Penyesalan Dari Negeri Aung San Suu Kyi

Thank You Hariono
Thank You Hariono

Laga kedua di AFC Cup, PERSIB bertandang ke negara myanmar melawan klub ayeyawady.  Hawa panas kota yangon membuat PERSIB Bandung bermain dibawah performa. Meski bermain di kandang lawan, hasil imbang karena kesalahan sendiri ini sungguh sangat merugikan. Tersandung di langkah kedua.

Coach Emral menurunkan starter yang sama dengan matchday pertama saat melawan New Radiant. Suhu panas di Yangoon tidak membuat pemain PERSIB bermain santai menghemat tenaga, dari menit-menit awal PERSIB terus menekan pertahanan lawan. Cetak gol secepatnya menjadi target PERSIB.

Sedikit kejutan dari Djanur yang mengeser posisi atep relatif lebih ke tengah, jika biasanya atep disimpan disisi kiri kali ini posisi tersebut lebih banyak diisi oleh tantan. Sejak awal masa persiapan menjelang play off ACL Djanur memang mengisyaratkan untuk mencoba memakai atep sebagai striker.

Awal jalannya pertandingan, PERSIB tampil cukup menjanjikan. Alur serangan yang dimulai dari bawah berjalan hampir mulus. Lini belakang tampil cukup rapi, walau sesekali kocar kacir oleh serangan balik cepat yang dilakukan duet striker tuan rumah.

Masih betumpu pada ridwan dan pardi

Menerapkan pola kojo 4-2-3-1, penampilan pemain kemaren berbeda dengan apa yang ditunjukan ketika berhadapan dengan new radiant. Kali ini PERSIB benar-benar kesulitan menembus lini pertahan ayeyawady yang menerapkan permainan zonal yang lumayan oke.

Hasil evaluasi latihan, dimana PERSIB masih sering terburu-buru dalam melakukan serangan sedikit mulai hilang. PERSIB memang lebih sabar dalam membangun serangan.

Garis pertahanan ayeyawady yang dalam meyulitkan PERSIB mengembangkan perminan. Sebelas pemain ayeyawady sering berada di setengah lapangan untuk menunggu dan melakukan serangan balik.

Djanur kentara berharap pergerakan top 3 PERSIB cair dan fleksibel. Pertukaran posisi diperbanyak. Selain agar serangan akan lebih berimbang tidak hanya mengandalkan sayap kanan, permutasi posisi juga bisa menembus pertahanan sepenuh hati ayeyawady.

Namun kenyataanya hal tersebut tidak banyak terjadi. Serangan-serangan PERSIB masih bertumpu pada duet Pardi dan Haji Ridwan. Kondisi ini membuat aliran bola menjadi mandeg. Penguasaan bola menjadi terasa percuma. Bola hanya mengalir begitu saja tanpa arti. bahkan operan-operan yang dilakukan pemain PERSIB lebih sering diintersep lawan.

Gol yang dicetak oleh Atep berawal dari serangan di sisi kanan. Haji Ridwan memberikan operan kepada Tantan dan diteruskan kepada Atep yang tanpa kawalan mampu menjaringkan bola ke dalam gawang ayeyawady.

Gol Ayeyawady dan Kenangan Akan Sang Mantan.

Pertahanan PERSIB sebenarnya tidak buruk. Penampilan Toncip bisa dikatakan disiplin. Vlado malah seringkali menggagalkan peluang half chance fonseca. Hanya saja kinerja postif mereka tidak ditopang dengan penampilan duo poros halang yang joss.

Jupe beberapakali sempat balangah dalam penjagaan terhadap salah satu antara Riste dan Fonseca. Kalau Pardi mah maen normal seperti biasanya.

Bukan tanpa peluang, ayeyayawady beberapa kali mampu mengancam lini pertahanan PERSIB. Riste Naumov dkk mampu mengasilkan 12 tendangan, 2 diantaranya mengarah ke gawang dan 10 lainnya kamana wae. Hal ini tidak lepas dari celah yang dibuat Dado dan Mas Har karena terlalu jongjon ikut menyerang sehingga melupakan lini pertahanan yang seharusnya mereka jaga baik-baik.

Memanfaatkan kecepatan Striker mereka Edison Fonseca, ayeyawady berhasil membuat pertahanan PERSIB kocar kacir. Satu kesempatan serangan balik digunakan maksimal oleh tuan rumah. Menit ke 12 babak kedua, pertahanan PERSIB kehilangan fokus sehingga Hariono membuat blunder yang berhasil dimanfaatkan Edison untuk menyamakan kedudukan. 1-1.

Sungguh kemudian gol fonseca itu mengingatkan pada mantan yang telah lama pergi. Oh sergio, kamu jahat. Berapa banyak striker yang datang kemudian tak pernah bisa menggantikanmu.

Pergantian yang Kurang Efektif.

Babak pertama terlihat pressing dari PERSIB berjalan mulus, sehingga pada babak kedua habislah stamina para pemain. Kelelahan terutama terlihat di sektor poros ganda lini tengah. Poros tengah ini tidak mampu menyuplai bola dengan baik. Konate yang ditugaskan sebagai pengatur serangan terlihat kebingungan, umpan-umpan yang dilepaskannya kerapkali tidak menemui tujuan.

Berhasil disamakan 1-1, Djanur berupaya melakukan perubahan permainan dengan memasukan Utina menggantikan Dado. Demi kejar setoran gol kemenangan, Utina geber maju menemani konate sebagai gelandang serang. Praktek di lapangan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan pelatih. Umpan-umpan Bang Utina acapkali berhasil diintersep pemain lawan. Bang Utina membuat Hariono seringkali ditinggal sendirian sebagai poros halang.

Beberapa kali lini tengah PERSIB dapat dengan mudah ditembus, akhirnya janur memasukan Taufiq menggantikan Haji Ridwan, dengan maksud menemani Mas Har di bagian tengah. Kini Hariono tidak sendirian lagi. Sedikit terlambat karena masuknya Bang Utina dan Taufiq tidak lagi didukung oleh teman-teman lainnya yang sudah eungap maen papanasan. Terlihat muka-muka halabhab di atas lapangan.

Di penghujung laga Djanur kembali melakukan pergantian. Kali ini Tantan yang sangat kecapean ditarik keluar digantikan Yandi Sofyan. Yandi tidak dapat berbuat banyak, tidak ada peluang maknyus bagi Yandi. PERSIB tidak mampu menambah sebiji gol untuk memberi kemenangan. Walhasil PERSIB harus puas membawa pulang 1 point.

Epilog.

Kata Emral:

“Kami hanya dapat satu poin, tapi dari awal target kami hanya bawa poin ke Indonesia. Tapi setidaknya kami bisa dapat satu poin di away. Saya cukup senang dengan hasil ini,”

Well, sedikit kecewa dengan konpres Coach Emral. Konpres diplomatisnya mengesankan sudah puas. Duit yang terbuang banyak untuk mengakomodir adaptasi cuaca hanya diganjar poin sebiji.

Walau PERSIB masih dipuncak klaseman dengan 4 poin, masih belum berarti apa-apa, perjalanan PERSIB di AFC cup masih panjang. Di bulan mei nanti bisa saja kehilangan 2 poin ini PERSIB sesali, jika ternyata New Radiant dan Ayeyawady bisa menyusul poin PERSIB.

Hasil imbang di Yangoon juga mengecewakan bagi bobotoh. Melihat permainan. Babak pertama, finishing menjadi masalah utama PERSIB. Babak kedua, stamina dan konsentrasi yang jadi masalah. Penganuliran gol Vlado juga sungguh bikin méleg di dada. Tiga poin yang sudah di genggaman hilang begitu saja.

Latihan serius dan perbaikan tiada henti menjadi satu kewajiban untuk seluruh Jajaran pelatih, managemen dan pemain. secara kesulurahan PERSIB memang berhasil mendominasi permainan namun selalu kesulitan jika berhadapan dengan gaya permainan yang defensif seperti ini.

Babak kedua sekali lagi membikin luka. Dalam 2 pertandingan AFC Cup, 2 gol yang bersarang di gawang persib disebabkan karena besarnya celah yang dibuat kedua gelandang bertahan di babak kedua. Itu jajaran gelandang bertahan perlu diberi latihan yang membikin kesangan tepi ka kanjut-kanjut mang!

Sumanget SIB! Sapu bersih 4 pertandingan sisa…

#PERSIB #PersibGoesToAsia #SaveLordAtep

follow kami di twitter @stdsiliwangi

@bus @xuk @omz @iwn @dit

p.s. tanggal 18 mari kita birukan SJH lalajo lawan Lao FC.

credit photo: http://tealeafnation.com/

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart