Wilujeng Dejan Antonic

bincang-bincang header

Akhirnya hawar-hawar Dejan Antonic menjadi suksesor Djanur menjadi kanyataan. Rebo tanggal 20 Januari 2016, ketika Bandung diguyur hujan nu awet, Dejan diperkenalkan kepada khlayak ramai sebagai pelatih kepala Persib terbaru.

Di persepakbolaan Indonesia Dejan bukanlah wajah asing, sudah mencicipi heurasnya sepakbola kita sejak dari jaman pemaen hingga menjadi pelatih. Karir Dejan sebagai pemain dan pelatih di Indonesia cukup joss meskipun belum menghasilkan tropi apapun bagi kesebelasan yang memakai jasanya.

Karier Mengbal

Nama Dejan Antonic mulai menggaung di era liga Indonesia ke 2, tahun 1996. Bersama Plamen Kazokov dan Sasho Kostov. Ketiganya merupakan pemain asing pertama yang dimiliki oleh persebaya Surabaya.

Di musim pertamanya di Indonesia Dejan hanya bisa membantu persebaya finish di posisi 7 klasemen akhir Divisi Utama wilayah timur. Persebaya teu tulus melangkah ke fase selanjutnya. Gagal bersama persebaya, di musim berikutnya Dejan melanjutkan petualangannya dengan membela persita tanggerang, kemudian pindah lagi ke persema malang, dan terakhir deltras sidoarjo. Tidak ada satupun dari klub itu yang juara.

Pada tahun 1998 bersamaan dengan force majeur karena Indonesia didera krismon, Dejan angkat kaki menuju Hongkong. Di Hongkong Dejan bergabung bersama klub divisi teratas liga Hongkong, Instan Dict FC. Di laga debutnya Dejan diturunkan ketika instan dict berhadapan dengan Yee Hope FC dalam laga semifinal FA Cup Hong Kong, meskipun tidak mencetak gol, Dejan berhasil manampilkan performa yang apik sehingga berhasil membawa Instan Dict Lolos ke final. Dejan gagal meraih gelar juara soalna Instan Dict eleh ku South Cina FC.

Keputusannya untuk melanjutkan karir di Hongkong merupakan keputusan yang paling tepat, disana karirnya semakin cemerlang. Tahun pertama di hong kong ia berhasil menyabet penghargaan The Most Fair Player, juga masuk ke dalam nominasi 11 pemain terbaik dalam ajang Hongkong Footballer Awards.

Tercatat 3 klub hongkong sudah ia bela dalam kurun waktu 6 tahun, diantaranya adalah instan dict, rangers, dan sun hei.

Pada tahun 2003 ketika persebaya terjerambab ke divisi 1, Dejan sempat kembali lagi berseragam Bajul Ijo. Kegagalan di musim pertamanya ia tebus dengan berhasil membawa persebaya juara divisi 1 sehingga berhak promosi ke divisi utama untuk musim 2004. Sebuah momen yang menjadi tonggak kebangkitan persebaya karena dimusim berikutnya persebaya langsung menjuarai divisi utama, tapi sayang Dejan tidak ikut merasakan manisnya gelar Divisi utama 2004 karena sudah caw duluan muleh ke hongkong.

Sekembalinya Dejan ke Hongkong pada tahun 2005, pria kelahiran 22 januari 1969 ini langsung ditunjuk oleh kitchee sebagai pelatih, tak hanya cemerlang sebagai pemain ia juga berhasil menunjukan kemampuannya meramu taktik.

Karier Ngalatih

Di tahun pertamanya sebagai pelatih ia berhasil mempersembahkan 2 buah gelar sekaligus untuk Kitchee, piala liga dan senior shield cup. Kegemilangannya ternyata masih berlanjut hingga musim berikutnya, pada tahun tersebut ia berhasil memepertahankan gelar piala liga. namun selama 3 tahun menukangi Kitchee tak pernah sekalipun Dejan meraskan manisnya gelar juara liga primer Hongkong, prestasi terbaiknya ketika ia berhasil mebawa kitchee finis di urutan kedua klasemen akhir liga primer hongkong musim 2006-2007.

Dinilai memiliki kemampuan yang cukup pada 2008 Dejan didapuk oleh federasi sepak bola Hongkong (HKFA) untuk menukangi timnas Hongkong. Tercatat hingga tahun 2009 Dejan hanya memimpin 4 pertandingan hongkong, dari 4 pertandingan tersebut Dejan menorehkan dua kali menang dan 2 kali kekkalahan, sialnya dua kekelahan yang dideritnya adalah dua laga kualifikasi piala asia. Akibat hasil buruk ini HKFA memutuskan untuk memecatnya.

Usai gagal bersama timnas hongkong dengan popularitas yang dimilikinya Dejan tak perlu menganggur terlalu lama, tawaran melatihpun langsung datang menghampiri, klub anyar TSW Pegasus langsung sigap menunjuk Dejan sebagai Manajer Tim & direktur Bidang perkembangan pemain muda. Namun tak bertahan lama bersama STW Pegasus.

Pada tahun 2010 Dejan memutuskan hijrah ke klub Tai chung selang setahun. Kemudian pada 2011 Dejan kembali berpindah klub, kali ini Taun Mun San jadi pelabuhan, namun disini Dejan hanya sempat menukangi 9 pertandingan saja karena pada 21 januari 2012 Dejan menandatangani kontrak berdurasi satu tahun bersama klub asal Indonesia arema malang, yang IPL bukan yang gagal 3 kali di semifinal, atau eta dua tim yang sarua?

Dejan menggantikan pelatih sebelumnya Milomir Seslija karena memiliki hubungan buruk dengan manajemen arema kala itu. Di awal kedatangannya di kota apel ini kemampuannya sempat diragukan karena di 9 pertandingan pertamanya Dejan hanya berhasil meraih 1 biji kemenangan, 2 hasil seri, dan 6 kali menderita kekalahan, namun seiring berjalan waktu Dejan mampu meyakinkan manajemen dengan serentetan hasil positif. Mang Dejan membawa arema finis di urutan ke 3 klasemen akhir Liga prima Indonesia 2011-2012, sementara di kancah asia Dejan berhasil meloloskan arema hingga ke perempat final AFC CUP. Langkah mereka terhenti setelah kalah dari wakil arab al etifaq dengan aggregat 4-0.

Usai menangani Arema Dejan sempat setengah musim melatih pro duta tapi datana poek. Hidup berlanjut, pada 19 november 2013 Dejan resmi menagani PBR. bersama pbr kualitas Dejan semakin terlihat mencrang dengan mengkombinasikan pemain ngora dan kolot. Dejan mencatatkan 12 kemenangan, 8 kali draw dan 9 kekalahan, torehan itu cukup untuk mengantarkan pbr ke semifinal ISL 2014.

dejanantonic.jpg

Melatih Persib, Melawan Bayang-Bayang Djanur

Tahun 2012-2013 sebetulnya Persib sempat melirik Dejan Antonic untuk menggantikan drago mamic, namun gosip itu hanya sebentar dan tidak terlalu di besar-besarkan media. Hingga akhirnya Persib lebih memilih Robi Darwis sebagai caretaker sebelum Daniel Roekito datang.

Dejan mewarisi beban berat dari Djanur. Sebagai suksesor mau tak mau Dejan akan dibandingkan dengan Djanur, salah satu legenda terbaik Persib sebagai pemain maupun pelatih. Djanur adalah seorang juara saat menjadi pemaen dan ketika sudah menjalani karier melatih. Dejan tidak pernah merasakan gelar juara sebagai pemaen, pun ketika melatih Dejan juga belum pernah mengantarkan kesebelasannya menjadi juara.

Selama melatih PBR, beberapa kali Dejan terlibat perang urat syaraf dengan Djanur. Pangpangna mah tiap PBR mau ketemuan dengan Persib. Djanur yang biasanya kalem dalam menghadapi psy war pelatih batur, kalau dengan Dejan mah suka kaciri embung eleh. Psy War Dejan ditagenan terus ku Djanur. Persib class of 2014 memang suka hupir kalau lawan PBR Dejan. Persib 2 kali eleh, sakali imbang dan sakali meunang hungkul.

Diangkatnya Dejan Antonic sebagai pelatih baru Persib sebetulnya memberi harapan baru kepada pemain muda Persib. Rekam jejak oke punya Dejan bersama pemaen-pemaen ngora terutama terlihat pada tahun 2014 ketika Dejan menukangi klub siluman magrib, Pelita Bandung Raya, yang tiba- tiba bijil datang ke Bandung.

Taktik Dejan

Sosok pelatih yang cukup reaksioner dan ambisius ini saat di PBR kerap menyertakan komposisi pemain tua-muda-tua dalam starting XI skuatnya. Mayoritas pemaen tua di barisan belakang, pemain muda di lini tengah, dan orang tua kembali menjadi andalan di lini depan.

Dari segi taktik, Dejan cenderung menerapkan sepakbola bertahan dengan pressing ketat, dibumbui serangan balik cepat dan sepakbola nagen, mbung eleh a la Balkan. Hal itu ditunjukan dalam setiap pertandingan terutama saat melawan tim kuat. Walhasil Persib pun pernah menjadi tumbalnya, bahkan Persipura pun dibuat kerepotan.

Urusan bertahan, PBR Dejan bisa mempraktekan dua jenis pertahanan dengan sama baiknya. Bertahan parkir Damri dengan 2 lapis pertahanan 4 pemaen, bisa juga dengan high press sejak di lapangan tengah. Formasi yang sering digeber Dejan memang 4-4-2.

Dibandingkan Djanur, Dejan memiliki lebih banyak variasi pola permainan. Dejan lebih berani mengutak-atik formasi, saat di PBR skema awal akrab dengan 4-4-2 dengan cepat bisa berubah menjadi 4-2-3-1 bahkan 5-4-1.

Well, belum tentu variasi ini lebih baik, lebih loba sih enya. Seperti pernah kami bahas, Djanur membutuhkan waktu evolusi selama 3 tahun sebelum akhirnya bisa bermain variatif. Bahkan untuk memiliki taktik B saja Djanur butuh menempa dulu pemahaman taktik kojo 4-2-3-1 serangan via kanan selama setahun lebih. Saking kekeuhnya Djanur beprinsip tidak ada taktik B sebelum taktik kojo khatam di luar kepala, Coach Raja Isa sampai bilang, “formasi Persib selalu template, begitu pula dengan serangan-serangannya yang selalu sama di tiap pertandingan.”

Apakah pemain-pemain baru nanti bisa merespon perubahan taktik dan formasi Dejan di tengah pertandingan? Kalau pemaen lama sih asal dari 4-2-3-1 jadi variasi Insya Alloh udah ngalaman digeder 3 taun ku Djanur.

Akan aman jika Dejan menggunakan dulu pola warisan Djanur, sampai pemaen inti sisa Djanur dan pemaen inti bawaan Dejan mendapat chemistry yang klop. Kuartet bek dijamin bakal kombinasi anyar, bermain 4-4-2 dengan kombinasi anyar bakal memberi beban tambahan bagi Mas Har dalam melindungi pertahanan. Biar tidak terlalu keeskpos itu bek-bek yang anyaran ngahiji.

Sulitnya adalah Mas Har sendiri sudah bertransformasi menjadi gelandang perebut bola di posisi yang tinggi, bukan lagi gelandang bertahan yang ngajedog depan kuartet bek. Mas Har butuh pendamping hidup di lini tengah. Menduetkan Mas Har dengan Kim Jefrey bakal membuka akses jalan tol bagi lini tengah lawan menyerbu pertahanan Persib.

Untuk menyerang, Dejan dan Djanur hampir sama menggunakan sayap sebagai jalur serangan utama. Wawan Febrianto mungkin akhirnya bakal maen untuk Persib. Tapi Febri Bow ge wanieun lah buat mengambil singgasana yang dulu dikekeuweuk sama Haji Ridwan. Di sisi kiri, David Laly cocoks buat membangkucadangankan Lord Atep.

Tapi kade, membangkucadangankan Lord disaat posisi Dejan pelatih baru bisa menimbulkan hal yang tidak-tidak. Siapa yang tahu kalau Lord bisa tiba-tiba berubah menjadi Markus Botak dan mengerahkan pemaen-pemaen pituin untuk mengkudeta Dejan.

Kunci kesuksesan taktik Dejan pada akhirnya bergantung pada dua orang asisten. Pak Yaya sebagai tangan kanan Djanur dan Darko yang dibawa Dejan. Pak Yaya bisa mengkondisikan agar pemain-pemaen lama dan Dejan bisa saling memahami, pemaen lama memahami kahayang Dejan, Dejan memahami karakter pemaen lama. Darko tugasnya menjembatani pemaen baru dan kahayang Dejan, juga pemaen eks klub Dejan yang datang ke Persib.

Tong hilap Mang Dejan juga perlu pdkt dengan Wak Haji. Secara kemampuan manajemen manusia, Dejan mungkin mampu, di masa-masa akhir PBR sebelum hijrah kota untuk kesekian kalinya Dejan berperan ganda sebagai manajer karena manajer PBR angkat tangan. Dejan mampu menjadi manajer-coach di endonsia. Tapi, secara kemampuan finansial Dejan eweuh nanaonan dibanding Wak Haji. Kami sih yakin duit masih jadi alat pengontrol motivasi yang tokcer di endonesia. Coba liat klub batur, bannerna oge in owner nu modol duit we trust, lain in coach nu ngalatih we trust.

Secara keseluruhan Dejan memang merupakan pelatih yang memiliki kualitas. Berbekal segudang pengalaman yang dimilikinya, diharapkan Dejan mampu meneruskan tradisi juara, meneruskan apa yang telah Djajang Nurjaman capai. Hanya bagaimana cara Dejan beradaptasi dengan gaya Uwak memanajeri tim, yang masih belum teruji.

Semoga Dejan bisa memberi angin segar buat Persib dan bobotoh dan kelak bisa muncul babasan Dejan Know best. ‘Minimal chemistry antar pemain heula weh kabentuk masalah meunang-eleh mah biasa’. Jangan berekspektasi lebih dulu buat bobotoh, kita kawal bersama kepeminpinan Dejan dengan segala kelebihan dan kekurangannya (edan geus jiga pilpres waeee). Akhirun kata, semoga Dejan tidak anti-kritik baik dari jajaran staff kepelatihan maupun dari bobotoh yang peduli terhadap Persib. Komo mun aya carita menhemen interpensyen mah ulah nepi. Hidup Persib!

@omz @xuk @dit @bus

Ingpograpik @win

Follow kami di twitter @stdsiliwangi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
×
×

Cart