Pembuktian Beberapa Cadangan

relief stadion siliwangiPersib akhirnya bisa menyelesaikan babak penyisihan grup A Piala Presiden dengan sempurna. Kesebelasan paling produktif menyerang, paling kokoh bertahan, untuk sementara Zulham menjadi pemain paling banyak mencetak gol, tiga orang kiper meraih clean sheet, dan yang tak kalah oke adalah semua pemain mendapat menit bermain.

Keputusan Djanur memainkan semua pemain yang dia punya sekaligus mempertahankan kombinasi pemain inti dan cadangan, sesuai dengan apa yang dia bilang di awal kejuaraan.

“ini turnamen, di samping rotasi tapi saya lihat kemenangan itu lebih penting. Saya ingin mendapat hasil maksimal di setiap pertandingan. Jadi di setiap pertandingan akan turunkan pemain terbaik,” 

Djanur memulai pertandingan dengan memasang Deden sebagai penjaga gawang. Kuartet bek di depan Deden ada: Jasuk-Abdul-Vlado-Dias. Poros ganda M. Agung dan Taufiq, barisan depan diisi Atep-Konate-Zulham dan Yandi.

Deden dan Shahar

Keputusan Djanur memilih Deden diatas Shahar bisa jadi sebuah sinyal bahwa masa depan kiper Persib sudah diganti dari Shahar ke Deden. Seperti juga yang dijelaskan Sigit Pramoedya, masalah cedera Shahar ikut mempengaruhi masa depannya. Dan kalau kita pantau TL mang Shahar, banyak curhat terselubungnya juga sih.

https://twitter.com/shaharginanjar/status/641625035245907969

https://twitter.com/shaharginanjar/status/640531397044649984

komentar Shahar mengenai konpres Djanur soal rotasi pemain. 

Pembuktian kepantasan bermain nyatanya ada di lapangan, karena mang Djanur mah jigana tara muka twitter. Permainan Deden semalam memang joss! Penyelamatannya saat melakukan blok untuk tendangan pemain martapura dari dalam kotak penalti menunjukan potensi yang dimiliki kiper yang dulu maen sebagai libero di UNI. Sepanjang pertandingan dedegan Deden penuh kepercayaan diri, gestur badannya bagus terlihat kokoh dan tanpa canggung terlihat rajin berteriak melakukan koordinasi dengan Vlado dan bek lain yang umurnya lebih sepuh.

Sedangkan Shahar, momen yang melekat di ingatan ini justru saat dia melakukan error ketika bola yang dia ambil lepas dari genggaman, dan ketika dirinya mau berduel dengan Vlado saat bek andalan menyundul keluar bola umpan silang Isnan Ali.

Prince Yandi dan Rudiyana

Situasi beda di ujung lain lapangan, Yandi Sofyan yang mendapat lampu hijau dari Djanur untuk menjadi starter gagal memanfaatkan kesempatan yang dia miliki dan justru Rudiyana yang bermain belakangan berhasil menunjukkan permainan lebih oke.

Masalah utama Yandi adalah penempatan posisi yang butut dan pergerakan tanpa bola yang kamana wae. Yandi sering kali berdiri di antara dua bek tengah lawan, sudah pasti sambil membelakangi gawang. Padahal dalam pola 4-2-3-1 seorang penyerang tengah sangat disarankan untuk tidak banyak berdiam di antara dua bek tengah, tapi di antara salah satu bek tengah dan full back. Tujuannya untuk menarik bek tengah dan memberi tekanan tambahan kepada full back, sehingga gelandang serang bisa masuk menyerang lewat tengah dan pemain sayap mendapat bala bantuan dalam menyerang.

Teknik dasar itu dilupakan Yandi tapi diaplikasikan dengan baik oleh Rudiyana. Proses gol Konate menjadi bukti kalau Rudiyana lebih pintar dalam penempatan posisi. Bang Utina yang membawa bola dari belakang mengoper pada Rudiyana yang membelakangi gawang, posisi Rudiyana ada di antara bek tengah dan full back kiri Martapura, berdekatan dengan Tantan. Ketika Rudiyana mengontrol bola, Tantan bergerak maju sehingga fokus full back lawan terpecah dan Rudiyana punya waktu dan ruang untuk mengontrol bola menghindari terjangan bek tengah lawan kemudian mengoper kepada Konate yang menyerbu masuk di tengah. Bek tengah satu nya lagi rada telmi karena tidak ada pemain yang harus dijaga, akhirnya Konate menemukan celah dan GOL! Antik. Begitu seharusnya menjadi penyerang tengah dalam pola 4-2-3-1.

Rudiyana antik!
Rudiyana antik!

Yandi, wajahmu begitu mirip si AA Arif tapi permainanmu jauh. Ayo latihan lebih giat kurangan live periscope, kami lebih suka live gol darimu.

Lord Atep dan Zulham Zamrun

Atep bermain kurang memuaskan, apalagi jika patokannya permainan Zulham maka Atep butuh kerja keras biar bisa menyamai level permainan Zulham saat ini. Kapten kita sepertinya lupa akan janji manis untuk mengubah permainan musim ini, kemarin malam pergerakan cut in Atep banyak tidak berguna karena terlalu tajam ke arah tengah lapangan. Bayangkan jika kita belok dari Gatsu di simpang lima mau ke arah jalan Jawa, nah cut in Atep itu belok nya malah ke Kosambi, kan malah makin jauh dari gawang dan nyusahin pemaen lain. Diperparah dengan posisi Yandi yang ajeg tidak menarik keluar bek lawan. Wassalam. Zulham dengan kelebihan teknik miliknya, menggunakan teknik cut in yang lebih nyerong diagonal ke arah gawang, sehingga membuat ripuh bek-bek lawan.

Untungnya Atep semakin baik dalam urusan umpan silang dan operan di mulut gawang. Setidaknya ada tiga peluang dibuat oleh Atep. Dan ketika Atep semakin baik dalam mengoper, Zulham makin joss dalam menyelesaikan peluang, membuat kita lupa pada sang mantan Sinaga, bahkan bisa jadi Zulham lebih baik daripada Sinaga.

Pengontrolan emosi Zulham di atas lapangan termasuk kategori top. Dengan banyak gaya keronaldo-ronaldoan, sudah pasti Zulham jadi target dikasaran lawan, tapi dirinya bisa menjaga kepala tetap dingin sehingga teknik yang dikeluarkan bisa tetap efektif. Urusan daya juang nomer 54 ini juga gak kalah dengan Bang Ferdinan, apalagi kalau sedang menyerang, determinasi untuk membuat gol sangat tinggi, saat bertahan beberapa kali Zulham mau berlari mundur membantu pertahanan di sisi kanan, meski jarang tapi aya welah sakali dua kali mah.

Santai Tidak Lengkap Tanpa Disiplin

Melawan Martapura dengan sudah memiliki kepastian lolos, Djanur menggunakan kesempatan ini untuk mengetes beberapa pemain dan taktik. Di awal pertandingan Djanur menggunakan rencana A dengan pemain-pemain tim B. Agung terlihat enjoy mendampingi Taufiq, saat membangun serangan kedua nya bergantian menjadi penyalur bola dari bek tengah ke depan. Agung juga menunjukkan kemampuan serba bisa ketika bermain tak kalah baik di posisi bek kanan menggantikan Dias.

Posisi bek kiri juga bermain oke, Jasuk mendapatkan pengalaman yang dia butuhkan untuk menjadi lebih percaya diri saat maju dan kokoh saat bertahan. Jasuk ini beberapa kali menunjukkan pergerakan tanpa bola yang bagus saat membantu serangan, terutama ketika Atep mulai kumat untuk potong kompas ke poros tengah, Jasuk bisa mengisi sisi kiri luar membuat full back lawan tetap sibuk melebar. Yang dibutuhkan Jasuk berikutnya adalah kepercayaan diri yang sama seperti itu saat melawan kesebelasan dengan pemain sayap iseng tapi jago.

Catatan untuk Djanur adalah mengenai pengaturan tempo. Di babak pertama Persib maen cepat yang berbuah gol, dibantu oleh Martapura yang memang bermain sedikit terbuka. Tapi setelah itu tempo cepat berubah menjadi tempo rusuh. Taufiq-Konate-Agung (kemudian Hariono) bermain overexcited dan kerap melupakan posisi dan tempo yang tepat.

Di babak kedua setelah Bang Utina masuk, sering tiga gelandang kita naek menyerang bertiga sekaligus, tapi pergerakan mereka tidak diikuti oleh kuartet bek untuk menaikan garis pertahanan, jadinya ketika diserang balik, ada banyak ruang kosong di area half space Persib. Untungnya Orock penyerang butut melawan Vlado bek hade, dan Rizki Porra juga suka telat mengambil keputusan. Jarak yang lebar diantara bek dan gelandang juga membuat Mas Har dan Bang Utina sering sprint bolak balik, gimana coba kalau mereka cedera otot ketarik seperti Zulham? Kurang-kurangin lah bermain nyantei tanpa disiplin seperti itu. Lain nanaon, bisi kumaonam jadi kabiasaan tida disiplin.

Perjalanan masih jauh, apalagi hawar-hawar katanya format 8 besar diubah jadi lebih banyak pertandingan. Bener kata Djanur mengingatkan anak asuhnya untuk tidak jemawa dulu:

“Tapi tolong ini baru setengah jalan, jangan terus dibesarkan, biarkan kami tetap merendah dan tidak jumawa,”

Masih banyak yang mesti dibenahi oleh Djanur dan skuat nya, pun Persib masih belum bermain melawan kesebelasan yang selevel. Masih banyak pemain yang perlu latihan lebih keras, mengingat kembali teknik dasar, dan tentu meningkatkan fisik.

Catatan lain adalah pemain tarumbang cedera. Setelah musim lalu nyaris tanpa cedera major, kejuaraan kali ini sudah mengambil beberapa korban dalam 3 pertandingan.

bring back Sigit Pramoedya!

Akhirul kata, sampai jumpa lagi.

follow kami di twitter @stdsiliwangi

@bus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart