Ngadu Bako Bersama Wak Haji

stadion siliwangiMenelusuri Wak Haji sebelum masuk ke Persib sebagai wakil manajer tahun 2008 hampir tidak menghasilkan apa-apa. Hanya terdapat satu berita,sebuah situs bela diri nasional mengutip berita dari Pikiran Rakyat soal Bandung Fighting Club yang gagal bertanding dengan Gasibu Pajajaran. Salah satu yang berkomentar soal kegagalan tersebut adalah penasihat BFC, H. Umuh Muchtar.

Bagi orang-orang yang bersentuhan langsung dengan manajemen dan lingkaran dalam Persib tampaknya Wak Haji bukanlah orang asing. Sejak musim 2006-2007 ketika persib mulai kesulitan keuangan, ditambah larangan penggunaan dana APBD oleh mendagri, Wak Haji sepertinya mulai sering membantu keuangan persib. Terutama dengan memberi bantuan bonus kemenangan.

Sejak musim 2008/2009 berita mengenai Wak Haji relatif lebih mudah didapat. Dari seorang bobotoh menjadi wakil manajer musim 2008/2009.  Kebiasaan Wak Haji membantu Persib bisa jadi adalah alasan penunjukannya menjadi wakil manajer di liga musim 2008/2009, liga super edisi pertama.

Dibandingkan dengan wakil manajer atau sekretaris tim musim-musim sebelumnya, Wak Haji lebih banyak berbicara kepada media. Memberi penjelasan dan opini. Jaja Sutardja sang manajer sendiri memang lebih sering menarik perhatian publik karena hal lain. Jabatannya sebagai direktur PDAM kota bandung sedang dalam sorotan. PDAM kota bandung merugi besar di era pimpinan pa Jaja. Di akhir musim 2008/2009 Pak Jaja Sutardja tidak bersedia melanjutkan posisi manajer.

22 Juli 2009, Wak Haji diserahi mandat oleh Wak Dada sebagai ketua Badan Pengelola Persib untuk menjadi direktur PT PBB. Karena beliau bersedia menyediakan dana 10 Milyar sebagai modal awal pengelolaan persib, sebagai klub profesional dibawah naungan PT PBB. Nilai 10 Milyar itu juga merupakan syarat keikutsertaan Liga Super dari PSSI. Wak Haji menjadi direktur kedua PT. PBB menggantikan Chandra Solehan.

Tidak sedikit yang menganggap Wak Haji sebagai penyelamat persib yang hampir saja tidak mengikuti liga Indonesia musim 2009/2010 karena tidak punya duit sama sekali.

Kebutuhan dana persib untuk kompetisi memang meningkat eksponsienal dalam tahun-tahun 2006 sampai 2010. Di liga musim 2006/2007 persib menghabiskan dana  17 Milyar. Dari 17 Milyar itu, menurut Manajer Yosi Irianto, dana dari APBD hanya 10 Milyar. Musim 2007/2008 kebutuhan dana meningkat menjadi 23 Milyar. 60% lebih dari kebutuhan itu disuplai oleh dana APBD sebesar 15M. Musim 2008/2009 kebutuhan naik lagi menjadi lebih dari 35 Milyar, dukungan dana dari APBD sendiri mencapai 32 Milyar. Aliran dana APBD di musim ini lah yang sempat membuat pengurus persib dipanggil tipikor polda jabar.

Darimana uang 10 Milyar Wak Haji itu? Bisa jadi itu uangnya sendiri. Bisa jadi juga uang orang lain yang dipinjam oleh Wak Haji untuk dialirkan ke Persib, tidak ada yang tahu pasti. Di kemudian hari ketika terjadi friksi antara Wak Haji dan Konsorsium, Uwak mengklaim uang pribadinya yang harus diganti PT. PBB mencapai 5.7 Milyar.

Duit 10 Milyar jelas tidak bisa menghidupi persib selama semusim. September 2009 Wak Haji berhasil membawa konsorsium pengusaha yang mau menyuntikkan 20 Milyar untuk PT PBB. Konsorsium ini dipimpin Glenn Sugita. Dipercaya juga bahwa dana konsorsium ini sebagian besar duitnya berasal dari Erick Thohir. Erick bahkan sempat menuliskan Persib Bandung sebagai bio twitternya.

Kehadiran konsorsium itu mengubah struktur PT. PBB. Erik Thohir menjadi komisaris utama. Komisaris lainnya adalah Uthan M Arief. Direktur-direktur ada Glenn Sugita, Farhan dan Risha Adhi Wijaya. Wak Haji sendiri di awal musim 2009/2010 merangkap sebagai komisaris, direktur dan manajer.

Era PT PBB resmi dimulai dalam lembaran sejarah persib.

Perjuangan Wak Haji baru dimulai. Lazim terjadi orang baik biasanya mulai berubah ketika lingkungan disekitarnya tidak baik. Hal ini terjadi pula pada Wak Haji. Tahun 2010-2011 beberapa orang yang dekat dengan lingkaran dalam manajemen persib mulai menulis di sosmed mengenai perubahan Wak Haji.

Ada beberapa orang di manajemen yang setia menjilati Wak Haji dan memberi masukan yang tidak baik bagi persib. Posisi Wak Haji sebagai anggota komisaris, direktur dan manajer memberinya kekuasaan yang besar. Beberapa orang jelas memanfaatkan posisi luar biasa Wak Haji ini.

Situasi overpower ini juga yang pada akhirnya membuat konsorsium menggeser jabatan Direktur Utama dari Wak Haji ke Glen Sugita pada 2011. Setelah serangkaian hasil butut didapat Persib.

Kondisi tidak sedap memang melingkupi persib sejak masa persiapan musim 2010/2011. Daniel Darko dipecat sebelum liga dimulai. Player power berhasil menjatuhkan pelatih kepala bertangan besi tersebut. Jovo Cuckovic asisten sang pelatih naik jabatan menggantikannya, bertahan hanya sampai pertengahan musim. Robby darwis dan kawan-kawan asisten menjadi caretaker sebelum Daniel Roekito mengambil alih tim hingga akhir musim.

Wak Haji yang tidak terima harus menjadi korban hasil butut persib meradang, mengungkit-ungkit duit pribadinya yang dipakai untuk menalangi persib dulu sebesar 5,7 Milyar, sampai mengancam akan mundur dari persib. Hal yang tidak terjadi hingga hari ini.

Tahun 2012 Wak Haji akhirnya mengajukan pengunduran diri. Mundur sebagai manajer yang otomatis membuatnya keluar dari manajemen Persib. Penyebab utamanya adalah tuntutan mundur dari bobotoh karena hasil butut persib.

Bobotoh menagih janji Wak Haji saat memperpanjang jabatannya sebagai manajer di awal musim. Di bulan Mei 2011 Wak Haji mengatakan kepada media bahwa dirinya akan mundur sebagai manajer jika persib terlempar dari 3 besar. Hingga menjelang akhir musim, Persib masih tertahan di papan tengah, tertinggal jauh dari Sriwijaya di pucuk klasmen, bahkan berada di bawah persija jakarta.

Pelatih kepala, Drago Mamic, mundur di tengah jalan dibarengi isu intervensi dari manajer soal area teknik pelatih. Robby Darwis kembali menjadi caretaker setelah Drago Mamic mengundurkan diri. Hasilnya persib hanya bisa finish di posisi 8. Rekor terburuk persib di era PT. PBB. Jumlah 13 kali kalah juga menjadi yang terburuk sejak 17 kali kalah di liga indonesia pertama musim 2003.

Pengunduran diri Wak Haji kali ini diblok oleh Konsorsium dan pemain. Wak Haji melanjutkan kembali peran sentralnya di Persib. Meskipun begitu, tekanan bobotoh untuk persib dan Wak Haji tak pernah surut. Frasa Kami Rindu Juara mulai muncul.

Secara statistik, dari musim 2006 hingga 2012 ada 6 pelatih yang mengundurkan diri di tengah jalan. Setengahnya terjadi saat Wak Haji menjabat sebagai manajer persib.

Selama 5 musim pertama memegang Persib Wak Haji sudah memperkerjakan 6 pelatih plus seorang Robby Darwis sebagai serepnya. Dalam 5 tahun itu Wak Haji hobi membongkar skuat setiap awal musim. Sebagian besar pemain di musim sebelumnya tidak dipertahankan oleh Wak Haji atau hengkang dengan keinginan sendiri. Beberapa yang hengkang adalah tulang punggung persib di musim sebelumnya.

Bobotoh gerah dengan hal ini. Bagaimana bisa juara jika manajemen selalu mengambil jalan instan tanpa mau memperhatikan kekompakan tim. Pemain yang dikontrak pun beberapa tidak sesuai dengan keinginan pelatih, karena pemain datang duluan sebelum pelatih dikontrak. Seringkali Uwak ditipu agen dan mendapat bisikan salah dari orang-orang disekililingnya.

Penunjukan Djanur sebagai pelatih adalah titik balik bagi Uwak. Kegagalan menepati janjinya untuk mundur di akhir musim 2012, menjadikan musim 2013 pertarungan penentuan bagi Wak Haji.

Seharusnya kegagalan juara musim 2013 membuat Uwak keluar dari persib, tapi persib menunjukkan progres yang positif baik di dalam maupun di luar lapangan. Uwak kembali selamat setelah persib finish ke 4. Posisi terbaik Uwak sebagai manajer mengulang tahun 2010 bersama Jaya Hartono.

Seperti Jaya, posisi 4 juga membuat Djanur dipertahankan. Banyak yang menilai bahwa Djanur dipertahankan karena nurut sama Uwak. Bench Djanur seringkali diisi oleh manajemen persib dibandingkan oleh tim kepelatihan. Pernah seorang pelatih legendaris Indra Tohir yang menjabat sebagai direktur teknik harus duduk di tribun karena jatahnya diambil “penasehat tim” Zainuri Hasyim!

Suara-suara meminta Uwak mundur kembali hadir dari bobotoh. Uwak dinilai telah melewati batas dengan terlalu ikut campur urusan teknis. Intervensi kepada pelatih mengingatkan bobotoh akan tragedi Drago Mamic. Tapi ternyata Djanur, dan Uwak tentunya, berhasil membawa persib juara. Mengakhiri puasa gelar selama 19 tahun persib.

Puncak prestasi Uwak sejak miliaran duitnya dipake nalangin persib.

Perbandingan hasil akhir persib sebelum dan era Wak Haji
Perbandingan hasil akhir persib sebelum dan era Wak Haji

Apakah benar Uwak mencampuri urusan dapur teknis pelatih? Karena kemungkinan besar Uwak memang “terlibat” dalam urusan teknis pelatih. Pertanyaannya kemudian bisa seperti ini, apakah Uwak memang sama sekali tidak memiliki skill dan pengetahuan teknik kepelatihan?

Begini, Wak Haji salah satu manajer terlama yang mendampingi satu kesebelasan di kasta tertinggi Liga Indonesia saat ini. Sudah duduk di bench sebagai manajer selama 5 tahun.

Selama 5 tahun uwak ikut serta dalam rapat persiapan pertandingan. Menonton pertandingan dari dekat, mendengar instruksi pelatih secara langsung. Seringkali terlibat dalam evaluasi ruang ganti saat turun minum. Sudah ratusan pertandingan dengan beragam situasi yang tak terhitung jumlahnya Uwak alami.

Seharusnya Wak Haji mendapatkan banyak pelajaran taktik dan strategi dari sepanjang perjalanannya itu. Tak tanggung-tanggung nama-nama pelatih juara seperti Jaya Hartono, Drago Mamic, Indra Tohir dan pelatih kental pengalaman semodel Daniel Roekito pernah bekerja bersama Wak Haji. Pelatih-pelatih itu memiliki variasi taktik dan strategi yang sangat kaya. Jika saja Wak Haji mengambil pelajaran dari mereka.

Atribut teknis strategi permainan akan melengkapi atribut non teknis Wak Haji. Kemampuan manajerialnya, berlandaskan pengalaman mengelola bisnis bertahun-tahun, sudah teruji mumpuni. Mengelola keuangan dan manusia. Kemampuan motivasinya, memang kebanyakan melalui duit, tak perlu diragukan. Banyak pemain persib merasa nyaman bersama Wak Haji.

Pengalaman duduk di bench bertahun-tahun itu harus dilegalkan dengan sebuah sertifikat kepelatihan yang diakui PSSI, niscaya Wak Haji sudah siap untuk menjadi orang pertama di liga indonesia yang merangkap tugas sebagai pelatih kepala dan manajer tim seperti klub-klub besar di eropa sana.

Well, ini hanya sebuah if situasion, tak jauh dari andai-andai semata.

follow kami di twitter @stdsiliwangi

@bus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart