Mieling Milangkala 82 Tahun Persib

82 tahun persib

Hari ini Persib ulang tahun. 82 tahun, 7 gelar juara sudah dikoleksi. Well, bagi bobotoh generasi 90an seperti saya, gelar juara yang paling berkesan adalah juara ISL tahun lalu. Semua orang bilang Persib buka puasa gelar setelah 19 tahun, yang sebenarnya terasa di hati ini juara ISL 2014 adalah gelar pertama Persib.

Terasa sebagai gelar pertama karena seumur hidup baru sekarang merayakan langsung Persib menjadi juara. 19 tahun yang lalu saat juara di Senayan, bobotoh generasi 90an baru berumur 5 tahunan. Orang sunda memang dipastikan menjadi bobotoh sejak lahir, tapi apa yang dimengerti oleh bocah yang belum sekolah soal menjadi kesebelasan terbaik di Indonesia?

Soal koleksi tropi liga Indonesia sudah sepatutnya Persib memberi penghargaan lebih kepada Robby Darwis. Pengabdiannya untuk Persib terentang sepanjang 3 dekade generasi. Robby terlibat dalam 4 dari 7 gelar juara Indonesia yang dimiliki Persib. Meski bisa dinilai gagal sebagai asisten pelatih dan pelatih serep, Robby tetaplah legenda yang sulit untuk disamai oleh pemain manapun di Indonesia.

Robby adalah pahlawan bagi bobotoh-bobotoh kolot. Sebagai kapten Persib dirinya sangat memanjakan bobotoh saat itu. Mengangkat piala 4 kali! Untuk sesepuh yang lahir tahun 60an-70an, Tahun 1986 Persib Juara, selang 4 tahun juara lagi, selang 4 tahun juara lagi, terakhir tak perlu waktu lama 1995 juara lagi!

Ditambah beberapa kesempatan yang membikin air mata kekecewaan dan kesedihan mengalir karena Persib kalah di final, era 80an-90an adalah masa-masa yang sangat menyenangkan bagi bobotoh. Hampir selama itu Persib dipimpin oleh seorang Robby Darwis.

Ketika Persib Juara musim lalu, Robby bilang:

“Kami semua menangis karena terharu sedih. Ini penantian yang cukup lama. Selama 19 tahun kita tunggu akhirnya bisa terwujud sekarang..”

Bukan hanya bobotoh yang merasakan buka puasa paling nikmat, seorang Robby dengan 4 gelar juara juga merasakannya. Sayang, Robby tak pernah bisa menggunakan kesempatannya menukangi Persib untuk mengakhiri puasa itu. Memberi gelar ketujuh persib, kelima baginya. Andai dia bisa melakukannya, satu patung wajib didirikan Persib untuk sang legenda.

Dua dekade memang waktu yang sangat lama. Bobotoh yang tumbuh besar di era 90an dan 2000an, lebih akrab dengan kegagalan persib. Tidak pernah tahu bagaimana rasanya melihat dengan mata kepala sendiri pemain menangkat piala.

Kegagalan bahkan beberapa kali menyentuh titik nadir. Kekacauan geng polandia dan Juan Paez yang menyelamatkan dari kemungkinan degradasi. Risnandar membuat semangat nonton Persib hilang. Perlu diingat juga tragedi tsunami yang ironisnya menyelamatkan musim Persib.

Pun ketika gairah menonton kembali hadir dan semangat merasakan bagaimana rasanya menjadi juara, seorang Leontin Chitetsu mengacaukan segalanya!

Kemudian tibalah era modern Persib. boleh disebut, walau tak harus, sebagai zaman pt. pbb. Setiap kali mendengar istilah PT. PBB, ingatan ini langsung merujuk pada coretan di ujung jembatan layang pasupati, “PERSIB nu Aing, Lain nu PT. PBB!”

Jika bobotoh kolot memiliki Robby Darwis sebagai tokoh sentral Persib, kami memiliki Wak Haji Umuh Muchtar sebagai pusaran Persib.

Wak Haji datang di musim 2009, menerima mandat dari Wak Dada, sejak saat itu hingga kini pelatih dan pemain dapat datang dan pergi, there’s only one Wak Haji. Bolehlah kita sedikit mengenang Wak Haji yang setelah bertahun-tahun bisa menuai apa yang dia tabur di Persib.

Berapa banyak cemoohaan dan cacian yang dikirimkan bobotoh kepada Wak Haji selama ini? 6 pelatih berbagi rata kritikan bobotoh selama 6 tahun ini. Paling banyak hanya 2 tahun menghadapi tekanan bobotoh. Wak Haji konsisten 6 tahun menghadapinya.

Sebagai orang awam, sulit mencari tahu mengenai Wak Haji ini. Google pun tak kuasa memberi tahu secara mendalam. Sangatsedikit sumber elektronik yang menceritakan Wak Haji. Okey, biarkanlah Wak Haji tetap menjadi misterius jika itu memang yang harus terjadi, Karena yang paling penting adalah Persib.

82 tahun Persib. Tak ada pemain, pelatih atau manajer yang lebih besar dari Persib. Tak ada ceritanya Wak Haji lebih besar dari Persib. Tidak juga Robby Darwis lebih hebat dari Persib.

Persib membutuhkan sustainable success. Kesuksesan yang berkelanjutan. Di tengah kekusutan sepakbola indonesia, akan menjadi tantangan berat bagi persib untuk meraih kesuksesan yang berkelanjutan, tapi bukan hal yang tidak mungkin. Persipura memberi bukti bahwa kesuksesan di dunia persepakbolaan Indonesia bisa dilakukan secara konsisten. Persib sebenarnya sudah mempraktekannya lebih dulu jauh sebelum persipura.

Di hari ulang tahun ini, kami berharap kejayaan dekade 80-90an itu terulang kembali dan lebih hebat lagi. Aamiin.

@bus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp