Penyelesaian Akhir Lebih Penting dari Pressing

relief stadion siliwangiUsai menjungkalkan Persiba Balikpapan di laga pertama piala presiden, Minggu (06/09/2015) Persib kembali menang setelah mengalahkan Persebaya Yunaitid 2-0 sekaligus memastikan lolos dari penyisihan grup A Piala Presiden. Kendati berhasil mencetak 2 gol tanpa balas anak asuhan Djajang Nurjaman kewalahan menghadapi pressing tinggi para pemain Persebaya.

Berbeda dengan pertandingan melawan Persiba dimana Persib berhasil memainkan skema build up serangan dari lini belakang, kali ini para pemain Persib gagal menerapkan permainan serupa karena lawan terus menekan dan memenuhi area lapangan Persib.

Koordinasi di bagian belakang dan tengah jauh dari harapan. Ketika Vlado atau Jupe memegang bola, pilihan operan yang tersedia sangat sedikit. Normalnya, ketika Vlado/Jupe memulai inisiasi serangan ada 5 opsi operan: double pivot (Mas Har/Dado/Taufiq), gelandang serang (Bang Utina/Konate), full back terdekat, tandem sesama bek tengah dan habengkeun jauh ke depan. Menghadapi pressing Persebaya, pilihan bagi Vlado/Jupe tinggal kepada bek tengah lain atau tendang jauh ke depan.

Kurang dukungan dari poros ganda lini tengah Persib sungguh terasa, Hariono dan Dedi Kusnandar gagal berkoordinasi untuk menyelaraskan pergerakan tanpa bola, terlihat beberapa kali malah Firman Utina yang mundur meminta bola. Toni Sucipto dan Jajang Sukmara juga tidak banyak membantu karena posisinya sering jauh sekali di dekat garis tengah.

Ada kesan pemain males dioperan karena sedang dibawah tekanan lawan, sieun disalahkeun jika nanti bola bisa direbut dan Persib diserang. Akibatnya duet bek tengah Vladimir Vujovic dan Ahmad Jufriyanto sering melepaskan umpan-umpan lambung ke depan karena telatnya support dari gelandang bertahan  dan kedua fullback. Banyak bola jauh begitu mengingatkan kita kembali kepada masa-masa bersama mantan: Nova, Toyo, maupun Maman Abdurrahman.

Lini Tengah Ripuh Menghadapi Pressing

Ada tiga hal utama yang perlu diperbaiki oleh Djanur perihal skema serangan build up dari belakang: kepercayaan bek untuk mengoper kepada gelandang, kepercayaan diri gelandang untuk meminta bola walaupun sedang berada dibawah tekanan, dan teknik dasar mengoper dan bergerak.

Dari pertandingan melawan Persebaya terlihat lini tengah yang diisi oleh Hariono-Dedi-Utina kesulitan melaksanakan tugasnya. Terutama duet poros ganda Mas Har dan Dado, keduanya bermain terburu-buru terutama saat Persib menguasai bola di sepertiga lapangan sendiri. Ketika para pemain Persebaya mulai menekan kedua gelandang tersebut terlihat bingung dan panik.

Koordinasi keduanya buruk, Mas Har terlihat bingung dengan posisinya karena Dado bermain terlalu acak. Dibandingkan dengan duet Taufiq dan Mas Har dimana salah satu lebih ajeg dibanding yang lain, duet Dado dan Mas Har kelebihan mobilitas, tapi dalam kualitas yang butut karena pergerakan off the ball nya tidak membuat aliran bola dari belakang menjadi lancar. Hal itu juga yang membuat Bang Utina sering turun jauh untuk meminta bola.

Coach Djanur bilang ke simamaung.com:

“meski secara penampilan jujur tidak seperti pertadingan pertama (lawan Persiba). Saat jeda tadi saya sampaikan pemain seperti tidak percaya diri,”

Pemain tengah persib sebenarnya sudah memiliki teknik yang baik untuk lepas dari tekanan lawan, sekarang ini bahkan bukan pemandangan asing melihat Mas Har  bergerak mengecoh lolos dari hadangan lawan. Memang, teknik melepaskan diri dari kepungan lawan gelandang Persib lebih keluar jika berada di area lapangan lawan, sejauh ini jika diperhatikan, ketika ditekan di area sendiri, gelandang Persib sering gagal melewati hadangan lawan.

Dalam bertahan pun kombinasi Dado – Mas Har seperti pemain amatir, Mas Har berlari kesana kemari mengejar bola. Untuk urusan determinasi dan daya juang, apa yang dipertontonkan Mas Har sungguh heroik, tapi secara taktik apa yang dilakukan Mas Har adalah hal tidak berguna. Pemain tidak seharusnya mengejar bola, tapi mengejar pemain. Itu lah guna nya rekan setim, setiap orang menjaga pemain atau area nya yang dimasuki pemain lawan.

Ada satu momen ketika Mas Har mengejar Evan Dimas, lalu Evan mengoper kepada Pedro dan Mas Har mengejar Pedro, lalu Pedro mengoper kepada Fauzan Jamal dikejar juga sama Mas Har, sampe akhirnya Fauzan balik lagi ke Evan Dimas dan Mas Har capeun. Ketika Mas Har mati-matian mengejar bola, Dado nonton!

Sayap-Sayap

Pola permainan Persib pada akhirnya lebih mirip 4-3-3 karena Bang Utina yang drop jauh ke bawah sering sejajar dengan Mas Har – Dado, dan duo Zulham – Tantan jarang sekali mundur untuk mambantu memenuhi lini tengah, keduanya lebih sering sejajar dengan Spaso.

Dengan dua pemain sayap yang tetap berposisi tinggi dan melebar, tak salah jika pikiran Vlado dan Jupe dipenuhi ide untuk mengirimkan bola langsung ke sana. Beberapa kali usaha itu berhasil menembus pertahanan Persebaya, terutama lewat Zulham yang bermain luar biasa.

Pemain terbaik versi kami tadi malam adalah Zulham Zamrun. Pergerakannya konstan mengancam Persebaya, teknik nya lebih efektif dibanding Lord Atep, selalu penuh determinasi saat menyerang, dan tentu saja gol nya yang berkelas. Sulit mengontrol operan yang tinggi hampir sedada dengan kaki, kualitas Zulham ditunjukan bukan hanya bisa mengontrol bola tersebut kemudian mengecoh seatu bek tapi juga penyelesaian akhir yang joss!

Gol Tantan juga luar biasa. Dua pertandingan ini ada perubahan signifikan dalam kualitas penyelesaian akhir Tantan. Ada rasa percaya diri dan teknik yang lebih baik. Tidak terlihat seperti pemain yang baru liburan panjang. Gol melawan Persiba dengan cerdas Tantan memilih menyentuh bola daripada menendang keras. Melawan Persebaya, tendangan dari luar kotak penalti dieksekusi dengan teknik yang tepat sehingga meluncur mulus ke pojok bawah Jendri.

Jufriyanto Jeprut

Ahmad Jufriyanto mengalami malam yang buruk. Nilai positif dari Jupe hanyalah tercatat sebagai bagian dari clean sheet kedua Persib di Piala Presiden. Setidaknya ada 5 kejadian yang menunjukan Jupe sedang off day: satu sapuan di tiang dekat menghalau umpan silang mendatar dari kiri pertahanan persib hampir masuk ke gawang Made karena Jupe menendang menggunakan tulang kering, bola melambung ke belakang gawang. Kemudian niat clearance dengan diving header umpan silang dari sisi kiri juga gagal, bola lolos bisa dihalau oleh Mas Har.

Banyak operan jauh Jupe tidak menemui kawan, padahal jika lebih jeli dia bisa memilih mengoper pendek kepada Jasuk atau Hariono atau Vlado. Ada satu situasi dimana pemain persebaya melakukan penetrasi dari sisi tengah menyerong ke kiri pertahanan Persib, Jupe memilih untuk berdiam diri menunggu dia sambil kedua tangan sigap melindungi pabinihan, Vlado sampe terpaksa masuk ke area Jupe menubruk pemain tersebut, akhirnya Jasuk melakukan tekel bersih di ujung kotak penalti berbuah tendangan pojok untuk Persebaya. Puncak permainan di bawah standar Jupe adalah kartu kuning karena drama Siswanto.

Jupe sudah seharusnya mulai kembali latihan operan-operan pendek. Banyak situasi ketika dia memilih menendang bola langsung ke barisan penyerang padahal Mas Har, Bang Utina dan kawan-kawan lini tengah lain udah ngabelaan mundur minta bola. Ada kesan ketidakpercayaan kepada teman-temannya ini. Kepercayaan dari seorang bek untuk memberi bola kepada geladang adalah hal yang penting. Tugas utama seorang bek bukan menyambungkan bola kepada penyerang. Well, kami percaya Jupe akan kembali bermain luar biasa di pertandingan selanjutnya, Jupe bukanlah pemain yang tidak belajar dari kesalahan.

Persebaya United Butut

Dua gol dari dua pemain sayap, Djanur boleh bilang dalam tekanan berat pun Persib masih bisa bermain dengan ciri khasnya. Gol-gol Persib pada dasarnya menunjukkan level permainan Persebaya. Ibnu Graham berhasil membuat Persib ripuh dalam menyusun serangan, tapi hanya sebatas itu. Ketika Persebaya memegang bola, pertahanan Persib juga tampil baik, apalagi serangan Persebaya memang butut, terlalu bergantung kepada Evan Dimas.

stat persib persebaya
stat source: soccerway.com

Clean sheet kedua Made secara beruntun sedikit banyak karena serangan Persebaya memang tidak cukup bagus untuk menembus kuartet bek ala kadarnya Persib. Bahkan ketika Jupe bermain tidak cemerlang, Persebaya masih gagal mencetak gol. Jasuk wae bisa terlihat bermain bagus, padahal saat Persebaya mengalahkan Persib di Ciamis, Jasuk adalah pesakitan, awal dari satu-satu nya gol yang dibuat Persebaya.

Ketika pemain Persib bisa lepas dari tekanan Persebaya dan berhasil mengalirkan bola kepada Zulham atau Tantan, pertahanan Persebaya sangatlah butut, kasar dan butut. Kiper Jendri Pitoy juga terlihat lebih baik pensiun, gol Tantan sebenarnya bisa dia amankan kalau lebih jeli membaca pergerakan bola. Pelajaran dari tadi malam, Pressing tidak ada artinya jika hanya untuk membuat lawan kesusahan menyusun serangan, hal yang lebih penting adalah bertahan dengan baik dan menuntaskan setiap peluang menjadi gol.

Sampai jumpa lagi.

follow kami di twitter @stdsiliwangi

@xuk @bus @omz

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart