Kuliminasi Kemonotonan Persib a la Chef Djanur

Well, tak banyak yang bisa dikisahkan dari pertandingan melawan persij*. Pada dasarnya game itu emang overrated. Jadi males juga sih nulis tentang pertandingannya. Game yang boring, dengan taktik haben-weh-kitu a la coach Djanur.

Jika ada yang perlu dicatat dari persib lawan persija adalah keberanian, atau mungkin lebih tepat disebut keputusasaan, mang Djanur untuk menggantikan Djibril dengan seorang Rudiyana. Mengganti seorang striker andalan dengan seorang bocah dalam pertandingan bertensi sangat tinggi. Kami rasa ini lebih pada keputusasaan Djanur terhadap kinerja Djibril dalam 3 pertandingan terakhir. Sudah 3 game, Djibril mogok mencetak gol.

Bisa jadi ini adalah titik kulminasi dari kemonotonan taktik Djanur sepanjang side A musim ini. Tanpa ada perubahan saat memasuki side B, sulit melihat persib bisa juara. Bahkan mungkin akan cukup sulit juga untuk persib meraih tempat di babak 8 besar.

 

The Unexplained Roller Coaster Performance.

Performa persib musim ini memang naik turun. Ada sejenak konsistensi positif sebelum penurunan curam yang panjang. Naik turun dengan cepat seperti roller coaster.

Skema yang diusung Djanur adalah 4-2-3-1. Flank memegang peranan penting karena serangan persib selalu dan hanya bisa dilakukan via kedua sayapnya. Hampir tidak ada serangan menembus lewat poros tengah, atau pun serangan coming from behind dari para gelandangnya.

Selain itu, skema Djanur juga membutuhkan seorang striker tengah yang ciamik. Lihat bagaimana di empat pertandingan awal persib kesulitan mencetak gol tanpa kehadiran Djibril. Djibril adalah lokomotif roller coaster persib. Saat dia tampil trengginas, persib menanjak dengan cepat. Saat dia kehilangan sentuhannya, persib menukik tajam kesulitan mencetak gol.

Kami menamai gameplan ini sebagai haben-weh-kitu tactics by Djajang Nurjaman. Yang, ironisnya, bahkan sejak awal musim, lawan-lawan persib sudah tahu bagaimana mencoba menahan taktik ini. Mengunci kedua sayap persib adalah hal pertama yang bakal mereka lakukan.

Tiadanya kreativitas dari Djanur, atau setidaknya ide untuk melakukan perubahan reaktif di tengah pertandingan membuat kami semakin yakin bahwa Djanur lebih cocok untuk menjadi seorang scout dibandingkan pelatih kepala persib. Teknikal area persib miskin instruksi kreatif, lini serang persib tidak mengenal kata improvisasi dan kreativitas. Hal yang bisa dibanggakan dari setengah musim ini mungkin hanya semangat tarung jeung getihnya. Itu pun hanya pada beberapa pertandingan.

 

Ketika SJH mengkhianati.

Musim demi musim, persib adalah tim yang jago kandang. Ada saat-saat dimana Siliwangi sangat angker. Permainan persib justru sering meradang jika di kandang lawan. Ingatlah ketika persib harus kalah di tangan psap sigli. Meeenn, psap sigli lah!

Musim ini, persib tampil trengginas di luar kandang. Catatannya ciamik, hanya sekali kalah

Well, hal itu tampaknya meminta kompensasi yang tidak main-main. Persib susah menang di SJH! Kalah melawan semen padang dan pbr (okeh, tandang lawan pbr, tapi tetep weh euy SJH koplok!)

Mang Vujo sampai mengakui bahwa bermain di kandang memberi tekanan yang lebih besar bagi dirinya. Ekspetasi bobotoh lebih mengintimidasi dibanding cacian dan chants suporter lawan saat tandang.

Dengan mental pemain seperti itu, sulit rasanya berharap persib bisa juara musim ini. Ketika suporter sendiri justru dianggap sebagai tekanan. Dukungan ribuan bobotoh menjadi senjata makan tuan, pemain tak bisa mengolah hal itu menjadi motivasi lebih. Apeu!

Kami berharap GBLA bisa segera digunakan.

 

Notable Player.

Ada beberapa pemain yang menarik perhatian di setengah musim ini.

Pertama adalah Ferdinand Sinaga, walaupun seperti juga performa persib, performanya angin-anginan. Saat tampil bagus, bagusnya kebangetan. Seperti peragaannya saat melawan persita dan gresik. Bisa dikatakan Ferdi memberi persib 6 poin dari dua game itu. Tapi ada juga saat dia maen cavruk seperti pas lawan sang mantan semen padang, it’s cost persib home defeat. Asyuu!

Tak kalah angin-anginannya adalah Djibril Goalibally. Absen di tiga game awal, kemudian muncul sebagai PHP bagi bobotoh untuk move on dari Sergio. Teu kagok, 5 gol dari 4 game berikutnya! Membawa persib ke pucuk klasmen. Eh, di tiga game terakhir Goalibally kami seperti beramain dengan gigi satu. Tiada gol, persib hanya sekali menang.

Hariono memainkan musim ke 6 nya dibawah WHK. Tiada yang berubah dari semangat tarungnya. Bukan cuma melindungi back four, tapi juga melindungi harga diri persib. Musim ini juga untuk pertama kalinya Mang Har menjadi kapten bagi persib. Kapten selama 10 menit, dua kartu kuning merusak hari bersejarah bagi Hariono.

Satu-satunya bukti bahwa Djanur punya plan dalam bermain adalah hadirnya Vujo di lini belakang. Vujo adalah penyampaian taktik Djanur di atas lapangan. Bermain nyaman sebagai hulu serangan. Presentasi long pass dari bek ke depan berkurang banyak sejauh ini. Bek Montenegro ini juga daek gelut demi melindungi gawang persib. Blunder masih ada, termasuk operan pendek dari Jupe pas lawan arema, tapi overall Mang Vujo bisa diandalkan untuk bertahan dan menjadi sumbu serangan.

 

The only consistency consistent.

Save the best for the last. Pemain terbaik dalam separuh musim ini kami beri kepada Makan Konate the General! Jendral lapangan tengah persib. Kuat dalam defend, cerdas dalam menyerang. Persentasi penalti nya untuk persib sempurna! Termasuk yang memberi tiga poin saat lawan sfc dan persita.

Permainan Konate dari minggu ke minggu stabil. Bisa mengatur tempo, bisa mengalirkan bola dan berada dimanapun di seluruh bagian lapangan. Beruntung sekali persib mendapatkan Konate dan bukan Gustavo di awal musim ini.

Jika konate bisa mengembangkan permainannya plus WHK membeli satu striker ciamik baru. Harapan menjadi juara terbuka lebar.

Jangan dilupakan, Konate ini masih berumur 22 tahun dan sedang menjalani LDR antara Bandung dan Mali. Sangat caket!

 

Last word.

Well, ini sebenarnya berita buruk. Melihat hasil-hasil persib yang musim ini tampak menjadi cerminan dari hasil liperpul di engris sana, vice versa. Kegagalan liperpul seperti menjadi grim yang berdiri di atap si jalak harupat. Semoga tidak seperti itu.

 

Selamat menyongsong ibadah putaran kedua bobotoh sekalian.

#DjanurOut! #tcn10

 

@bus @xuk @omz