Tiada Seuri di Segiri

Paling menyebalkan dari pertandingan kemarin adalah melihat tawa jumawa Iwan Setiawan dan selebrasi diri nya di gol kedua dan ketiga Pusamania Bangkalan FC. Sayang sekali karena permainan Persib menunjukkan bacot Iwan ada benarnya. Well, sebenarnya dari dulu taktik Djanur memang selalu begitu, perihal istimewa atau biasa-biasa saja yah tergantung hasil akhir, dan karena hasil akhirnya Persib kalah maka boleh lah dibilang taktik Djanur biasa saja dan memang benar sudah ketebak sama Iwan.

Iwan kentara tahu bahwa fullback Persib kalah cepat dari penyerang-penyerang miliki pbfc namun bakal tetap naif selalu memberi ruang untuk mereka berlari, makanya long pass dan umpan terobosan pbfc banyak. Iwan tau penyerangnya bakal punya kesempatan adu lari. Kata Djanur soal pbfc:

“Gol pertama karena kelengahan, gol ketiga juga kelengahan, mereka PBFC bisa manfaatkan kelengahan kita. Sudah prediksi, sejak awal Boaz bisa manfaatkan kesalahan kami,”

Djanur sudah prediksi tapi tidak bisa mengantisipasi. Proses gol kedua, liat betapa kencang lari Terens mengejar bola sampai ke garis ujung lapangan Persib, berhasil mencegah bola keluar lapangan, sisanya diselesaikan dengan sangat baik oleh Boaz, penyerang Indonesia paling berkelas. Gol ketiga juga sama, Toncip kalah adu lari. Padahal kalau Toncip mundur lagi sekitar 10 meter saja dan Tantan sigap menjaga jarak agar ruang diantara dirinya dan Toncip tidak terlalu lebar, Toncip tidak akan perlu untuk adu sprint. Tidak akan ada umpan silang haram jadah itu.

Taktik Djanur, apapun itu, kalah di pertandingan ini melawan Iwan Setiawan. Sebelum pertengahan babak kedua, pola serangan Persib selalu dimulai dari Made ke bek tengah, kemudian Agung akan meminta bola dari kedalaman itu. Setengah jam terakhir menjelang beres, tiba-tiba tingkat long kick Made bertambah sering! Dan hampir semua tendangan jauh itu gagal membangun serangan Persib! Dan hampir semua tendangan itu nyerong ke sisi kiri Persib, lokasi dimana Spaso tidak ngetem!

Gol ketiga bermula dari percobaan tendangan jauh Made yang ketiga ke sisi kiri, dua dari tiga percobaan itu bisa diintersep oleh Arpina, satu berujung gol Boaz. Perubahan awal mula serangan ini, apakah titah Djanur? Jika benar, kenapa mesti diubah padahal serangan dari bawah sudah sangat oke untuk Persib? Taktik?

Djanur terlalu naif membiarkan trio penyerang Iwan membully barisan pertahanan Persib. Memainkan Atep yang hampir sepanjang pertandingan tidak terasa kontribusinya adalah bukti lain kenaifan Djanur. Sebagai Kapten, Atep kurang menekan wasit Sukoco untuk berlaku adil, Ponaryo bisa maen kasar enjoy begitu dan Atep terlihat hanya sekali nyamperin wasit untuk protes. Sebagai flank kiri, Atep membiarkan Toncip hupir menahan serangan Arpina dan Pahabol kemudian.

Bila dibandingkan dengan Zulham di kanan, punten-punten ieu mah, Atep butut pisan dan sudah tamat. Ada momen ketika Zulham melakukan intersep bola pbfc di kotak penalti persib. Ada lebih banyak momen ketika Zulham merepotkan Diego Michels dan barisan pertahanan pbfc. Setiap membawa bola Zulham tidak pernah rusuh, padahal dia tahu kemampuan dirinya memungkinkan untuk melewati satu dua pemain lawan, tapi dia menekan hawa nafsu tersebut untuk memberi waktu kepada Spaso mempersiapkan diri dan Konate maju mencari ruang, sedang Atep kekeuh cicing di sisi kiri jauh dari Zulham. Mengatur serangan agar rapi sehingga peluang tercipta gol lebih besar, itu yang dilakukan Zulham berkali-kali.

Iwan “Jurig Ateul” Sukoco

Melihat Iwan Sukoco berat sebelah ngawasitan tadi malam, ia layak diberi gelar ontohod moyan, atah adol, dan jurig ateul! Berikut daftar keputusan Iwan yang membuat dirinya layak mendapatkan penghargaan Wasit Paling Goblog di Piala Presiden:

  1. Membiarkan Ponaryo maen tarkam sesuka hati tanpa ada niat memberi hukuman, sekedar peringatan juga tidak ada. Terjangan membahayakan Ponaryo kepada Spaso dan Konate bahkan lolos dari hukuman pelanggaran sama sekali.
  2. Dengan gampang wasit cipleu ini memberi kartu kuning untuk Vlado karena protes dan Mas Har karena tekel. Pelanggaran pertama Mas Har di pertandingan! Bagaimana bisa Ponaryo lolos dan Mas Har tidak? Kumaha pipikiranana protes lebih membahayakan daripada nerjang spaso dan konate?
  3. Menolak memberi penalti padahal bola tendangan Tantan berubah arah karena menyentuh tangan Diego di kotak penalti pbfc.
  4. Menghentikan pertandingan sebelum waktu tambahan habis. Edan pisan all out Sukoco buat pbfc.

Masih ada kesempatan di Soreang, tidak akan mudah tapi peluang terbuka lebar. Pekerjaan rumah bagi Djanur, akankah dia diakalin lagi oleh Iwan? Karena kemungkinan besar wasit di Bandung tidak akan segoblog Iwan Sukoco, semua jadi tergantung pada taktik Djanur.

Sampai jumpa.

Follow kami di twitter @stdsiliwangi

@omz @bus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Yang Lainnya