter. Dua pertandingan ini kayaknya Zola masih sangat jauh dari memenuhi standar minimal menjadi gelandang serang Djanur.

Atribut utama yang dibutuhkan oleh gelandang serang Djanur adalah kemampuan membawa bola dengan joss. Bisa memegang bola selama beberapa detik biar para pemaen sayap bergerak. Lebih dibutuhkan lagi yang jago dribble melewati 2-3 pemain lawan. Poros tengah adalah bagian paling penuh jelema di lapangan. Zola lebih sering gagal dalam menunaikan tuntutan ini. Sering sekali bola bisa direbut dengan mudah.

Setiap Djanur mengganti Zola dan Bow dengan Bang Utina dan Don Konate, posisi keduanya secara berurutan adalah gelandang tengah dan sayap kanan. Konate yang versatile bisa bermain di kedua sayap dan di tengah. Bang Utina sayangnya hanya bagus bermain di poros tengah. Bisa jadi itu alasannya kenapa bukan Konate yang di tengah.

Sayang seribu sayang selanjutnya, Bang Utina hanya sedikit lebih baik dari Zola dalam urusan menghadapi serbuan 2-3 pemain lawan sekaligus. Konate lah satu-satunya pemain Persib saat ini yang dengan enjoy bisa menghadapi 2-3 lawan sekaligus tanpa bolanya kerebut. Lim JS dan Gerard Pangkali dan Emanuel Wanggai wae sebagai trio top level dalam urusan poros tengah sering bisa dikadalan oleh Konate. Apalagi kalo cuma Asep Berlian.

Alternatif lain untuk gelandang serang adalah dengan memainkan pemain yang bisa melakukan operan satu sentuhan dengan cepat dan akurat. Dado mungkin bisa melakukan hal ini. Tapi belom pernah dicoba.

Gelandang serang dalam skema Djanur bukanlah tukang distribusi utama bola. Pengoper utama Djanur adalah deep lying playmaker. Dulu Bang Utina, kemudian Taufiq dan paling gress Dado. Matakna, posisi paling aman dalam skuad compang-camping persib kali ini adalah gelandang tengah. Stokna loba jeung harade.

Juru Gedor.

Juru gedor Persib ayeuna mah garoreng. Tapi diantara semua posisi, Juru gedor ini yang paling gampang diganti. Tinggal hubungi agen yang tepat, striker jago bisa didatangkan. Syarat utamanya satu. Uwak dan Mang Djanur harus melakukan kontak dengan agen pemaen nu asli dan berkualitas. Kami sudah bosan mendapatkan batagor.

Ayeuna, saha pemaen berdarah sunda yang jago dalam membobol gawang lawan? Awas mun ngajawab Jajang Mulyana! Edek kanyut dimandian make kiripik ma icih?

Akhirul Kata.

Intina Persib dalam kesulitan. Skuad saat ini sangat jauh dari ideal untuk memainkan skema utama Djanur, bahkan skema cadangannya juga.

Djanur paling bisa mengubah pola dengan variasi dari 4-2-3-1, tidak bisa pola lain yang ekstrim jauhnya dari situ. Contoh, mun make 4-4-2 diamond mungkin bisa mengatasi masalah kekurangan sayap, tapi Persib teu boga 2 striker yang bisa bertahan 90 menit digeder tanpa cedera. Lagian khusus PJS Febri Bow yang pemaen sayap kudu dipaenkeun dalam skema yang mengandung sayap, setidakna sampe manehna diganti.

well, panjang teuing ngocoblakna. Hatur nuhun yang udah daek baca sampai kalimat ini tanpa ngalewat satu bagianpun. hehehe. Sampai Jumpa lagi.

Tong ngarep teuing juara PJS. Inget prinsip: teu beunang pialana, ala pengalamanna.

@bus

follow kami di twitter @stdsiliwangi

 

p.s. hatur nuhun buat coach riphan untuk semua masukannya.

p.p.s hampura mun tata urutan kalimatna teu ngeunaheun. aslina ieu ditulis tanpa dikonsep heula. langsung jeder weh di wordpress editor. hahaha. Tulisan Saka. Sakainget, Sakahayang.

 

 

 

 

 

 

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart