Pemanasan

Malam ini adalah partai perdana Persib Bandung dalam gelaran turnamen Piala Presiden 2017 sebagai ajang pemanasan sebelum Liga 1 Indonesia dimulai. Cuaca Jalak Harupat begitu cuneom malam ini. Diiringi oleh hembusan angin anu ngahiliwir anu nyieun ngeunaheun silih tangkeup dengan si dia. Sir Djadjang Nurdjaman dengan memakai jaket parka terus mengamati pergerakan anak asuhnya dari bench Persib Bandung. Sesekali Sir Djanur memberikan instruksi untuk anak asuhnya. Lawan perdana Persib adalah musuh bebuyutan dari zaman perserikatan, yaitu PSM Makassar.

Sir Djanur kembali sukses mengalahkan Koko Robert Rene Albert. Dengan begitu rekor pertemuan Sir Djanur vs Koko Robert menjadi 2 kali kemenangan dan 1 kali hasil imbang. Bravo kuch.

Biar taat regulasi, Djanur maenin 3 bocah can baokan di starting line up; Henhen Rapih maen jadi bek kanan, Gian Zola maen atau henteu sih? Dan Bow RX King ngabret. Sisanya sih pemaen senior andalan Djanur di tiap posisi ditambah Playmaker PKL Erick Weeks dan Shohei Matsunaga.

Koko Robert juga maenin bocah-bocah PSM; Reva Adi Utama melawan Bow, Wasyiat lawan Matsunaga, Ridwan lawan Toncip, dan teuing saha lah eta sebagey tandem Rasyid di posisi geladang bertahan.

Anak yang Hilang

Zolaaaa, dimanakah kau beradaaa?

Poe Senen Persib nyusun serangan jiga lewat jalur Cileunyi, macet tanpa ada Weeks dan Zola mencoba mengatur serangan. Sepanjang babak pertama Zola hampiran pisan teu karasa maenna. Mas Har seringkali sendirian di lapangan tengah, terutama setelah menerima bola dari Jupe atau Vlado.

Zola bermain di posisi paling sentral yaitu lini tengah, sebagai penyambung antar lini bertahan dan penyerangan. Dalam pola yang jadi mirip 4-1-4-1 tugasnya sebenerna dibagi dua bersama Weeks, tentunya bukan tugas mudah bagi pemain remaja seusia zola, berhadapan dengan pemain pengalaman seperti Rasyid Bakri dan Jan Pluim. Tapi da sebenerna mah bisa wae sih, tandem Rasyid sebagey dobel pivot kan bocah U-23 oge.

Selain faktor tersebut, kecakapan Zola dalam membaca pertandingan pun masih belum oke, posisinya cenderung kararagok. Pergerakan tanpa bolanya kurang baik membuat Hariono terkesan bekerja sendirian. Minimnya pergerakan tanpa bola untuk memberikan opsi operaneun kepada Mas Har membuat distribusi bola build up Persib tersendat dan daek teu daek jadi di ka gawirkeun deui wae.

Zola kaciri tegang, tidak nyaman dikelilingi pemaen lawan, posisi Zola jadi serba nanggung. Terkadang gestur Zola jiga anu embung dioper cenderung ngajauhan. Entah emang niat buka ruang, tapi da pergerakanna ngadon paamprok jeung musuh lamun teu jeung Erick Weeks. Kesalahan umpan Zola bikin Mas Har yang udah kartu koneng kudu duel jeung Pluim, Vlado turun tangan nengkas si Pluim.

Vlado sempet nasteung ka Zola pas manehna salah ngumpan dan posisi na ngagantung eta. Untung Vlado ditenangkan oleh Bang Jupe dan Zola disemangati ku Toncip supaya tidak geumpeur. Selepas disengor eta Zola mulai berusaha memperbaiki permainanna, walau can maksimal da kaburu diganti ku Dado di babak kadua. Sengor yang dilakukan Vlado kepada Zola bisa jadi bentuk support yang dilakukan oleh pemain senior kepada pemain muda seperti yang dikatakan oleh Vlado dalam konfrensi pers setelah pertandingan.

EW!

Saat pengumuman starting XI pemain Persib, nama Erick Weeks mendapat sambutan yang meriah dari Bobotoh. Sepertinya banyak bobotoh yang penasaran dengan kemampuan sebenarnya Erick Weeks ini. Namun nyatanya dalam pertandingan melawan PSM, permainan Erick tidak menonjol dan katingali teu asup kriteria gelandang anu dipikahayang Djanur banget.

Erick lebih sering berdiri menunggu bola dan tidak berusaha untuk mencari bola. Bahkan dalam 10 menit babak pertama, Erick jarang sekali menyentuh bola. Pergerakan tanpa bola Erick Weeks pun sering terlambat bahkan paamprok sama Zola. Salah satu momen terbaik Erick dalam pertandingan ini adalah ketika mengirmkan crossing kepada Segio Van Botak dan sukses merebut bola dari Pluim. Sesana? Hampos.

Jika Benar Ini Cinta Mulai Dari Mana

Oh Dari Mana, Dari Matamu Matamu

Penggalan lirik lagu Jazz – Dari Mata di atas ngagambarkeun bagaimana Erick Weeks dalam pertandingan tadi tidak mampu membuat kita jatuh cinta pada pandangan pertama.

Aya anu nyieun geregetan nyaeta pada saat Bow melakukan gerakan cut inside ka jero dan mencari rekan untuk dioper, Ercik ngadon ngajentul cicing jiga anu keur nonton adu hayam, jadi weh bola kapotong ku musuh.

Kata Djanur:

          “Jujur belum kelihatan pada pertandingan hari ini, saya sudah ubah dia pada babak kedua supaya lebih dekat ke Sergio tapi itu enggak menolong dia. Ya apa mungkin dia belum siap dengan atmosfer dengan tim besar seperti Persib. Karena saya tahu penamapilan ia sebetulnya, tapi enggak tahu belum in ke kita mungkin ada tekanan bagi dia,” [Simamaung]

Membaca wawancara Djanur, taktik awalnya memang menggunakan 4-1-4-1 dengan Weeks dan Zola bergantian untuk rajin menjemput bola ke Mas Har. Zola leungit, Weeks ngabetem wae. Baru ketika Dado Masuk, Weeks diminta lebih maju karena build up serangan dirasa bakalan aman dengan Dado dan Mas Har di posisi poros ganda mah. Tapi ya gitu deh.

Weeks tidak sepenuhnya butut, tapi tidak seeksplosif Bow oge. Kontrol dan olah bola Weeks lumayan. Kadang kala mun keur keyeng daek duel dengan pemaen lawan, termasuk dua kali ngarebut bola dari belakang Pluim. Nu sakali mah geus duel jeung Pluim, terus lelah meureunnya, bola nu bisa dikuasai ge diantep weh mending leleson di tengah lapang. Huvir.

Visi pertandingan Weeks belum mencapai standar yang Djanur inginkan. Kurang banyak final ball nu enakeun buat Sergio Botak, Bow, dan Shohei. Hanya 1 shoot on gul sepanjang pertandingan. teungteuingeun atuh ieu perancang seranganna.

Mungkin kalau udah lebih banyak ngobrol dan nonbar bigo bersama pemaen yang lain Weeks bakal lebih mengerti lagi kawan-kawannya butuh bola gimana dari Weeks. Mun teu cocok wae ya jigana Djanur ge moal daek. Ini Persib bukan Persiwa atau Madura, selera kami mah moal daek ku playmaker biasa wae.

Defend Under Control

Mas Har jadi kapten berkelas pisan semalem. Secara sikap, mental bertanding, dan sima menjaga lini pertahanan Persib. Kelas pisan atuh baru berapa menit dua kali nuar engkel batur. Gas terusss. Kartu koneng weh. Setelah kartu koneng, Mas Har bisa pisan mengontrol emosinya, teu ludat ledot teu perlu bahkan pas perlu ngaledot Pluim oge teu dilakukeun sih, setiap bertanya kepada wasit teladan banget sikapnya, tangan ke belakang, mata molotot, tapi ngomongna teu gogorowokan.psm

Di belakang Mas Har, kuartet bek juga maen enjoy. Vlado lebih kalem didampingin Jupe mah. Jupe grogi CLBK dengan Vlado. Toncip kaleum banget atuh, apalagi lawannya cuma budak olol leho.

Henhen Rapih, permainan manehna di sektor bek kanan Persib cukup lumayan nagen. Walau sempat kesulitan menghadang Pluim dan Maitimo tapi Henhen berusaha untuk tetap disiplin dan bermain sebaik mungkin, Henhen pun tidak ragu untuk membatu Bow dalam menyerang, kombinasi keduanya bahkan sempat sakali sukses walau masih bisa dimentahkan lini pertahanan PSM kusabab Henhen ngawahan jauh teuing pas rek crossing. Kabiasaan ngawahan anu jauh teuing perlu diperbaiki ku Henhen, kusabab pas latihan ge Henhen lamun erek crossing sok ngawahan jauh teuing. Mumpung aya Bang Pardi, serap ilmu sebanyak-banyak nya dari beliau ya, Hen. Dengan bantuan Bow yang daek mundur dan Vlado, tidak ada gul dari sisi bek kanan Persib seperti yang biasanya terjadi di ISC.

Masuknya Bang Pardi yang menggantikan Henhen melengkapai skuad bek opat juara. Bang Pardi nyatanya semakin tua semakin menjadi. Beberapa kali Bang Pardi mampu memberikan umpan crossing yang mejeuh walau masih bisa dimentahkan oleh lini belakang lawan. Namun pergerakan overlap Bang Pardi dalam membantu serangan gawir kanan Persib membuat serangan via gawir menjadi lebih bervariasi.

Masih perlu kesepahaman yang lebih baik lagi antara Bow dan Pardi. Tapina, karek sakedeung berduet Bow malah pindah ka kenca. Pardi jadi duet dengan Shohei. Sieun dicarekan karena loba teuing mawa atau kumaha si Bow teh? Haha.

Well, overall pertahanan emang seperti yang Djanur bilang, under control. Tugas utama untuk mematikan Pluim berhasil dilakukan oleh Mas Har dan Vlado. Melihat striker Pouya Pouya mah apeu, Vlado jongjon aja nemprang Pluim setiap kali Mas Har udah mulai terlihat ripuh sendirian.

Menjadi lebih gawat ketika Tibo masuk. Kokod monongeun Tibo mah, berapa kali tangan dan kakinya jail ke Vlado dan Jupe. Untung weh duet bek favorita begitu kaleum menanggapinya. Pluim sendiri pada akhirnya kaciri stress. Maitimo tidak banyak membantu menyusun serangan. Kata Robret juga da jangan hareup teuing lurd bisi cedera. Jadi yah gitu weh. Pluim bisa disakuan, PSM teu bisa maceuh.

 

Salam, [xuk, jay / bus]

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart