Mieling Milangkala Persib 83 Tahun

ulang tahun 83.jpg

Turun temurun kecintaan warga Jawa Barat terhadap kesebelasan ini sudah sangat terkenal. Menjadi bobotoh Persib pada akhirnya telah menjadi sebuah budaya yang diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Persib memang memiliki sejarah yang sangat panjang. Bila tiba saatnya nanti, kami pun akan mewariskan budaya ini kepada anak kami.

Murakami pernah bilang kalau ingatan itu seperti bayangan pohon di waktu senja. Semakin sore semakin panjang bayangannya. Seiring berlalunya hari, kita membutuhkan waktu yang semakin lama untuk memanggil kembali kenangan kita.1

Bobotoh kolot hampir lupa bagaimana rasanya juara, sudah 19 tahun sejak terakhir kali merayakan Persib juara. Saleuheung sih karena mereka setidaknya masih memiliki ingatan akan Persib juara. Bagi bobotoh yang terlahir setelah tahun 1990, tidak pernah sekalipun merasakan bagaimana Persib juara. Entah mana yang lebih menyakitkan, kenangan juara yang semakin memudar atau sama sekali tidak memiliki kenangan juara.

Persib itu kesebelasan paling jago se Indonesia. Permaenannya cantik dari kaki ke kaki. Timnas Indonesia selalu mengandalkan para pemaen Persib. Literatur dan buku-buku dan kolot-kolot mengisahkan kepada kita. Tapi itu semua hanya cenah. Seiring berjalannya waktu, percenahan itu semakin tidak terasa.

Pada mulanya semua hanya persenahan.

Tanggal 14 Maret 1933 adalah hari kelahiran Persib. Kita sudah menerima warisan tanggal itu dari kolot-kolot jaman baheula. Taun-taun belakangan berdasarkan hasil panalungtikan bobotoh, tanggal tersebut nyatanya masih bisa diperdebatkan.

1937 menjadi tahun pertama Persib merengkuh gelar juara sepakbola se kolonial hindia belanda, 4 tahun setelah BIVB dan PSIB bergabung. Menjadi juara di jaman penjajahan itu entah mengapa terasa lain.

Roda nasib selalu berputar, ada masa-masa panen, ada masa-masa paceklik. Ada jaman ketika Persib jaya, ada wanci ketika Persib butut.

Setelah Indonesia merdeka Persib mengalami masa-masa poeks. PSSI mulai mengadakan kejuaraan sepak bola nasional pada tahun 1951. Dibutuhkan waktu 1 dekade bagi Persib bisa merasakan gelar kesebelasan terbaik se Indonesia untuk pertama kalinya.

Persib baru kembali mencicipi manisnya gelar juara pada tahun 1961. Persib didapuk menjadi juara usai mengandaskan perlawanan kesebelasan asal ibu kota, Persija Jakarta dengan skor 3-1 di pertandingan terakhir kejuaran nasional. Dari semua gelar juara Persib, hanya di tahun ini Persib juara tanpa menjalani pertandingan Final.

Usai juara tahun 1961 tersebut, musim demi musim berikutnya penampilan Persib cenderung menurun. Persib tampak kesulitan mungulangi raihan juaranya. Maung Bandung lebih sering berpredikat runner up tinimang merasakan kembali juara. Tercatat hingga 1970 Persib sudah menjalani dua kali laga final namun keduanya sama sama kalah. Sepanjang dekade 70an prestasi PERSIB kian menghawatirkan, Persib ketika itu lebih sering berkubang di papan tengah, angka 5-6-7 menjadi urutan yang akrab bagi Persib.

Generasi Emas

Gelar juara akhirnya bisa diraih kembali pada tahun 1986. Nista, maja, utama.

25 tahun rentang antara 1961 – 1986 adalah rekor puasa gelar terlama bagi Persib.

Persib melaju ke final tahun 1986 dengan catatan yang sangat mengagumkan, dari 16 pertandingan Adeng Hudaya dan kawan kawan membuahkan 10 kemenangan, 5 kali hasil seri dan hanya 1 kali saja menderita kekalahan.

Faktor terpenting dari pencapaian itu adalah kokohnya lini pertahanan yang dikomandoi oleh Adeng Hudaya. Bisa dibilang pertahanan Persib menjadi yang terbaik ketika itu. Kuartet bek andalan Suryamin-Adeng Hudaya-Robi Darwis-Ade Mulyono berhasil mengawal gawang Persib tetap clean sheet sebanyak 12 kali! Sang kiper, Sobur hanya 7 kali saja memungut bola dari gawang. Edan! Ini kuartet bek terbaik Persib sepanjang masa!

Hingga pertengahan 90an tercatat Persib sudah merasakan 6 kali masuk final dan 4 diantaranya berbuah gelar kesebelasan terbaik se endonesia yaitu pada tahun 1986, 1990, 1994 dan 1995. Siapa yang tidak mau mendukung kesebelasan dengan prestasi seperti ini?

Bayangkeun betapa nikmat menjadi kolot-kolot kita. Dalam jangka waktu 10 tahun 4 kali juara, dan hampir tiap tahun asup ka final. Inilah salah satu alasan mengapa kita saat ini menjadi seorang bobotoh. Kolot-kolot yang jatuh cinta kepada Persib mewariskan kecintaan tersebut kepada anak-anaknya.

Aya wae kan carita kolot soal bagaimana Sir Indra Thohir berhasil juara dengan komposisi skuad lokal kabeh. Kombinasi tua muda Yusuf Bachtiar dan Yudi Guntara adalah perancang serangan terbaik Persib. Robby Darwis begitu reugreug dalam mengawal pertahanan Persib. Belum lagi nama-nama Adjat Sudrajat, Djajang Nurjaman, Sutiono Lamso. Mereka adalah pahlawan bagi kolot-kolot kita dan menjadi legenda bagi kita. Orang tua kita tumbuh menyaksikan mereka bermain.

Lalu kita tumbuh lalajo Piotr Orlinski dan Maciej Dolega. Ridouane Barkoui yang gagal mencetak gol ke gawang kosong Persikota. Liontin Chitetsu dan Satoshi Otomo. Maman Abdurahman dan Nova Ariyanto mengawal pertahanan Persib. Markus Botak dan Jendry Pitoy menjadi kiper.

Memang ada juga beberapa pemaen hade, Suchao Nutnum dan Sintaweechai Kosin, Lorenzo Cabanas, Alejandro Tobar, dan Miljan Radovic. Yaris Riyadi dan Salim Alaydrus. Bekamenga juga Sergio Van Dijk. Tetap saja kita belom melihat Persib yang maen stabil dan bisa juara.

Merekonstruksi Kenangan

Butuh 19 tahun sebelum akhirnya pahlawan orang tua kita, Djajang Nurjaman sang pencetak gol tunggal di final 1986 datang melatih Persib. Dan semesta mendukung Djanur. Kita akhirnya memiliki pahlawan dari era kita sendiri.

Kita punya Vlado sebagai penerus Robby Darwis. Supardi dan Haji Ridwan bagai titisan Dede Iskandar dan Djajang Nurjaman. Bang Utina dan Makan Konate sebagai jelmaan Yusuf Bachtiar-Yudi Guntara. Ferdinand Sinaga sebagai Adjat Sudrajat.

Di Palembang tahun 2014, mereka yang telah bersabar belasan tahun untuk mengulang momen Persib juara bergabung dengan bocah-bocah yang bersiap merayakan kenangan Persib juara pertamanya.

Berapa banyak diantara kita yang menonton bersama ayahnya ke Palembang saat itu? Salah seorang penulis kami berangkat kesana dengan ayahnya, orang tua yang juga menyaksikan pertandingan sahur juara Persib tahun 1995 ke Senayan. Berikut kisahnya ketika diminta me-recall kenangan malam itu:

“Setelah kick off pun dimulai berawal dari trupass pangkali ke ian kabes ahh anyeng ieu mah abus bener weh jebol tertinggal 1-0 oleh persipura, dalam hatipun berkata aduh kapan lagi kaya gini 19 tahun udah sangat lama piala itu tidak singgah di kota bandung, sempat tidak focus karena lagi-lagi ada anak cewek bjb yang aduhai duh salah fokus aing mah kemudian setelah papuket dan hasil imbang 2-2 berakhir harus dilanjut kea du penalti, jujur ketika adu penalty penendang pemain persib aing teu wani nempo nungguan surak bobotoh yang lain weh, lalu penendang penentu si mantan bek ahmad jufriyanto mengambil eksekusi pecah sudah haus dahaga bobotoh akan gelar juara, banyak diantara bobotoh yang menangis terharu, sujud syukur dan lain lain.”

Rekonstruksi pengalaman juara kolot kita belum berakhir, tahun 2015 kita bisa mengulang pengalaman kolot kita menjadi juara di GBK. Mengutip yang dikatakan sosok Gentur dalam novel dari Jalan Lain ke Tulehu bahwa “kenangan memang bukan hafalan, kenangan selalu saja tak terduga, yang membahayakan dia bisa datang kapan saja, berbeda dengan hafalan yang sepenuhnya dikendalikan kekuatan pikiran si penghafal.”2

Hari Minggu itu tribun stadion GBK bisa dikatakan Lautan Biru. Di Ahad sakral itu hampir semua bobotoh harap-harap cemas akankah Persib Juara (deui) di GBK atawa henteu. Puji syukur, Minggu malam itu menjadi salah satu momen terbaik yang bisa dirasakan bobotoh generasi kita, bisa merasakan atmosfer nu diasaan ku kolot-kolotna baheula.

Baheula kolot-kolot kita pergi ke Jakarta lewat jalan memutar ke Purwakarta – Cikarang – Bekasi atau lewat Cianjur – Bogor. Kami memang lebih langsung lewat Cipularang, tapi perjuangannya euy. Pengalaman penulis kami yang lain saat menonton Persib juara Piala Presiden di GBK:

“Kami nyarter beus Enk Ink Enk dengan supir yang terbiasa mawa mobil di Nagreg, sakalina dibere jalan lurus terus lega di tol, eta supir mawa mobil jiga kasetanan. Ditambah sepanjang perjalanan bolak balik loba nu melakukan lempar jumroh kepada beus kami. Boa edan eta barudak euy. Emangnya kami syaiton?”

Wanci sareupna, GBK reang ku sora bobotoh nu igal-igel, ngahariring nyanyi itu ieu pikeun ngabobotohan Persib sangkan Juara. Sabagean aya nu teu hilap ibadah Magrib, aya nu pondasian ku sangu heula, aya nu selpi sukaesih, rupa-rupa pokona. Pameo bahwa tribun keras itu sedikit meluntur saat urang Sunda salembur ngumpul di lembur batur. Beda rasa dengan Jalak Harupat atau Siliwangi yang leheun sekalipun. Tribun GBK yang biasa dinikmati saat lalajo Timnas Indonesia boh keur Sea Games atau AFF Cup karaos kontras pisan atmosfirna. Situasi minggu malem eta hareudang, cepel, garing tikoro kusabab teu meunang aya nu dagang cai jeung mawa cai hingga muncul chant ‘Hauuuuss’ saat itu.”

Well, segala kondisi yang ada saat itu diakhiri dengan keberhasilan merasakan nikmatnya menjadi juara di GBK. Momen saat itu bukan untuk dihafal, karena moal cukup sajuz atawa sabuku sakalipun tapi cukup untuk dikenang karena kenangan akan tiba kapan saja.

Milangkala 83 Tahun

Bulan Maret selalu menjadi bulan yang istimewa tersendiri bagi kota kembang, selain Harlahnya Persib, terjadi juga peristiwa besar di tahun 1946, Bandung Lautan Api.

14 Maret ini, di usia Persib ke 83, bobotoh janganlah kau tersedu-sedu, karena seperti dendam, rindu itu harus dibalas tuntas.3 Kami Rindu atmosfir pertandingan, rindu stadion, dan rindu ningali Persib berjaya pasti akan terbalas pada saatnya.

Ketika Persib kalah tiap bobotoh pasti punya pendapat kunaon atau naon nu salah. Tiap bobotoh punya pendapat masing-masing, bukti kalau bobotoh teu ngan saukur lalajo mengbal, tapi leuwih ti eta, kita, bobotoh, begitu menghayati dan mengingat momen setiap detik dari 2 x 45 menit setiap kali Persib bertanding.

Semangat bobotoh nu rela kitu kieu, lain hayang dibayar ku harta jeung sajabana tapi ku kajayaan yang menjadi ciri khas ti baheula. Jangan jadikan kritikan, cemoohan, umpatan bagi kalian itu rasa tidak simpati bahkan beban berat, lebih dari itu jadikanlah semangat seperti halnya bobotoh menyemangati kalian.

Prung hirupkeun deui sumanget Maretna Sib! Ulah eleh gela, ulah keok samemeh dipacok. Usia bukan perkara angka tapi usia menandakan kedewasaan. Bagi Persib di usia sekarang ini sebagai klub besar yang sudah tidak asing dengan cacian pun berjuta pujian, jadikan momen peringatan harlah ini menjadi yang lebih baik dan terbaik lagi.

Wilujeng Tepang Taun Persibku!

@xuk @omz @irw @dit @bus

grafik @win

follow kami di twitter @stdsiliwangi

p.s.

  1. Norwegian Wood – Haruki Murakami
  2. Jalan Lain ke Tulehu – Zen R.S
  3. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp