Evolusi Taktik Djanur

stadion siliwangiDi ini talkshow kemaren Konate bilang dengan pede bahwa Djanur itu pelatih yang punya banyak taktik dan variasi. Karena keluar dari mulut seorang playmaker andalan maka siapa mau meragukan pengakuan tersebut? Bisa dibilang Konate itu representasi taktik Djanur di atas lapangan. Apalagi Konate adalah perancang serangan terbaik di Indonesia saat ini. Sumbangan 3 piala dari Makan Konate jelas bukti hakiki dari pernyataan Konate tersebut.

Perjalanan Djanur menjadi seorang pelatih jago bukanlah kisah yang pendek. Kisah panjang melalui jalan berliku dan menanjak. Tidak ada jalan mulus bagi seorang Djanur diawal kariernya melatih Persib. Bahkan di satu titik hampir berhenti, mundur bagai beus aladin di tanjakan nagreg.

Musim 2013 ketika Djanur ditunjuk sebagai pelatih Persib banyak orang skeptis. Impian Wak Haji untuk merekrut Rahmad Darmawan gagal lagi. Kandidat untuk menggantikan RD yang gagal direkrut sebenernya aredan, salah satunya yang menjadi favorit kami adalah Robert Rene Alberts yang sudah terbukti bisa bawa Arema juara. Eh aripek seorang Djajang Nurjaman yang ditunjuk. Kesan pertama adalah yah gagal deui wae ieu dek juara teh, palingan Djanur ge bernasib sama jiga Mamic atau Darko atau Roekito.

Djanur dituduh tidak memiliki taktik. Maen sakumaha prakna weh barudak di lapangan. Taktik yang digunakan selalu eta deui eta deui, pola 4-2-3-1 dengan mengandalkan serangan dari sayap. Well, tuduhan pada Djanur tidak sepenuhnya salah, ada benarnya juga tapi Djanur juga seorang pelatih yang sabar dan pembelajar, butuh waktu 2 tahun agar Persib dan Djanur sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik dan menuai hasil yang manis.

Djanur di musim pertamanya hanya membangun pondasi. Maka dari itu taktik yang digunakan akan selalu habén weh kitu. Pola digunakan sebagai patokan, pengambilan keputusan mandiri dari pemaen yang ada di lapangan sangatlah penting, dan skema penyerangan diulang terus agar semakin terbiasa. Pun Djanur juga terkesan sedang belajar mengenai taktik yang dia gunakan. Karena itu di musim 2013 momen ketika Djanur memanggil pemaen untuk diberi istruksi khusus di tengah pertandingan lebih sedikit dibanding saat ini. Mang Djanur sendiri seakan belom ngarti naon nu salah naon nu bener dari penampilan pemaen-pemaenna.

Bobotoh, termasuk Wak Haji, yang tidak sabar tentu sangat menginginkan Djanur memiliki variasi skema permainan. Sebenarnya, seorang pelatih tidak akan dulu menginstrusikan rencana permainan B sebelum pemaennya benar-benar paham bagaimana menerapkan skema permaenan A. Jika sudah menggunakan rencana lain ketika rencana utama belum dikuasai dengan benar, maka terancam pemaen salah menerapkan taktik, kuduna A malah nu B, kuduna B malah nu A, kebingungan. Gagal menang adalah hasil yang sangat mungkin didapat.

Persib 1.0

Geber taktik haben weh kitu adalah salah satu cara agar pemaen bisa paham apa yang diinginkan Djanur, taktik Djanur untuk mengalahkan lawan. Pondasi taktiknya pun tidak neko-neko, sederhana seperti sambel goang. Serangan dibangun dari bawah, bola dioper merayap lewat tengah kombinasi umpan pendek ciri khas Persib jaman berjaya baheula. Bola akhirnya akan dikirim ke sayap untuk bisa menembus pertahanan lawan. Serangan diakhiri dengan menyelesaikan peluang yang dikirimkan oleh pemaen sayap.

Selain itu, keberadaan pemaen yang mengerti taktik dan sosok leader yang bisa mengambil keputusan sangat dibutuhkan oleh Djanur. Karena ketika berada di tengah pertandingan, pemaen-pemaen tersebut diberi kebebasan lebih untuk berkreasi membuka pertahanan lawan, tidak selalu harus terus menggunakan pola serangan yang sama. Dalam bertahan pun pemaen depan diberi kepercayaan untuk memutuskan mandiri perlu mundur atau tidak membantu kawan-kawan pertahanan.

Taktik tersebut membuat Djanur sangat membutuhkan pemimpin di tiap lini. Seorang bek tengah yang nyaman mengolah bola dan bisa mengoper dengan baik. Seorang perancang serangan yang bisa mengalirkan bola ke sayap dengan akurat, dan seorang penyerang jangkung badag sebagai pemantul bola ke sayap tapi juga diharapkan jago menyelesaikan peluang di kotak penalti. Sudah pasti sayap-sayap penuh determinasi yang daek lumpat dan berteknik tinggi jadi kunci disini.

Apa yang Djanur dapatkan di awal kariernya sebagai pelatih kepala Persib adalah seorang Maman dan Abanda yang suka gelap mata merasa tidak punya gelandang. Habis dioper pendek dari kiper pasti dihabengkeun langsung ka hareup. Saleheung mun akurat.

Di lini tengah Djanur punya kombinasi Bang Utina dan Mbida Messi. Bang Utina memiliki visi bagus dalam operan menusuk pertahanan lawan tapi belum terlalu paham dengan teman-teman sepermainannya. Apalagi patuangan Bang Utina saat datang ke Bandung sudah cukup buréteu, napasnya habis dengan cepat jika dipaksa naek turun membantu serangan dan pertahanan.

Setali tiga uang Mbida Messi. Dirinya mendapat tugas Menjadi pengatur serangan seperti pemaen no 10 klasik. Ekpektasi Djanur dirinya bisa berdansa mengolah bola agar bisa melepaskan Persib dari tekanan lewat poros tengah. Hasilnya tidak banyak memberi senyum, drible nya lebih sering kerebut. Operan pendeknya memang yahut sih, menjadi variasi dari operan Bang Utina, tapi operan pendeknya sering dikhianati kawan-kawan lainnya. Dia oper pendek, ditajong jauh ku pemaen laen. Serangan merambat dengan kombinasi operan pendek menjadi hal yang jarang terjadi.

Sergio dan Ridwan menjadi pemaen yang memenuih ekpektasi Djanur. Penyerang tengah yang jago skrining bola, jago menyelesaikan peluang, dan jago dalam menyusun serangan. Dan seorang pemaen sayap yang penuh determinasi dengan kemampuan sama baiknya dalam mengumpan dan menggiring bola menembus lini pertahanan lawan. Mereka berdua adalah kunci dalam kesuksesan taktik Djanur di kemudian hari. Keduanya membantu pemaen laen terbiasa dengan pola serangan utama yang diinginkan oleh Djanur.

Persib 1.1

Memasuki musim ke dua bertugas Djanur memiliki beberapa keuntungan di awal. Kepastian dia dipertahankan sudah ada berminggu-minggu sebelum kompetisi baru dimulai. Djanur bisa mengevaluasi skuad yang ada dengan jongjon, hate tenang dan serius, karena musim depan dia butuh skuad yang lebih baik. Akan berbeda hasilnya jika Djanur tidak diperpanjang, evaluasinya palingan nya kitu weh jiga maraneh ngerjakeun PR di sakola. Uwak juga terlihat sudah lebih percaya pada Djanur, apalagi kemampuan Djanur dalam menilai pemaen memang baik. Pemaen-pemaen yang dipertahankan sebagian besar sudah bermain bersama selama bertahun-tahun. Mereka sudah paham dengan kawan bermain ditambah semakin mengerti kahayang Djanur.

Rekrutan Djanur hampir semuanya sukses menjadi tulang punggung Persib saat meraih juara. Pemaen-pemaen lama juga banyak yang bisa berkembang atau memberi hasil yang lebih baik.

Vladimir Vujovic adalah tipikal bek impian Djanur. Kokoh dalam bertahan, memiliki kemampuan bagus dalam mengoper bola, determinasi tinggi dan tak kalah penting adalah kemampuan dia untuk menilai situasi dan mengambil keputusan yang bisa mempengaruhi permainan dan hasil akhir Persib. Padahal awalnya banyak yang protes Abanda Herman yang stabil bermain oke dalam menjaga pertahanan Persib dilepas Djanur. Walau sebenernya statistiknya memang bilang Abanda bukan bek yang bisa memuaskan harapan Djanur.

Lini tengah adalah yang paling joss upgradenya. Sebuah rejeki nomplok bisa mendapatkan Makan Konate. Persis inilah gelandang pengatur serangan yang Djanur inginkan. Volatile bisa dimainkan di berbagai posisi, kemampuan super joss dalam mengoper baik operan pendek dan umpan terobosan, visi ciamik dan yang paling penting jago dalam menggiring bola mengeluarkan Persib dari tekanan lawan. Jangan lupakan kemampuan dia mencetak gol, top scorer Persib.

Dua pemaen sayap dalam sosok Ferdinand dan Tantan juga menjadi kunci. Keduanya pada dasarnya adalah seorang penyerang. Dipasang di sayap ternyata justru membuat keduanya lebih efektif. Determinasi keduanya luar biasa, lebih dari Lord Atep dan Haji Ridwan. Lumpatnya juga lebih bagus dari kedua pemaen sayap lainnya.

Kemampuan Djibril Coulibaly, yang di atas kertas memang sosok yang Djanur butuhkan menjadi juru gedor utama, sayangnya menurun seiring berjalannya kompetisi. Tapi membawa berkah tersendiri karena membuat Djanur memiliki dasar untuk menggunakan rencana permainan B. Pemaen juga tanpa terasa mulai terbiasa melakukan variasi serangan dengan striker model Djibril dan striker model Ferdi di tengah.

Musim 2014 taktik utama Persib mulai semakin dipahami pemaen, hasilnya juga semakin enjoy didapat. Serangan kombinasi umpan pendek dari bek ke gelandang dilanjut umpan terobosan ke sayap. Diakhiri usukan pemaen sayap ke kotak penalti atau umpan silang yang diselesaikan oleh penyerang tengah, alternatifnya umpan cutback untuk diselesaikan gelandang yang merangsek naek.. Variasi didapat lebih bagus ketika Bang Utina dan Makan Konate bermain bersama. Gocekan Konate dan tendangan jarak jauhnya. Umpan terobosan Bang Utina kepada Tantan-Ferdi.

Hanya saja Djanur belum berani secara langsung membuat rencana B. Memang pemaen semakin paham dalam menjalankan taktik, dan taktiknya juga mulai memberikan hasil, hanya Djanur seperti masih ragu untuk memberi instruksi variasi taktik. Karena nya melawan tim model begimanapun taktik Persib akan kitu wae.

Melawan tim dengan kemampuan teknik indvidu lebih butut dari pemaen Persib dan pelatih butut sih gak akan masalah. Mau gimana juga pelatih lawan ngasih taktik, di atas lapangan skill individu lawan individu pemaen Persib lebih unggul dan hasil akhirnya sudah sesuai harapan.

Melawan tim dengan pelatih yang jago taktik, skill individu pemaen Persib bisa dinetralisir dan ini biasanya berakhir bencana bagi Persib. Sebagai pelatih yang mengandalkan taktik yang sudah ketebak dan mengandalkan pemaen untuk improvisasinya, Djanur kesulitan menang lawan tim model begini. Djanur belum punya rencana B.

Melawan tim yang pertahanannya butut djanur mengandalkan sayap untuk menyerbu. Melawan tim yang pertahanannya high press, Djanur mengandalkan sayap untuk menyerang. Melawan tim yang pertahanannya bagus dan bertahan dengan dalam, Djanur angger mengandalkan sayap untuk meraih gol. Hasil akhirnya jelas berbeda. Bisa menang kalau pertahanan lawan butut, susah menang kalo lawan high press, hampir tidak bisa menang melawan tim dengan defend deep yang bagus.

Variasi pertama Djanur adalah dalam urusan menggunakan penyerang tengah. Dengan Djibril yang toshiba, tos hideung badag, pola yang sudah dihapal dari jaman dulu digunakan. Bersama Tantan atau Ferdi sebagai juru gedor, pola serangan Persib menjadi lebih banyak umpan terobosan. Permutasi Ferdi-Tantan di kotak penalti dan di sayap efektif melawan defend yang butut dalam adu lumpat atau yang tidak disiplin ngikutin bola bukan orang.

Persib 2.0

Djanur semakin berkembang di babak 8 besar. Pengalaman eleh ku Jafri Sastra dan Dejan buat Djanur tahu urgensi untuk membuat taktik B semakin kuat. Djanur pun akhirnya mencoba memanfaatkan kemampuan Tantan dan Ferdi tadi.

Djanur pernah coba, walau kapaksa karena ketersediaan stok pemaen, mengubah pola menjadi 3-5-2 dan memainkan taktik cadangan dengan tidak mengandalkan penyeranga Toshiba sebagai poros. Sayangnya perubahan skema dan pola secara sekaligus bikin pemaen bingung dan hasilnya pun tidak bagus. Rada chaos.

Maka taktik kedua Djanur hadir tanpa mengubah pola. Tetap 4-2-3-1 tapi dengan cara bermain yang terbalik 180o. Pemaen dipaksa untuk menyerahkan penguasaan bola didominasi lawan. Awalnya pemaen tidak nyaman, karena jadi banyak mengejar bola, jadi lebih cape teu puguh karena masih kurang disiplin. Tapi kemudian kesepahaman diantara pemaen semakin tumbuh, disiplin menjaga area semakin baik. Mas Taufiq menjadi kunci disini. Kemampuannya untuk sadar ruangan bikin joss dalam bertahan secara zonal. Masing-masing pemaen disiplin bergerak menjaga areanya. Komando juga mulai semakin enjoy dari Bang Utina dan Mas Har. Walau masih jauh dari ideal, hasilnya menang 1-0 dalam pertandigan panas melawan PBR. Kemenangan pertama atas PBR nya Dejan.

Persib 3.0

Di musim ketiga, pemahaman pemaen terhadap taktik Djanur semakin tumbuh, variasi taktik juga semakin banyak. Djanur sudah tidak naif memaksakan, atau terpaksa, menggunakan terus taktik utama nya. Kesepahaman diantara pemaen juga terbangun dengan sangat bagus. Kebersamaan di saat latihan dan di luar lapangan joss bangets. Apalagi Wak Haji suka berbaik hati menyetujui proposal Djanur buat piknik ke pangandaran. Jiga kita weh jaman sakola, tiap beres study tour pasti ngarasa makin dekeut jeung babaturan. Pemaen Persib ge kitu dan hasil di dalam lapangannya sungguh joss.

Kini dengan joss Djanur bisa geber beberapa skema dalam satu pertandingan. Bertahan dengan dalam mengandalkan serangan balik, bisa. Menguasai pertandingan dengan penguasaan bola super, kombinasi operan pendek-bergerak terus, disambi umpan jauh panjang menembus pertahanan lawan, jago.

Skuad Persib memungkinkan Djanur berkreasi membuat variasi taktik. Nu jago lumpat dan boga determinasi tinggi dipake jang serangan balik. Nu jago skrining dan operan dipake di taktik menguasai lapangan tengah. Serangan juga bisa dari kiri, kanan dan tengah sarua alusna. Tidak lagi bergantung berlebihan ke sayap kanan.

Ini bukanlah evolusi terakhir Djanur. Djanur masih haus gelar dan ilmu, masih terus belajar. Persib versi 3.0 adalah Persib yang kekinian menggunakan high press dalam pola lebih ke 4-3-3. Di piala presiden kemaren saat lawan Persiba, Djanur mulai coba-coba menaekan garis pertahanannya sampe cuma dua meter dari garis tengah. Mas Har dengan tanaga kuda dan sima merebut bola nya ditugasi naek mengejar bola sampe ke area lawan. Lawan tidak diberi kesempatan untuk menyusun serangan dengan enjoy, kapaksa di tajong jauhkeun. Taktik ini nantinya akan joss jika Persib sudah punya fullback yang lumpat bagong. Sekarang baru pelajaran dasarnya.

Harapan kami sih Persib bisa menambah skuad dengan bakat Papua. Fullback papua yang lumpat gancang bakal cocok dengan taktik Djanur nantinya. Well, sampe liga beneran dimulai kita cuma bisa ngahuleung.

Tidak sabar rasanya melihat Djanur semakin berkembang saat kompetisi panjang dimulai nanti. Kami sih optimis bakal ada kompetisi liga lagi di endonesia. Mun teu taun ayeuna nya taun hareup. Tapi moal tepi sataun ti ayeuna. Sekarang ini terasa enjoy lalajo Djanur menerapkan elmu yang dia dapatkan selama ini.

Sampai jumpa lagi.

@bus

Follow kami di twitter @stdsiliwangi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Yang Lainnya