Perancang Serangan Terbaik Se-Indonesia!

bincang-bincang headerLegenda mengatakan seorang Yusuf Bachtiar adalah perancang serangan terbaik yang pernah Persib punya sepanjang masa. Ikut membantu Persib meraih gelar juara terakhir perserikatan dan gelar juara pertama kali Liga Indonesia. Bagi kami, Yusuf Bachtiar benar-benar sebuah legenda, kami belum pernah menonton permainannya secara langsung.

Kemudian di masa-masa sulit Persib playmaker datang dan pergi. Beberapa digadang-gadang sebagai titisan Yusuf Bachtiar. Salah satu yang paling menjadi harapan Bobotoh adalah Eka Ramdani. Sejak kembali dari perjalanan mencari ilmunya, Eka langsung diberi posisi paling penting di lini tengah tersebut, dipercaya sebagai penerus utama Yusuf Bachtiar. Kemampuan umpan jauh milik Eka Ramdani super joss, kekuatan dan kecepatannya tendangannya pas. Urusan menendang bola mati juga oke. Kala berduet dengan Lorenzo Cabanas, lini tengah Persib bisa menyusun serangan dengan oke. Sayang, kita tahu bagaimana akhir kisah Eka Ramdani sang kapten Persib.

Terakhir kali Persib memiliki playmaker handal, melekat pada sosok Miljan Radovic. Atribut utama yang menempel pada diri Radovic adalah operan joss dan akurasi tendangan bola mati ditambah visi ciamik dalam menyusun serangan. Semua hal tersebut belum cukup membuat Djanur merasa puas, pemain berkebangsaan Montenegro ini masih dirasa kurang baik dalam bertahan sehingga Djanur lebih memilih mendepaknya dan menggantinya dengan Mbida Messi.

Lagi-lagi ternyata permainan Mbida Messi pun tidak dapat memenuhi ekspektasi seorang Djanur. Meskipun passing-passing serta gocekannya cukup yahut, kemampuan Mbida Messi dalam menyusun serangan masi belum membuat Djanur puas.

Pada sosok Konate lah peran playmaker impian Djanur terwujud. Sosok pemain no 10 yang sangat ideal.

Didatangkan satu paket bersama Djibril coulibally dari Barito Putera pada musim 2014, Makan Konate kini telah menjadi idola bagi bobotoh. Dua musim bergabung bersama Persib Bandung sudah 2 gelar ia persembahkan, Liga Super Indonesia 2014 dan Piala Presiden 2015, bagi klub kebangaan warga Sunda ini.

Lahir di Negara terbesar kedua di Afrika Barat 24 tahun silam, Makan Konate mengawali karir profesionalnya bersama salah satu klub elit Mali, Stade Malien, pada usia 17 tahun. Selama kurang lebih 2 tahun membela klub asal kota kelahirannya tersebut, pemuda asal Bamako itu memiliki caps sebanyak  22 kali dan menghasilkan 2 gol. Bersama Stade Malien ia berhasil mendapatkan 1 gelar prestis ketika berhasil menjuarai gelaran Malian Premiere Division, liga kasta tertinggi di Mali.

Usai menjuarai Malian Premiere Division Konate memulai perantauannya ke luar negeri. Tujuan pertama Konate adalah negara yang kini tengah didera konflik berkepanjangan, Libya. Bergabung bersama  AL Akhdar  Sport Club  Konate memainkan 11 pertandingan dengan mencetak 1 gol, kala itu gelaran  Libyan Primere League 2011 terpaksa harus dihentikan di tengah jalan karena adanya perang saudara yang menyebabkan terbunuhnya pemimpin Libya Moamar Khadafi. Konate pun harus pulang mengungsi kembali ke tanah kelahirannya.

Barulah di tahun 2012 Makan Konate memulai peruntungannya di Indonesia dengan menerima pinangan klub asal Riau, PSPS Pekan Baru. Seorang Mundari Karya yang pada saat itu menemukan bakat Makan Konate. Pada suatu sore ia berkunjung ke Stadion Senayan, menurutnya di sana memang banyak pemain-pemain asal Benua Afrika yang belum memiliki klub dan hampir setiap sore melakukan latihan di lapangan tersebut.

Seperti diceritakan goal.com, Mundari menuturkan: “saya waktu itu melihat Konate bermain di lapangan Senayan sore hari. Di sana memang suka banyak pemain-pemain Afrika yang belum punya klub dan menjalani latihan tiap sore di lapangan yang tanah” celotehnya.

Tak perlu berpikir dua kali baginya untuk langsung meminang pemuda kelahiran 10 November 1991 ini untuk menjadi bagian dari skuad PSPS musim 2012-2013. Gayung bersambut pinangan tersebut pun Konate terima dengan senang hati, dalam benaknya mungkin ia bergumam “tibatan aing teu boga kleub didieu, ningan tarima we maen jeung PSPS paduli kumaha engke gajih mah nu penting boga kleub heula”

Di kemudian hari memang menjadi kenyataan pembayaran gaji dari PSPS mandeg. Bersama klub yang bermarkas di Stadion Rumbai ini Konate berhasil menceploskan 6 gol dari 16 laga yang dimainkannya. Menjadikan Konate sebagai tulang punggung tim berjuluk Asykar Bertuah tersebut. Setengah musim saja PSPS menerima jasa Konate. Saldo rekening PSPS tidak cukup buat bayar jasa Konate, kesempatan ini diambil oleh Barito Putera.

Hijrah ke klub kalimantan Barito Putera  semakin melambungkan nama dan kemampuan Konate. Hingga akhir musim Liga Super 2013 bersama klub asal Banjarmasin tersebut Konate menampilkan permainan yang tak kalah ciamik. Total  6 gol berhasil ia jaringkan ketika berseragam kuning-kuning, padahal ia baru bergabung bersama Barito di paruh musim kedua Liga Super 2013.

Penampilan baik itu terendus oleh sang legenda Persib yang bertugas sebagai pelatih Persib Bandung, Mang Djajang Nurjaman. Sejak awal bergabungnya bersama Persib bandung Konate langsung menjadi pemain inti yang paling diandalkan Djanur. Setelah Sergio berpaling ke lain hati, jersey nomer 10 pun tanpa ragu diberikan kepada Makan Konate. Padahal, sejarahnya di era Wak Haji, selain Hilton, tidak ada pemain Persib yang bertahan lebih dari satu musim menggunakan Jersey no 10.

Tugas dari Djanur mampu ia jalankan dengan sangat baik. Tingkat akurasi operannya pun terbilang cukup tinggi, 42,7% per pertandingan. Kemampuannya meng-cover seluruh area lini tengah menjadi nilai tambah bagi Konate. Ketika Persib sedang berada dalam tekanan tak jarang Konate ikut mundur membantu pertahanan. Dari segi mental pun Makan Konate sangatlah baik emosinya tetap terjaga hingga pluit akhir dibunyikan, ini terbukti selama LSI 2014 Konate hanya menerima 3 buah kartu kuning dan belum pernah sekalipun menerima kartu merah dari kantung wasit.

Pentingnya Konate untuk Persib bisa dilihat dari total capsnya untuk Persib, di musim 2014 ia memainkan seluruh pertandingan yang dijalani Persib. Kemampuan mencetak gol nya pun luar biasa, menjadi top skor Persib dengan 13 gol dan 5 asist berhasil ia sumbangkan. Membuat kita terbantu move on dari Sergio Van Dijk yang sangat jago membobol lawan di musim sebelumnya.

Bersama Bang Utina dan Mas Har, Don Konate menjadi sosok sentral di lini tengah Persib Bandung. Permainannya sesuai dengan istilah Jendral lapangan tengah. Don Konate adalah bos yang menguasai seluruh pelosok lini tengah. Kemampuan mobilitasnya sangat tinggi, ditopang oleh kemampuan operan pendek dan panjang yang akurat dan visi dalam merancang serangan super joss.

Satu hal yang menjadi kelebihan utama dan senjata andalan Konate adalah kemampuan teknik nya dalam menggiring bola. Sering kali Persib diselamatkan dari tekanan ketat lawan karena Don Konate berhasil men-dribble bola melewati hadangan lawannya. Di final ISL 2014, duet Lim Joo Sik dan Gerard Pangkali pontang-panting mengawal Konate.

Dari seorang pemain tanpa klub di Lapang Senayan, Konate menjelma menjadi perancang serangan terbaik Indonesia di kesebelan juara liga Indonesia dalam kurun waktu 2 tahun saja.

Kini di usia nya yang baru menginjak angka 24 ia masi memiliki jalan yang panjang untuk meraih mimpinya bisa bermain bersama tim nasional mali, tentunya dengan permainan yang konsisten bermain dengan jersey kebesaran timnas mali bukan sekedar mimpi belaka. Sialnya, mungkin untuk mencapai cita-cita tersebut Konate butuh liga yang lebih besar dan lebih beres dari Liga Indonesia.

Selamat ulang tahun Makan Konate, bagi kami yang tidak pernah menyaksikan Yusuf Bachtiar bermain, Kamu adalah perancang serangan terbaik Persib sepanjang masa.

Terima Kasih, Don Konate!

@xuk @bus

follow kami di twitter @stdsiliwangi.

p.s. kami selalu terbuka pada masukan-masukan dan koreksi-koreksi pada tulisan kami. update revisi akan dilakukan jika memang ada yang salah atau perlu ditambahkan. nyungkeun bantosanna. nuhun.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart