Merepetisi Djanur?

ngadu bako header

Mari kita sedikit mengenang Persib musim 2008/2009. Ada 2 hal dari penunjukkan Jaya Hartono menjadi pelatih Persib pada bulan juli 2008 itu, Kantor Berita Antara mencatatnya sebagai berikut:

“Tidak perlu ada target-targetan juara, karena pada hari ini saya ada keinginan membawa Persib menjadi juara LSI 2008,”

“Saya baru kali ini masuk Persib, tapi dukungan bagi saya begitu kuat. Ini sebuah kehormatan bagi saya,”

Of course bobotoh waktu itu optimis dan mendukung penuh Jaya, beliau adalah pelatih yang pernah juara bersama Persik Kediri, saat kota Kediri melaksanakan pilkada tahun 2003. Tapi da, siapapun juga pelatihnya, saat diumumkan pasti didukung bobotoh. bahkan Daniel Darko sekalifun. Entah mana yang lebih memberi harapan, dilatih pelatih yang juara bersama Persik Kediri 2003 atau dilatih pelatih yang juara ti hong kong.

Well, apa yang terjadi beberapa minggu kemudian? Maen di Siliwangi, Persib eleh ku Perjisa, salah satu pencetak gul untuk perjisa di pertandingan itu adalah Ino Pugliara. Eta pertandingan berakhir rusuh. Kami ge ngiluan terjebak di samping selatan.

Setelah permaenan memuaskan di partai pembuka, menang 5-2 lawan persela, Jaya langsung digoyang karena 3 kali kalah beruntun. Tapi Jaya masih bisa berkelit, satu-satu dalih yang menyelamatkan Jaya saat itu karena 2 kekalahan didapat dari tur ke Papua lawan Persipura dan Persiwa.

Jaya kemudian bisa ngarenghap dan memulai rentetan hasil positif untuk Persib. Dua kali menang di kandang lawan Persik Kediri jeung Pesitara, kalah lawan Sriwijaya di palembang, kemudian 17 pertandingan tak terkalahkan! Rekor terbaik Persib setelah 20 pertandingan unbeaten jaman Sir Indra Thohir 1994-1995.

10 pertandingan sejak kalah lawan Sriwijaya eta, Jaya berhasil antar Persib menang 6 kali dan imbang 4 kali untuk menyelesaikan putaran pertama ISL 2008/2009. Mun dibayangkeun eta hungkul udah joss pisan yah keliatannya, 23 poin dari 30 poin maksimal. Endeeeuuuss. Tapiii, di akhir putaran pertama itu Persib cuma ada di posisi 5 klasmen. Selisih dengan Persipura yang tidak pernah kalah oge cukup jauh.

Kinerja Jaya dalam memberikan hasil tidak kalah untuk Persib itu yang membuat Jaya terus dipertahankan dan inkonsistensi masih mendapat pemakluman dari bobotoh dan manajemen. Hingga akhirnya sudah terlalu terlambat untuk bisa mengejar Persipura.

Kinerja Jaya bawa Persib finish posisi 3 itu ternyata memuaskan manejemen, apalagi sampai pertandingan terakhir Persib berpeluang jadi runner up. Beberapa kekalahan fatal yang membuat peluang juara hilang dimaklumi, dan hasil positif rentetan tidak kalah diapresiasi (mungkin) dengan berlebihan.

Karena toh pada musim berikutnya Jaya gagal mengulang prestasinya dan mundur saat kompetisi belom beres. 27 kali maen, kalah 10 kali, tiap maen di kandang lawan hampir pasti eleh. Rivuh.

Jaya mengundurkan diri setelah ditekan oleh manajemen. Dikasi ultimatum harus menang 5 kali di 5 pertandingan. Wios bedo aing mah! Jaya pun mundur.

Pengulangan

Kejadian Jaya itu bukan yang pertama dan bukan yang terakhir. Juan Paez setelah berhasil menyelamatkan Persib dari degradasi, diberi kepercayaan untuk melatih Persib di musim 2004 dengan target JUARA!

Bayangkeun, musim 2003 Persib adalah kesebelasan calon degradasi, dan musim berikutnya targetnya teu kagok langsung Juara! Nature Persib emang gitu, sebagai salah satu kesebelasan terbesar di Indonesia, dosa besar kalau gak pasang target juara. Bari na ge, di tiap masa persiapan Persib emang selalu menunjukan kemampuan juara dengan skuad berkemampuan di atas rata-rata kemampuan kesebelasan lain.

Well, Paez kinerjanya naek turun, tidak pernah butut beruntun tidak pernah juga hade konsisten. Rentetan cuma sekali menang di 6 pertandingan terakhir putaran pertama liga mendapat pengampunan oleh bobotoh dan manajemen. Persib yang sudah terlalu lama tidak pernah konsisten menjadi kabiasaan buruk yang membuat bobotoh dan manajemen mewajarkan kinerja Paez. Paez teu diganti, bahkan saat beres putaran pertama ketika kemungkinan lolos ke babak 8 besar semakin poeks. Persib teu juara. Kisah Paez bersama Persib usai seiring berakhirnya liga.

Kemudian ada juga Arcan Iurie. Seperti Paez, berhasil memperbaiki situasi chaos Persib ketika direkrut menjadi pelatih saat musim sudah berjalan. Kemudian diperpanjang kontraknya. Diberi target juara di musim baru.

Arcan masih saheleung sih, walau bisa diitung sebagai PHP Level dewa. Juara setengah musim. Kasieunan Eka dipanggil timnas tidak punya gelandang yang bisa mengatur lini tengah. Menukar Nyeck Nyobe dengan Leo Chitetsu. Blunder. Ditekan ti ditu ti dieu. Gering. Opname. Mundur.

Djanur

Seperti juga para pendahulunya, Djanur selalu mendapat tekanan edan eling. Djanur adalah satu-satunya Pelatih yang tidak mundur atau dipecat Persib atau habis kontrak dengan jelas dalam 2 dekade terakhir. Dia pergi ka itali, diganti batur, kemudian balik deui. Udah gitu aja. Padahal Djanur adalah pelatih paling sukses di era PT PBB. Dia satu-satunya anomali dari siklus pelatih Persib di 20 tahun Persib 1994-2014.

Musim 2013 dia ditekan, keinginan juara sudah sangat tidak tertahankan walau pemakluman maen butut dan hasil goreng masih lumayan kental. Pewajaran inkonsistensi Persib lebih karena belum pernah sebelumnya Bobotoh merasakan Persib yang maen konsisten. Jadi tidak punya standar. Hanya saja, beuki dieu bobotoh beuki kritis, dan baru di era Djanur sih suara-suara ‘tong dibiasakeun maen butut’ ‘eleh tandang tong dianggap wajar’ dan sabangsana mulai kencang.

Matak pas Djanur cuma bisa finish posisi 4 dan eta ge atas jasa Sergio Botak Bageur, suara ketidakpuasan cukup kencang saat Djanur dipertahankan. Bahkan oleh yang mempertahankannya juga, Wak Haji, kadang-kadang sok kaceplosan menekan Djanur sedemikian rupa. Untung weh teu nepikeun di-goblog-saya-bilang-kan dan untung weh Djanur bisa juara pada akhirnya.

Djanur 2013 sebenerna sudah kehilangan kemungkinan juara sejak awal. Sekali menang, dua seri, tiga eleh di 6 game awal bikin startna kejauhan dari persipura. Djanur selamet tidak dipecat walau tekanan edan karena kemudian jadwal Persib enakeun. 9 pertandingan, 8 diantaranya maen di bandung, dan 8 game eta meunang kabeh

Lebih jauh sampe akhir putaran pertama dan awal putaran kedua Persib hasilnya positif terus, 11 pertandingan tidak kalah, 9 menang 2 imbang. Mendekat ke papan atas walau masih jauh jaraknya dengan persipura. Harapan palsu pisan.

Cuma ya, dengan kinerja seperti itu, Djanur dapet jaminan ngelatih sampe akhir musim walau sudah hampir pasti moal bisa ngudag persipura sejak pertandingan ke 22, beres double eleh di tur jatim ka malang dan gresik.

Da dek dipecat karena gagal target juara oge keur naon, udah hampir beres, pelatih anyar ge moal bisa mengubah keaadaan. Jadi ketika kolaps di akhir-akhir musim, dengan hese meunang kandang tandang, pewajaran masih diberikan, pemakluman gagal juara masih aya. Di saat bersamaan slogan rindu juara juga semakin kencang.

Basa itu Finish ka 4 ge sebenerna bisa lebih baik kalau saja Djanur masih bisa menjaga konsistensi di 5 pertandingan terakhir. Nyalip Arema di posisi 2 mah bisa wae da. Cuma nya eta, maen tandang ka papua udah jadi alesan kumeok samemeh dipacok. Padahal persipura geus juara. Can deui eleh ku persiram di bandung. HIH!

2014 Djanur sukses terbantu oleh sistem kompetisi ISL 2014. Inkonsistensi di awal musim, rivuh mencari kemenangan menjelang paruh pertama usai, eh justru mendapat puncak penampilan menjelang fase krusial. Sangat terbantu oleh mental juara rengrengan Bang Utina. Coba mun eta sistem kompetisi penuh, ti akhir putaran pertama ge geus moal bisa ngudag Arema dan Persebaya yang sudah konsisten sejak awal susah dikalahkan, rajin dimenangkan. Bersaing dengan Persipura mah komo.

Dejan

Kini Dejan rivuh juga di awal-awal kompetisi panjang. 6 poin dari 4 game. Tekanan pada Dejan sekarang mulai dibandingkan dengan tekanan pada Djanur musim 2013. Buat maraneh yang membandingkan Dejan dengan Djanur, musim 2013 Persib finish ka 4 jauh pisan tertinggal ti Persipura nu juara. Dan Djanur musim berikutna meunang milik badag karena sistem kompetisi diganti, terus menemukan peak performance di akhir musim. Musim hareupna Dejan masih teu jelas bakal kumaha.

Apakah kalian yang percaya Dejan bakal bisa lebih baik lagi nanti yakin bahwa musim depan sistem kompetisina make 8 besar terus aya finalna sehingga Dejan layak didagoan 2 musim?

Catatan sejarah sih lebih banyak memberi cerita pengulangan model pelatih gagal di musim keduanya (3 cerita) dibandingkan kisah sakses pelatih di musim keduanya (1 cerita saja milik  Djanur).

Jadi, musim ini now or never banget buat Dejan. Start butut ieu harus secepatnya diakhiri. Koncina adalah menjaga jarak dengan pemuncak klasmen. Mun sakirana edek terus dibere waktu dan kesempatan, bae teu meunang oge asal tim-tim di luhur Persib oge teu meunang. Jarak poin harus terus dijaga sampai kemudian Persib menyusul mereka. Dan pikiran bae eleh ieu adalah salah badag.

Koplokna, saat kuduna fokus menerkeun Persib biar skuat yang ada ayeuna bisa menjalankan taktik, si KHD malah menanggapi carita pelatih timnas dengan serius

“Tentu saya akan bangga jika memang saya diperlukan oleh PSSI untuk berkerja melatih di timnas senior karena melatih timnas merupakan impian semua pelatih termasuk saya,”

“Saya siap melewati itu, sebelumnya saya sudah pernah melakukannya karena pernah di Timnas Hongkong,” [bola.com]

Walau kemudian memberi statement tetep fokus buat Persib di simamaung, tetep weh euy sekedang menyuarakan kesiapan aja itu bukti manehna sempet teu fokus jang Persib. Teu apal kitu silaing eta ide Dejan for timnas kumaha asbabun nuzulna? Saha dan kumaha carita awalna nu nyieun ide eta? Hasyeum.

Akhir Kata

Adakah harapan untuk Dejan bisa membawa Persib menjadi juara musim ini? Coba perhatikan daftar skuad Persib di koran PR ini:

Kiper: I Made Wirawan (78), Deden M Natshir (1), M Ridwan (21)

Belakang: Vladimir Vujovic (3), Jujun Saepuloh (55), Purwaka Yudhi (2), Tony Sucipto (16), Jajang Sukmara (18), Hermawan (16), Yanto Basna (5), M Agung Pribadi (13), Dias Angga Putra (4)

Tengah: Hariono (24), M Taufiq (8), David Laly (91), Kim Jefrrey Kurniawan (23), Rachmad Hidayat (17), Atep Ahmad Rizal (7), Robertino Pugliara (10), Febri Hariyadi (16), Gian Zola (93)

Depan: Tantan (82), Samsul Arif (9), Juan Carlos Belencoso (99), Yandi Sofyan Munawar (15), Rudiyana (11), Zulham Zamrun (54), Sergio Van Dijk (33).

Kurang naon coba?

Kurang taktik nu hade dari pelatih jenius.

Wassalam. Sampai jumpa lagi.

 

@bus

follow kami di twitter @stdsiliwangi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart