Ngadu Bako Dengan Bang Utina

stadion siliwangiWonderkid Utina dan Coach Bendol

Seorang blogger di belantara internet memberi tahu bahwa Firman Utina ditemukan oleh Benny Dollo yang mendengar ada anak cetak 12 gol dalam satu pertandingan tarkam. Tanpa ragu Bendol membawa Utina ngora, si pencetak 12 gol, ke Persma junior. Berkat didikan Bendol, Bang Utina sudah berprestasi dari jaman bocah, ikut membawa Indonesia juara turnamen pelajar u-19 sebelum akhirnya resmi menjadi pemaen pro di Persma Manado. Sejak itu kemana Bendol pergi hampir selalu Bang Utina dibawa serta, setia menjadi pemaen andalan dalam skema Bendol.

Bendol pergi ke Tangerang, Firman ikut. Bendol pindah ke Malang, Firman ngiluan. bahkan ridho, ikhlas, meninggalkan status sebagai PNS di tangerang. Sayang ketika Bendol ke Timnas dia tidak bisa mengontrak Firman menjadi pemaen tetap Timnas, walau tentu saja Bang Utina menjadi pemaen andalan Timnas Indonesia ketika itu. Kedua pelatih-pemaen itu memberi gelar terakhir bagi timnas senior Indonesia, gelar juara Piala Kemerdekaan, hadiah WO dari Libya.

Tidak aneh jika akhirnya gelar juara pertama Bendol di tingkat klub didapat dari permainan paling spektakuler Bang Utina sepanjang kariernya, hattrick di final Piala Indonesia 2005! Keduanya kemudian berhasil mempertahankan gelar itu tahun depannya.

Garis tangan Firman Utina tampaknya lebih bagus, nomer 15 kita bisa membawa Sriwijaya juara Liga Indonesia saat Bendol hupir nganggur. Saat kemudian Bang Utina juara lagi dengan Persib, Bendol masih hupir nganggur. Hari Minggu nanti, untuk pertama kali nya Bang Utina akan melawan si papah di pertandingan final. Melihat garis tangan selama ini, jigana Bang Utina akan kembali juara sedang Bendol kembali ngegel curuk.

Bang Utina Dan Djanur

Ketika Uwak mentransfer Bang Utina ke Persib di tahun 2013, banyak bobotoh menyambut gembira. Siapa yang tidak gembira memiliki salah satu perancang permainan terbaik indonesia di kesebelasan yang didukungnya? Well, saya termasuk salah satu yang skeptis dengan kedatangan Utina saat itu.

Bang Utina menjadi pemaen Persib di umur 32 tahun. Walau menurut Miljan Radovic, pemain yang perannya digantikan oleh Bang Utina, maen bola itu bukan urusan tua atau muda, saya percaya masa keemasaan seorang Firman Utina telah lewat. Persib cuma dapet ampas doang dan kudu ngagaji mahal. Prasangka ini seakaan terbukti benar karena di musim 2013 Bang Utina maen tidak istimewa. Naonna nu ngarancang serangan, nu aya haben weh umpan jauh. Tidak ada assist istimewa dari Bang Utina yang bisa dikenang.

Musim 2013 itu Djanur seakan bingung mau dipaenkeun kumaha ieu kombinasi Bang Utina dan Mbida Messi. Di musim 2014 baru Djanur bisa menemukan peran yang pas untuk Bang Utina. Kombinasi Bang Utina dan Makan Konate bisa berjalan dengan joss. Djanur menggunakan Konate sebagai pemaen no 10 Persib dan Bang Utina bermain lebih dalam. Keduanya dengan enjoy bergantian naek turun dalam bertahan dan menyerang. Bang Utina dan Makan Konate memiliki kemampuan yang sama dalam menyerang dan bertahan.

Bang Utina memiliki visi dan kemampuan umpan jauh yang akurat ditambah sima yang dipikasieun sama kawan dan lawan. Sedang Makan Konate memiliki tenaga kuda untuk muter meng-cover hampir seluruh bagian lini tengah, plus teknik tinggi untuk menggiring bola. Keduanya cocok satu sama lain. Kombinasi ini jauh lebih baik daripada Eka Ramdani – Lorenzo Cabanaz, bahkan mungkin setara dengan kombo Yusuf Bahtiar – Adjat Sudrajat.

Beberapa assist Bang Utina dari musim 2014 bisa dikenang hingga tahun kapanpun. Paling patut dikenang tentu saja permainan dia di final. Tendangan bebas awal mula dari bunuh diri Emanuel Wanggai, dilanjutkan operan terobosan amboi aduhai asoy geboy di gol kedua Persib ke gawang Persipura oleh Pak Haji Ridwan. Tanpa Bang Utina mungkin kita tidak akan juara.

Di musim 2013 bisa jadi adalah musim pdkt bagi Djanur, Bang Utina dan Persib. Semua keliatan serba salah di musim itu. Everything seem awkward. Hanya Sergio dan duet Pardi-Ridwan yang membuat Persib selamat bisa finish di papan atas. Sergio karena udah jago dari sana nya, Pardi – Ridwan karena sudah bertahun-tahun bermain bersama. Well, Djanur susah juga sih. Dipercaya bahwa skuat musim 2013 lebih banyak pilihan Uwak. Malah awalnya Wak Haji pengen rekrut Rahmad Darmawan kan sebagai pelatih, tapi kaburu ditikung sama negara.

Musim 2014 barulah Djanur bisa lebih leluasa membangun skuat sesuai dengan keinginannya. Kepastian dipertahankan sudah didapat beberapa minggu sebelum mulai berburu pemaen. Djanur sudah punya rencana apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki Persib. Diawali dengan PR di lini belakang, Djanur ingin memiliki bek tengah yang tangguh sekaligus bisa memulai serangan, bek tengah yang nyaman memegang bola. Beruntung Djanur bisa mendapatkan seorang Vladimir Vujovic.

Lini tengah kemudian menjadi peningkatan paling besar Djanur. Mbida Messi yang kurang bagus digantikan oleh Makan Konate yang super joss. Asri Akbar yang sebenernya punya kemampuan kombinasi antara Mas Har dan Bang Utina digantikan oleh Taufiq yang lebih joss dalam menjalankan pertahanan zonal dan menyusun serangan menggunakan umpan-umpan pendek jauh dari belakang. Dan Bang Utina kembali bisa membuktikan dirinya adalah salah satu perancang permainan terbaik endonesia!

Salah satu hal yang membuat Bang Utina seakan bangkit kembali dari kebututan musim 2013 adalah kehadiran dua pemaen yang hobi lumpat, Ferdinand Sinaga dan Tantan. Musim 2013 umpan jauh andalan Bang Utina sering gagal salah satunya karena yang menerima operan itu di sayap adalah Lord Atep dan Haji Ridwan. Dibere tarik teu kaudag, dibere ngepas kontrolna sok leupas. Haji Ridwan masih saleuheung sih. Penyerang-penyerang Persib yang bisa lumpat palingan Airlangga dan Kenji. Keduanya bukan pilihan utama Djanur, dan Sergio lebih hobi turun jauh ke tengah untuk menjemput bola. Visi Utina sebagai pengumpan jauh tidak bisa dimaksimalkan.

Kredit juga perlu kita beri kepada Pak Yaya Sunarya, pelatih fisik kita bisa bikin Bang Utina yang di musim 2013 kaciri hupir maen di menit 75 ke atas menjadi langganan maen penuh di musim 2014, bahkan hingga sekarang. Dua pertandingan paling penting Persib, semifinal dan final, dijalani Bang Utina sampai menit ke 101 dan full 120 menit! EDAN! Kombinasinya dengan Konate bikin kestabilan lini tengah Persib terjaga.

Jika fisik Bang Utina bisa dijaga sampai detik terakhir maka peluang Persib menjadi juara lagi terbuka lebar. Bang Utina sudah terbukti memiliki sima, pengalaman, dan mental yang super. Rekam jejaknya di pertandingan final juga sungguh ciamik. Pernah hattrick, assist jempolan, daek gelut. Komplit.

Bang Utina dan Bobotoh

Menjadi Kapten Persib mereun merupakan tugas terberat bagi seorang pemaen bola. Ekspektasi dan tekanan bobotoh jadi dua kali lipat. Kapten Persib memang Atep, tapi saat Lord Atep lebih sering diberi posisi sayap samping Uwak oleh Djanur musim lalu, Bang Utina bisa menjalankan tugas ngabadalan dengan joss. Bahkan menjadi kapten di final walau Atep sudah masuk ke lapangan. Tapi ketika mengangkat piala Bang Utina gak mau sendirian, sieun kumaonam dianggap kapten kahiji Persib jigana.

Satu lagi yang membuat semakin resep ka Bang Utina adalah pengakuannya saat diwawancara setelah mengalahkan Mitra Kukar kemaren, Bang Utina merinding mendengar bagaimana susahnya bobotoh mendapatkan tiket lalajo Persib. Bahkan dia tahu beberapa bobotoh sampai tidur di stadion cuma buat ngadukung dirinya bermaen untuk Persib.

Saat Iwan Setiawan ngagogoreng Persib dan Djanur juga Bang Utina keliatan banget emosi di lapangan, meski pas wawancara di luar lapangan kaciri kaleum. Bang Utina daek gelut dan kerja keras berjuang demi harga diri Persib. Deputi Kapten Persib ini selalu ingin memberikan yang terbaik bagi bobotoh.

Kami mohon Bang, sekali lagi beri kami rasa bangga jadi bobotoh Persib. Kagok edan doraka karena ngelehkeun “pun rama” di final enjing. Iraha deui bisa juara di GBK, bae ngan saukur untuk turnamen leutik tapi rariweuh jiga kieu ge. Teu nanaon, sekali juara tetep juara. Asal tong juara bersama tiluan di GBK weh, naon eta mah. Demi Rangga juga yang dibunuh di GBK.

Sampai jumpa lagi.

@bus

follow kami di twitter @stdsiliwangi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Yang Lainnya